Selina merasa sangat tidak tenang. Dia mengerjakan soal ujian terakhir seperti biasanya namun pikirannya tertuju pada Sam. Akhirnya di memutuskan untuk menemui Sam di rumah yang kemarin, mungkin saja dia ada disana.
"Oh Selin, halo" Selina agak kecewa saat melihat yang membuka pintu adalah gio.
"Hai gio, Sam ada?" Gio menggeleng selama beberapa Minggu ke belakang Sam tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah sewa milik gio.
"Aku harus pergi menemui Ryn sekarang, maaf tidak bisa membiarkanmu masuk" Selina mengangguk, namun dia agak heran saat mendengar ucapan gio.
"Menemui Ryn?, Ada apa?" Tanya Selina. Gio sedikit tersenyum.
"Aku bekerja padanya, tolong rahasiakan dari siapapun" Selina mengangguk lalu pamit dari sana.
Dia hendak masuk ke dalam mobil jika saja dosen wali selina tidak memanggilnya.
"Selin, ini tentang Sam" sudah Selina duga bahwa ini pasti tentang Sam.
"Saya sudah mencari dia di rumah temannya tapi dia tidak ada" dosen walinya menggeleng. Bukan karena itu dia menghentikan Selina.
"Sam...kudengar dia melakukan percobaan bunuh diri" jantung Selina terhenti sebentar. Sam? Sam yang itu? Sam yang dulu mencekik dia sebelum menghilang?.
"Dia meninggal?" Suara Selina agak bergetar rasa sesal mulai muncul karena dulu dia hanya diam.
Wali dosennya kembali menggeleng. Selina sedikit bernapas lega.
"Untungnya mereka menemukan Sam dengan cepat. jika tidak mungkin Sam tidak akan selamat" Selina mengangguk, dia berpikir apa gio sudah tahu?.
"Hari ini aku akan mengunjunginya, tapi mobilku mati jadi bisakah kau berikan aku tumpangan?" Selina dengan cepat mengangguk dan membiarkan dosen walinya masuk lebih dulu lalu disusul olehnya.
"Nona, kita pergi ke mana?" Tanya sopir Selina. Selina menatap dosen walinya.
"Rumah sakit aciel" sopir Selina mengangguk lalu dengan kecepatan penuh menuju ke tempat yang di tuju.
"Terimakasih Selina, kau mau ikut?" Tanya dosen walinya saat mereka telah sampai di rumah sakit. Selina mengangguk lalu mereka sedikit berlari ke ruang gawat darurat.
"Ah..itu dia" Selina melihat pria yang Sam bilang sugar Daddynya.
"Terimakasih banyak telah menghubungi saya. Saya sudah bernegosiasi dengan rektor hernia. Beliau setuju untuk tetap membiarkan Sam mengikuti ujian susulan jika kondisi mentalnya sudah stabil" Miller merasa sedikit tenang mendengarnya. Dia berniat untuk membunuh rektor jika Sam tidak bisa ikut ujian susulan syukurlah ini bisa diselesaikan dengan baik.
Miller menatap Selina yang bergerak tidak nyaman. Dia tersenyum ke arahnya.
"Namamu siapa?" Dosen wali Selina menarik Selina agar lebih dekat dengannnya.
"Ah..saya Selina, salam kenal" Selina membalas pertanyaan Miller dengan agak canggung.
"Selina, kau bisa tunggu disini dan ambil catatan medis milik Sam nanti?. Ibu harus pulang karena anak ibu sedang sakit" Selina hendak menolak namun dia urungkan.
"Baik ibu, nanti ibu pulang naik mobil Selina saja" dosen walinya tersenyum sebenarnya dia tidak tega membiarkan Selina menunggu tapi anaknya juga sedang demam sehingga terpaksa harus meminta bantuan.
"Nanti ibu yang akan bilang pada orang tuamu dan sopirmu" Selina tersenyum canggung. Lalu menggeleng, jika orang tuanya tahu mereka pasti marah.
"Baiklah, kalau begitu ibu pamit. Duluan pak permisi" Selina menatap dosen walinya yang semakin menjauh dari pandangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Joker & The Queen [ End ]
FanfictionThe road that was broken Brought us together A.N inspired by : the Joker and the Queen- Ed Sheeran Cover: dibuat di PicsArt+ibis