16 - Slipped Away

18 6 0
                                    

Atau mungkin, memang sejak awal bukan dirinya yang menjadi alasan Art untuk menetap.

p

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

p.s: listen to august and last kiss by taylor swift while reading this chapter. enjoy reading, lovess! <33

🎨

"Kalian tahu apa kombinasi makanan yang paling enak?" tanya Art kepada tiga orang yang berada di hadapannya saat itu.

"Ayam barbeque dengan telor dadar dihidangkan dengan nasi panas!" jawab Art yang dibalas dengan suara kekecewaan tiga orang temannya itu.

"Harusnya lu ganti telur dadarnya dengan mashed potato. Itu pasti akan jauh lebih enak." protes Ashley yang tidak terima dengan selera makan sahabatnya itu.

"Jadinya steak dong? Itu merusak citra rasa makanan rumahan tau!" protes Art juga tak mau kalah.

"Kali ini aku setuju dengan Ash." ucap Poems memilih sisi.

"Gua juga." sahut Scar masih disibukkan dengan tugas-tugas di layar laptopnya itu.

Art berdecih, "Kalian semua seleranya mahal!"

Ashley, Poems, dan Scar pun tertawa ketika melihat wajah cemberut Art yang tidak terima bahwa selera makanannya tidak disetujui dan diprotes oleh mereka bertiga.

🎨

Matahari pagi mulai menyelip melalui celah dari tirai yang sedikit terbuka itu. Dengan penuh usaha dan melawan kemalasannya untuk beranjak dari tempat tidur, akhirnya Art membuka seluruh tirainya agar sinar matahari pagi bisa menyinari seluruh ruangannya.

Hari-hari ini tidak mudah baginya. Ia dihantui dengan perasaan bersemangat, takut, khawatir, serta diiringi dengan harapan-harapan yang selalu ia kumandangkan dalam doa setiap malamnya. Pengumuman penerimaan Youth Volunteer UN Canada.

Setiap harinya, ia bangun dengan perasaan tak karuan. Bingung. Apa yang harus ia lakukan hari ini? Apa yang akan ia capai hari ini?

Setelah selesai melakukan training, Art pikir kehidupannya akan lebih santai. Namun, ia sempat lupa bahwa belum tentu ia diterima oleh UN Canada untuk menjadi salah satu youth volunteer mereka.

Ia sempat merasa tidak ada gairah untuk melanjutkan hidupnya. Singkat kata, ia suntuk. Ia rindu rumahnya. Ia rindu Mamanya. Ia rindu Ashley. Ia lelah.

Ketika ia merasa lelah, ia selalu mengingat kilas balik perjuangannya untuk bisa mengikutu program training youth volunteering di Kanada ini. Ia tidak boleh menyerah begitu cepat.

Toxic Positivity.

Seharusnya dalam kisaran minggu ini, ia sudah mendapatkan email dari UN Canada mengenai penerimaannya. Belum sampai beberapa menit setelah memikirkan hal tersebut, ponselnya berdenting, menandakan ada notifikasi yang masuk.

When Scars Become ArtTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang