Sam berjalan melewati gerbang dengan santai. Matanya melirik ke arah sekumpulan orang.
"Apa ada hal mengejutkan lagi?" Gumamnya dia berjalan mendekat dan menyingkirkan beberapa orang.
Dia berdeham saat melihat kardus yang berjejer rapi.
"Ada apa?. Kemarin kan tidak hujan" tanya Sam sambil melihat ke arah siswa yang ada di sisinya.
" Kau tidak tahu?. Kemarin sepertinya ada seorang penjahat ah bukan maksudku sekumpulan penjahat bertarung disini. Jadi polisi sedang membereskan mayat dan menyelidiki kasus ini" Sam mengangguk dia memilih untuk pergi dari sana. Untungnya saja dia sudah menghilangkan barang bukti.
"Selidikilah, aku penasaran apakah kasus ini akan membawaku ke penjara" lirih Sam sambil berjalan me nuju toilet untuk merokok.
"Oh tuhan, SAM SAM!!" Sam berbalik saat mendengar namanya dipanggil.
" Kukira kau keluar semalam untuk membereskan mayatnya" bisik gio. Sam mendorong bahu gio agar menjauh darinya dan kembali berjalan menuju toilet.
"Astaga anak ini. Kau tahu hal ini pasti akan menjadi kasus pertama yang dimiliki hernia" Sam menghentikan jalannya kemudian memajukan kepalanya dan berbisik di telinga gio.
" Itu bagus, setidaknya sekarang hernia punya satu kasus bukan?. Tidak ada yang sempurna di dunia ini gio.. jadi aku senang dengan adanya kasus ini"
"Gila kamu, bagaimana kalau hernia tahu ini ulahmu?!" Kesal gio, Sam memutar bola matanya dan mendorong muka gio ke belakang.
"Masuk ke kelas, jika ada dosen tolong bilang aku sedang merokok"
"Oke, aku akan bilang begitu!!" Ucap gio lalu memutar arah dan menuju ke kelasnya sedangkan Sam masuk ke salah satu bilik toilet dan menyalakan rokoknya.
"Huh" Sam menghembuskan asap rokoknya sambil memejamkan mata.
"Hei!!" Sam mengumpat saat seseorang berteriak dan menggedor pintu toilet yang dia tempati.
"JANGAN MEROKOK DASAR BAJINGAN GILA!!"
/BRAKKK/ Sam menendang pintu toilet itu lalu melanjutkan kegiatannya.
"AKU AKAN MELAPORKANMU!!" Sam menghembuskan rokoknya sebelum akhirnya membuang sisa rokoknya ke closet.
" HEUM??..KAU BILANG MAU NGELAPORIN? SILAHKAN TAPI AKU RAGU BISA SAJA SEBELUM KAMU KELUAR, KAMU YANG MATI DISINI LEBIH DULU" ucap Sam dia melirik ke arah sabun cuci tangan. otaknya berpikir untuk menusuk mata pria itu dengan ujungnya yang lancip namun dia urungkan karena bisa saja pria itu teriak dan Sam tidak sempat menghilangkan barang bukti.
"PEMBUAL!!, KAU PIKIR AKU AKAN TAKUT--HMMPPPP" Sam mencengkram kuat pipi pria yang daritadi mengganggunya. kukunya yang memang sengaja belum di potong dia tancapkan hingga pipi pria itu mengeluarkan darah.
"Lebih baik kau yang keluar dan tutup mulutmu itu. Ah..atau kau mau lidahmu kupotong disini?. Sekedar informasi aku suka mengoleksi mata lidah dan tangan manusia" pria itu menggeleng dia mencoba melepaskan cengkraman Sam namun gagal.
"Tunggu.., ini ada hadiah untukmu"
"AKHHHHHHHH!!!!!" Pria itu berteriak saat Sam menusuk mata pria itu dengan kukunya.
Semua orang yang berada dekat dengan toilet dengan cepat berdatangan. Sam mendengar langkah kaki kian mendekat lalu dengan cepat memeluk pria yang masih menutupi matanya yang mengeluarkan darah.
"Oh tuhan!!! TOLONG SIAPAPUN TOLONG!!!" Sam berteriak dia mengubah raut wajahnya menjadi sedih air matanya keluar seolah olah menyaksikan hal yang menyedihkan.
/BRAKKK/ pintu di dobrak banyak orang yang masuk lalu menutup mulut mereka saat melihat ke adaan pria yang dipeluk Sam.
"Oh tuhan.."
"APA YANG TERJADI?!!"
Sam menggeleng seolah tidak tahu apapun, dia memeluk erat pria itu lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu.
"Jaga rahasia ya" pria itu tidak bisa menjawab karena rasa sakit yang luar biasa.
"Security...aku..aku tidak tahu tiba tiba aku mendengar suara perkelahian dan saat aku datang dia sudah begini aku melihat pria yang menyakitinya kabur..dia menuju gerbang belakang oh tuhan temanku" Sam kemudian menjelaskan dengan air mata yang terus bercucuran tangannya bergetar seolah merasakan takut yang luar biasa.
"Astaga...kamu akan telepon ambulan, nak bersihkan darah yang ada di tanganmu hei..kau bawa dia ke ruang kesehatan" seorang mahasiswa yang ditunjuk pun mengangguk dia membantu mengangkat Sam yang berpura pura lemah.
"Oh..astaga maaf kakiku lemas, tadi sangat menakutkan" pria yang sedang memapahnya tersenyum saat mendengar ucapan Sam yang hampir merosot.
"Anda pasti trauma" Sam masih mengeluarkan air matanya seolah dia benar benar merasa sedih karena kejadian pria itu.
Sementara Sam yang sangat totalitas bermain peran. Selina yang kini berada di ruang kesehatan karena kakinya kram setelah olahraga menatap takut ke arah Sam.
"Oh?...Selin kau kenapa??" Tanya pria disamping Sam. Pria itu memapah Sam dan mendudukannya di ranjang samping Selina.
"Ah...kakiku kram" tubuh Selina bergetar saat merasakan hawa dingin di punggungnya.
"Loh??, Pasiennya jadi dua orang??" Ucap suster yang baru saja datang setelah membawa handuk dan air hangat.
"Apa keluhanmu nak??" Tanya suster itu setelah menyimpan barang bawaannya di nakas dekat ranjang Selina.
"Mungkin dia shock karena melihat temannya di serang" jelas pria yang membawa Sam.
"Oh astaga... Hei kamu coba bersihkan darahnya aku akan menyeduh teh agar dia nyaman " suster itu berjalan menuju ruang di sebelah. Sedangkan pria tadi memapah Sam ke tepat cuci tangan.
"Kau bisa pergi..terimakasih sudah mengantarku" ucap Sam saat dia sudah kembali berbaring di ranjang.
"Baiklah, sebaiknya kamu hati hati saat pulang. Entah kenapa keamanan di hernia kini menurun hingga bisa terjadi hal menakutkan akhir akhir ini" Sam mengangguk. Dia menahan tawanya supaya tidak ada yang curiga.
"Ini dia...Selina kamu juga minum teh ini supaya perutmu cepat sembuh lalu kompres pake air hangat ya" Selina mengangguk lalu menerima teh yang diberikan suster lalu meminumnya begitupula dengan Sam.
"Baiklah, sekalian kalian hanya perlu tidur tidak usah khawatir, dosennya masih jarang masuk kalau masih awal kaya gini. Saya pamit dulu soalnya mau sarapan" pamit suster itu lalu segera keluar dari sana.
Selina dengan susah payah menelan teh yang diminumnya dia ingin sekali keluar dari sana, tapi perutnya tidak mau bekerja sama. Akhirnya dia berbaring dan menempelkan handuk hangat di perutnya.
"Kau dengar ucapan pria tadi??" Selina yang sudah menutup matanya terpaksa membukanya lagi.
"Apa?, YaNg..ekhem yang mana?" Tanya Selina dia merasa tengorokannya kering padahal baru saja minum.
"Dia bilang aku harus berhati hati. Padahal aku lah pelakunya haha lucu bukan astaga" Selina memilih untuk tersenyum kaku lalu memejamkan matanya lagi.
"Jika seseorang tertusuk sesuatu di matanya apakah dia bisa buta??" Tanya Sam. Selina menggeleng tidak tahu.
"Mungkin bisa, tapi kenapa tiba tiba??"
"Aku menusuk matanya dengan kukuku. Itu sangat berair ukhh menjijikan "
"Ah..sepertinya aku sudah baik baik saja. Aku duluan ya" Selina merasa takut saat ini.
"kau mau kemana??. Ah ngomong- ngomong Ruangan ini tidak punya cctv. Sama seperti kamar mandi, disini ada pisau ada jarum dan benda tajam lainnya. Jika aku membunuhmu disini aku tinggal berakting sepeti tadi kan??" Selina menghentikan langkahnya yang hendak turun dari ranjang saat mendengar ucapan Sam.
"Kau akan membunuhku??" Mata Selina berair dia benar benar takut.
"Entahlah..haruskah aku melakukannya??"
"Tolong jang-AKHHHHH!!!"

KAMU SEDANG MEMBACA
The Joker & The Queen [ End ]
FanficThe road that was broken Brought us together A.N inspired by : the Joker and the Queen- Ed Sheeran Cover: dibuat di PicsArt+ibis