Alarta Faith. Biasa orang-orang mengenalnya dengan panggilan 'Art'.
Personanya tak seunik namanya. Cenderung biasa saja. Sepanjang hidupnya, Art selalu menjadi ekor Scar yang membuntuti kemana pun Scar pergi. Hal ini Art lakukan semata-mata karena i...
They slipped briskly into an intimacy from which they never recovered.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Art menyantap makan malamnya itu dengan penuh bersyukur. Kapan lagi lidahnya akan merasakan kemewahan jika bukan di perjamuan makan malam ini. Ia sangat menikmati segalanya. Terkecuali perasaan gundah yang sudah menghantuinya beberapa menit ini. Ia merasa diperhatikan. Seolah ada bibir yang berbisik mengenai dirinya di belakangnya.
Ia berusaha berbaur dengan representatif lainnya. Namun, perasaan itu tak kunjung pergi. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke toilet untuk sedikit menenangkan pikirannya dan jantungnya yang berdebar begitu kencang. Entah ini hanya perasaannya atau memang sesuatu yang buruk akan terjadi.
Setelah menenangkan diri dengan mengatur pernapasannya selama beberapa menit di toilet. Art pun memutuskan untuk kembali ke mejanya. Kemungkinan acara penutup sudah akan dimulai. Ia tidak boleh melewati bagian itu. Bagian itu adalah bagian dimana programnya akan diucapkan oleh beberapa petinggi UNICEF. Ia datang demi bagian itu.
Bahkan sebelum sampai ke depan pintu aula dimana acara makan malam itu diselenggarakan, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ini aneh. Orang itu memanggil nama panggilannya. Nama yang hanya diketahui oleh orang-orang yang mengenal dirinya. Siapa gerangan? Pikirannya mulai berkecamuk dan bertanya-tanya. Ia ragu untuk menoleh. Ia tidak siap menemui siapa yang akan ia lihat jika menoleh ke belakang.
"Art?" panggil orang itu sekali lagi. Suara baritonnya bak petir yang menggelegar di telinga Art. Detik pun seolah berhenti berdetak. Art bisa mendengar degup jantungnya dengan sangat jelas seakan-akan suara-suara lainnya sayup terbawa dimensi. Sungguh, Art sangat tidak berharap untuk mendengar suara itu lagi.
Art pun mengambil nafas yang dalam sebelum akhirnya menoleh. Ia berusaha tersenyum, "Well, hello Scar."
Netra hitam Art pun langsung tertarik dengan dasi yang terikat rapih dibalik balutan jas abu-abu tua itu. Ia pun tersenyum simpul, "You can knot your necktie by yourself now."
Scar pun tidak menanggapi hal tersebut dan langsung berkata "About our conversation last time—" Masih terbesit sedikit rasa bersalah dalam benaknya.
Air muka Art dengan cepat langsung berubah.
"Cut it out, Scar." ucap Art dengan cepat memotong ucapan laki-laki berkacamata di depannya itu. Ia sudah tahu apa yang akan ia lontarkan. Art tidak sanggup menjawabnya.
"We're best friends. And it will remain so." lanjut Art mempertegas ucapannya yang sebelumnya.
Laki-laki yang berdiri tepat di depannya pun tertawa sarkas seolah meremehkan dan meledek ucapannya barusan. "I confessed. Apakah pertemanan kita akan tetap sama?"
"... Yes. I hope."
"Kenapa, Art? Kenapa?" tanya Scar yang mulai putus asa karena perempuan di depannya tak kunjung bergeming dan seolah tidak peduli sama sekali perihal masalah mereka yang tak kunjung selesai.