🍃 35 - Sepucuk Surat dari Jiana

539 102 47
                                    

35 - Sepucuk Surat dari Jiana

Dengan bantuan Nana, Jihan bisa pulang ke Bandung tanpa perlu khawatir diinterogasi oleh kedua orangtuanya karena membawa koper besar. Nana mengajak kedua orangtuanya pergi agar Jihan bisa masuk ke rumah dan segera menyimpan kopernya di lemari.

Saat pintu lemari terbuka, hal pertama yang Jihan lihat adalah keberadaan kotak coklat berisi barang-barang Jiana.

Ia ambil kotak tersebut. Tanpa memperdulikan rasa lelahnya, ia kembali bersiap ke Jakarta. Tak lupa mengabari Nana terlebih dahulu.

Ada banyak pertanyaan yang ditanyakan Nana padanya, tapi Jihan memilih diam. Karena jawabannya hanya satu. Arkha sudah tahu siapa dirinya.

***

Gelas demi gelas Arkha minum dalam sekali teguk. Kesadarannya sudah hampir hilang, tapi ia terus melanjutkan minumnya.

"Kha, udah! Berhenti minum lo udah mabok!" Juan merampas gelas di tangan Arkha lalu menyimpannya di meja dengan kasar. Kesal sekali rasanya melihat keadaan Arkha yang kacau berantakan setelah kepergian Jihan.

"Gue mau minum, Wan!"

"Lo gak butuh minum, yang lo butuhin itu Jihan, bukan minum!"

"Shit!" Arkha mengumpat pelan. "Jangan sebut nama dia lagi di depan gue! Dia ... dia sama aja kaya adiknya! Dia nyakitin gue, Wan!"

"Bukan Jihan yang nyakitin lo, tapi lo yang nyakitin dia."

"Wan, dia---"

"Dia gak jujur kalau dia kakak kembarnya Jiana? Arkha coba lo pikir, Jihan penyakitan dari kecil, orangtuanya pisah terus Jiana dibawa mamanya sedangkan dia tinggal sama bokapnya. Mereka kepisah selama itu dan lo berharap Jihan bisa dengan mudah nyeritain adiknya ke lo? Kalian cuman nikah kontrak, gue rasa wajar kalau dia gak cerita ke lo, itu privasi dia."

"Tapi dia bikin Jiana ninggalin gue!"

Juan meremas rambutnya geregetan. "Lo yakin Jihan yang minta Jiana ninggalin lo?"

"Mamanya sendiri yang bilang ke gue, Wan!"

"Justru itu, Kha! Apa lo gak ngerasa janggal hah? Jiana itu anaknya, Jihan juga anaknya tapi mamanya bicara seolah hanya Jiana anaknya, dia bahkan dengan lantang nyebut Jihan pembunuh anaknya. Kha, kalau tante Yuri beneran ibu mereka, dia gak bakal ngomong kaya gitu soal Jihan."

"Lo gak tahu apa-apa, Wan! Lo gak tahu apa-apa soal Jiana! Lo gak tahu apapun soal mereka!"

"Terus lo tahu hah?!" Juan membentak Arkha. Temannya ini sangat keras kepala kalau sudah berurusan dengan masa lalunya.

Arkha kembali mengambil gelasnya membuat Juan kesal dan kembali merampas gelas itu dari tangan Arkha.

"Coba lo pikirin lagi apa yang bikin lo semarah ini?"

"Gue marah karena Jihan bikin Jiana pergi ninggalin gue!"

"Lo yakin marah karena itu?" Suara Juan terdengar serius. "Lo marah karena Jihan bikin Jiana pergi, atau lo marah karena Jihan nyembunyiin soal penyakitnya dari lo?"

"Gue ..."

"Atau justru lo marah karena Jihan dituduh sebagai penyebab kepergian Jiana?"

Arkha bungkam. Kepalanya sakit memikirkan semua ucapan Juan. Perasaannya sedang tidak stabil saat ini. Dua nama yang terus berputar di kepalanya membuat Arkha merasakan sesak itu semakin menghimpit dadanya.

Di satu sisi ia sudah nyaman dengan kehadiran Jihan. Tapi di sisi lain, ucapan Yuri dua hari lalu membuatnya marah dengan alasan yang tak jelas. Atau mungkin sebenarnya alasan kemarahannya sangat jelas, hanya saja Arkha yang menolak untuk mengakui kalau sebenarmya ia khawatir pada Jihan. Tapi rasa khawatirnya justru malah menyakiti Jihan lebih dalam lagi.

WGM 2 - (Bukan) Dijodohin -ft. ArkhaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang