Alarta Faith. Biasa orang-orang mengenalnya dengan panggilan 'Art'.
Personanya tak seunik namanya. Cenderung biasa saja. Sepanjang hidupnya, Art selalu menjadi ekor Scar yang membuntuti kemana pun Scar pergi. Hal ini Art lakukan semata-mata karena i...
Bodohnya Art yang mengharapkan kalau Scar akan muncul secara tiba-tiba dan sengaja memberikan dirinya sebuah kejutan. Sedangkan, nyatanya, ia tidak mengabari Scar apa pun, atau bahkan memberi tahu Scar kalau dirinya akan pergi ke Toronto.
Kalau sudah begini, siapa yang harusnya disalahkan? Art yang terlalu berharap? Atau Scar yang kurang peduli?
Art menarik kopernya sambil berusaha menstabilkan langkah kakinya yang sudah mulai sempoyongan karena ia telah berjalan kaki sejauh 10 kilometer untuk menuju airbnb-nya.
Ia menyeka bulir-bulir keringat yang mulai berjatuhan di pelipisnya. Ia memperhatikan sekitar, lalu membuka handphone-nya untuk memastikan apakah ia berada di rute yang tepat.
Karena kebingungan dan kurang familiar dengan daerah tersebut, Art pun memutuskan untuk bertanya kepada orang disekitar situ.
Namun, sialnya, karena airbnb ini berada di sebuah gang kecil, jarang ada orang yang berlalu-lalang.
Ia menyisip kopi yang ia pegang di tangan kirinya. Lalu memutuskan untuk menunggu dan bertanya kepada orang pertama yang berjalan melewati jalan ini.
Setelah hampir sepuluh menit, seorang laki-laki dengan hoodie berwarna biru tua dan headphones yang terpasang di kedua telinganya pun melewati Art yang masih menunggu.
Sontak, Art menghampirinya dan menyentuh pundaknya secara perlahan untuk menghentikannya.
Sambil tersenyum, Art pun berkata "Hey, I'm truly sorry for bothering you. Can you please help me find this place?" (Hey, maaf sekali karena mengganggumu. Bisa minta tolong untuk membantu saya mencari tempat ini?) Art menunjukan foto beserta alamat air bnb-nya yang ada di handphone-nya tersebut.
Laki-laki itu pun langsung melepaskan headphonesnya dan melihat ke handphone Art. Ia tidak menunjukan reaksi mau pun ekspresi apa pun.
Ia hanya menjawab ucapan Art dengan anggukan dan "I know the place. Follow me," (Aku tahu tempatnya. Ikut aku,)
Dengan cepat Art mengambil kopernya yang ia taruh di pinggir jalan lalu menariknya sambil mengikuti laki-laki tersebut.
Tak sampai 5 menit, akhirnya Art sampai di depan air bnbnya itu. Ternyata, tempatnya berada di ujung gang menuju jalan besar. Rutenya lumayan membingungkan, namun ia sangat berterimakasih kepada laki-laki yang sudah mau bersedia membantunya.
Mereka masuk ke dalam, dan Art langsung disambut oleh seorang resepsionis wanita yang sepertinya umurnya tidak jauh berbeda dari umur Mamanya.
"Welcome! You must be Alarta Faith," sambut resepsionis yang Art yakini merupakan pemilik air bnb tersebut.
Art menjawabnya dengan anggukan dan senyum. Ia masih merasa sedikit canggung dan harus beradaptasi dengan lingkungannya saat ini.
"Did Arlo helped you to get here? The route is kinda confusing isn't it? I'm glad you met Arlo." (Apakah Arlo membantumu menuju ke sini? Rutenya memang lumayan membingungkan. Untung kau bertemu dengan Arlo.) ucap wanita paruh baya itu dengan penuh semangat sekaligus nada lega.
"Arlo...?" gumam Art bingung tidak mengetahui siapa itu Arlo. Atau mungkin—
"I'm Arlo." suara bariton itu tiba-tiba turut ikut campur dalam perbincangan. Art menoleh, masih menemukan laki-laki berhoodie biru tua itu duduk di sofa yang ada disana
Art pun mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mengerti dan sekarang sudah mengetahui nama laki-laki yang membantunya itu.
"Alarta, here's your room key. Your room number is 212. It's on the second floor." (Alarta, ini kunci kamarmu. Nomor kamarmu adalah 212, dan berada di lantai dua.) kata wanita paruh baya itu sambil menyerahkan kunci kamar air bnb milik Art.
"Oh, you can just call me Art." sergah Art yang tidak biasa mendengar orang memanggilnya dengan panggilan 'Alarta'.
Perbincangan sambutan penghuni baru dengan sang pemilik air bnb pun akhirnya selesai. Art sudah tidak sabar untuk membuka sepatunya dan merebahkan seluruh tubuhnya yang hampir remuk ke atas kasur nan empuk yang sudah menunggunya sedari tadi.
Belum ada 10 menit setelah Art menenggelamkan tubuh dan wajahnya di kasur miliknya itu. Handphone-nya bergetar, menandakan bahwa ada yang menghubunginya melalui pesan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎨
Hallo semua. Kritik dan saran sangat kubutuhkan untuk membuat kalian, para pembaca, lebih nyaman dan bisa semakin menikmati karyaku. Jika menyukainya, bisa tekan simbol bintang di bawah ini ya. Terima kasih banyak <33