Alarta Faith. Biasa orang-orang mengenalnya dengan panggilan 'Art'.
Personanya tak seunik namanya. Cenderung biasa saja. Sepanjang hidupnya, Art selalu menjadi ekor Scar yang membuntuti kemana pun Scar pergi. Hal ini Art lakukan semata-mata karena i...
Art membuka handphone-nya dan melihat bahwa jam masih menunjukan pukul 4 subuh. Namun, bandara tidak akan pernah sepi dan kita akan selalu bisa melihat banyak orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Entah penumpang yang berlari-lari karena hampir tertinggal jam terbang. Atau beberapa anak kecil yang bermain-main sembari menunggu orang tuanya mengurus urusan mereka agar bisa masuk ke dalam gate penerbangan.
Beberapa menit sebelum memasuki waiting room setelah melakukan check-in, ia telah melakukan salam perpisahan dan 'ritual' perpisahan dengan Mamanya dan juga sahabatnya, Ashley.
"Let me know kalau ada apa-apa. Kabarin ya kalau udah sampai," begitu kira-kira ucapan Ashley setelah mereka selesai berpelukkan, dan Art harus segera melakukan check in sebelum jam penerbangannya.
Ia selalu membenci tempat ini. Sudah berkali-kali ia sampaikan agar Ashley dan Mamanya tidak perlu mengantar dirinya ke bandara. Art tidak suka jika ia harus melakukan perpisahan di bandara. Itu membuat perpisahan tersebut semakin terasa pilu.
Art melempar pandangannya ke sekelilingnya. Waiting room gate 8A itu terlihat sangat sepi. Mungkin siapa juga yang melakukan penerbangan pagi menuju Kanada di bulan Agustus.
Ia hanya melihat segelintir orang berpakaian jas hitam nan rapih, yang bisa ia simpulkan akan melakukan perjalanan pekerjaan ke Kanada. Ada juga beberapa orang asing yang Art yakini merupakan warga negara Kanada yang akan kembali ke kampung halaman mereka itu.
"Hello. Passengers of flight 56T81 bound for Toronto, Canada please boarding from gate A8, and please have your boarding pass ready and make sure that you have collected all your carry-on baggage. Thank you."
Pengumuman yang disiarkan tersebut membuyarkan lamunan Art yang sedang tertegun memperhatikan beberapa pesawat yang berlalu-lalang yang ia bisa lihat dari jendela kaca besar tepat di depan tempat duduknya.
Ia pun menarik dirinya, dan mulai merapihkan lalu mengecek ulang barang-barang yang ia bawa.
Art pun berdiri dan mengambil handbagnya lalu berjalan menuju meja sebelum akhirnya masuk ke dalam lorong menuju pintu masuk ke dalam pesawat.
Art sempat merasakan keraguan yang datang entah darimana, meragukan kembali apakah ini merupakan keputusan yang tepat. Namun, ia meneguhkan hatinya sekali lagi, "See you really soon, Scar."
🎨
30 jam total waktu penerbangan hingga akhirnya Art bisa menginjakkan kakinya di bandara Internasional Pearson Toronto.
Art menghabiskan banyak waktunya untuk tidur di pesawat. Ia sengaja membawa beberapa buku untuk ia baca selama penerbangan, namun membaca di pesawat hanya membuatnya sakit kepala.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain makan, tidur, dan mendengarkan musik. Bahkan untuk menonton film saja matanya tak sanggup.
Mungkin ini yang dinamakan jet lag.
Art berjalan menuju tempat pengambilan bagasi untuk mengambil kopernya. Setelah menemukan dan mengambil kopernya, ia pun berjalan keluar dari gate. Ia melihat banyak sekali orang-orang yang telah menunggu kepulangan orang yang mereka sayangi disana.
Namun, Art tidak memiliki siapa pun untuk menyambut kedatangannya ke Toronto.
Ia pun terus berjalan keluar dan memutuskan untuk mampir di salah satu kedai kopi yang berada di dekat pintu keluar bandara.
Sebelum akhirnya ia melihat sosok yang sangat ia kenali itu. Sedang berdiri, melihat ke kiri dan kanan, seolah sedang mencari seseorang. Art memicingkan matanya untuk memastikan apakah benar sosok itu sesuai dengan dugaannya.
Lengkuk bibirnya pun bergerak ke atas dengan cepat saat setelah ia benar-benar yakin dengan siapa sosok laki-laki tersebut.
"Scar!" panggilnya dengan penuh semangat.
Namun, dikarenakan jarak mereka yang cukup jauh, dan juga banyak manusia yang berlalu-lalang di daerah pintu keluar; panggilannya pun tak tersampaikan.
Pantang menyerah, ia pun meneriaki nama laki-laki itu lagi, "Elkan Scar!" kali ini dengan nama lengkapnya.
Masih tak membuahkan reaksi apa pun dari laki-laki bernama Scar tersebut, akhirnya Art memutuskan untuk berlari menghampirinya.
Dengan senyum yang lebar, ia pun berlari kecil menghampiri sosok laki-laki bertubuh jangkung itu.
Sebelum akhirnya ia melihat seorang perempuan keluar dari gate kedatangan di sebelah kanan, lalu berlari ke arah sosok laki-laki yang sedari tadi ia panggil itu.
Pelukan pun langsung disambarkan oleh perempuan tersebut kepada laki-laki bernama Elkan Scar itu. Art menghentikan larian kecilnya. Kakinya yang tadinya sangat bersemangat untuk berlari, seketika melemas.
Dua sosok yang berjarak tak jauh darinya itu masih mendekap satu sama lain dalam rengkuh pelukan tangan mereka sambil tersenyum lega dan bahagia.
"1-0, Alarta Faith kalah lagi ke sekian kalinya." ia merutuki dirinya secara perlahan. Ia tersenyum, namun ia tak tahu apa arti dari senyum tersebut.
Rasanya aneh. Ketika kita tak merasakan sedikit pun percik rasa kebahagiaan, namun kita masih bisa tersenyum. Seolah, kita telah membohongi dunia. Membohongi diri sendiri.
The never-ending ache of love and sorrow. Perhaps in some other life, I am her. —Alarta Faith
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎨
Hallo semua. Kritik dan saran sangat kubutuhkan untuk membuat kalian, para pembaca, lebih nyaman dan bisa semakin menikmati karyaku. Jika menyukainya, bisa tekan simbol bintang di bawah ini ya. Terima kasih banyak <33