Soobin bersumpah, hidupnya tidak pernah semenegangkan ini sekalipun dia berulang kali hampir mati karena ayahnya. Tidak pernah sekalipun juga terpikirkan seseorang akan menembakkan panah ke arah mereka.
Ketiganya sudah merapat ke tengah. Sampai detik ini anak panah itu hanya tertancap di sekitar mereka dan entah apa maksudnya. Tapi walaupun begitu, mereka tidak bisa tenang begitu saja.
Diam-diam Jisoo meraih satu anak panah terdekat. Bahannya dari kayu tapi matanya sangat runcing. Dia yakin jika panah itu dapat menembus badan mereka.
"Ini kayak tembakan peringatan gak sih?" bisik Soobin.
"Sejauh ini sih gak...akh!"
Jihoon langsung melihat Jisoo yang memegang lengan kirinya. "Kena?"
"Cuma kegores."
"Kalo pun mati, seenggaknya kita harus tahu ini ada dimana." Soobin kembali berucap tanpa semangat.
"Mereka berhenti?" tanya Jihoon yang merasa tidak ada anak panah lagi yang tertembak ke arah mereka.
"Jangan gerak dulu!" suruh Jisoo yang sesekali melirik lengannya yang terkena panah.
Dua menit pertama, tidak ada yang terjadi tapi ketiganya tidak ada yang berani bergerak. Sampai menit keempat, mereka dapat mendengar langkah kaki ke arah mereka. Ketiganya yakin jika yang menghampiri mereka lebih dari satu orang.
Samar-samar ada cahaya kemerahan yang berasal dari depan dan belakang mereka. Tapi hanya selang beberapa detik, Jisoo dan Soobin dapat merasa benda dingin dan tajam di leher mereka. Keduanya berhasil menahan nafas.
Jisoo berusaha fokus menatap satu orang yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah lentera. Semakin dekat, dia semakin yakin jika orang di depan mereka adalah seorang laki-laki.
"Siapa kalian?" seru satu suara dari belakang mereka.
Jisoo hendak berbalik tapi orang yang di depan mereka sudah mengacungkan sebuah pedang ke dagunya. Alhasil dia urung dan mendongak ke orang itu.
"Apa kalian suruhan dari kerajaan?" sahut suara lain.
"Kerajaan?" gumam Jihoon sambil menahan lukanya yang baru diobati Jisoo. "Ini sebutan sopan dari sindikat gelap atau gimana?"
Soobin yang rasa takutnya hampir lenyap hanya menghela nafas dan membuat pedang di lehernya semakin ditekan ke lehernya. "Gue cumaa nafas, woi!"
"Kalian siapa?" ulang suara pertama.
Jisoo berhasil menebak tiga orang di belakang mereka. Dua orang sedang mengacungkan pedang ke Jihoon dan Soobin. Satu orang lainnya seperti hanya memegang lentera dan agak berdiri jauh dari dua rekannya tapi masih dalam jangkauan Jisoo.
"Mending kasih tahu kita dulu," ucap Jihoon yang tertahan karena pedang semakin menekan lehernya, "ini dimana?"
"Apa pentingnya? Kalian juga akan mati sebentar lagi." Suara ketiga dari depan mereka terdengar.
"Makanya kasih tahu kita dulu ini dimana. Seenggaknya gue harus tahu dimana gue mati ntar." Soobin menambahkan tanpa takut-takutnya.
"Jadi bagaimana? Kita bunuh mereka?" tanya suara kedua.
"Ah, kelamaan!" balas Soobin yang langsung menekan pedang ke lehernya dan menciptakan garis luka. "Buruan! Kalo gue mati juga gak ada yang peduli."
"Bin!" protes Jisoo.
Agaknya orang yang mengacungkan pedang ke Soobin terkejut karena dia segera menjauhkan pedangnya.
"Sekarang posisinya kita harus realistis, Jis." Soobin menambahkan sambil menyeka darah di lehernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLUE MOON [COMPLETED]
FanfictionRencana kabur keluar negeri malah membuat mereka terdampar di sebuah negeri asing. Created : March 20th, 2022
![BLUE MOON [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306533985-64-k455187.jpg)