Trip to the past

3 1 0
                                        

Jisoo yakin dirinya sudah meninggal. Rasanya sangat sakit saat jiwanya ditarik paksa, mengalahkan seluruh rasa sakit yang dia pernah rasakan.

Kayaknya mati emang nyakitin deh. Jadi pengen ngasih tahu Soobin biar jangan nekat buat mati.

Sekarang Jisoo sedang berada di ruang putih tanpa ujung. Haruskah disebut ruangan? Jujur saja dia bahkan tidak menemukan apapun di tempat ini. Dia sudah mati, kan?

"Sudah."

Jisoo segera berbalik dan mendapati seseorang berpakaian serba hitam yang terlihat lusuh. Kepalanya ditutupi sebuah tudung dengan warna senada. Wajahnya tidak terlihat sehingga gadis itu kesulitan untuk menebak jenis kelamin orang itu.

"Kamu sudah mati."

Suaranya terdengar rendah dan membuat Jisoo semakin yakin jika orang itu adalah seorang laki-laki.

"Lo malaikat kematian?"

Orang itu tertawa ringan seraya mendekat. Jisoo tidak merasakan ancaman sedikit pun. Lagipula dia sudah mati, jadi apa yang perlu ditakutkannya lagi?

"Rasanya sebutan seperti itu sedikit merusak harga diriku."

"Oh, maaf." Jisoo berucap cepat dan kembali menatap sekitarnya. "Jadi, Lo mati juga atau gimana?"

"Hanya berkunjung."

Orang itu hanya berjarak kurang dari satu meter di depannya. Wajah mereka saling berhadapan tapi Jisoo tetap tidak bisa melihat wajah orang itu.

"Sudah siap kembali?" tanya orang itu dengan tenang.

"Sorry, konteksnya agak ambigu." Jisoo mundur satu langkah. "Gue gak pernah mati. Oke, itu alasan yang gak masuk akal. Intinya gue masih belum ngerti. Gue gak ngerti alur kematian kayak gimana."

"Haruskah kita menyebutnya game over?" tanya orang itu sambil kembali mendekat. Setiap satu langkahnya akan sukses membuat gadis di depannya ikut melangkah mundur. "Di game, kamu bisa bermain lagi walaupun sudah mati."

"Tapi ini bukan game."

Jisoo terus mundur dan menciptakan jarak antara mereka. Tidak tahu. Dia hanya tidak mau mendengarkan orang itu sekalipun dirinya tengah kebingungan.

"Ya, ini bukan game."

Jisoo tersentak saat sepasang tangan sudah memeluknya dari belakang. Hanya satu kedipan, orang itu sudah berpindah ke belakangnya. Lehernya dapat merasakan nafas hangat orang itu. Anehnya lagi Jisoo merasa tidak ingin menolak pelukan tersebut.

Hangat.

Hanya kata itu yang bisa mendeskripsikan semuanya. Sebuah pelukan yang rasanya sudah lama sekali tidak dia rasakan. Seseorang pernah memeluknya seperti ini seraya menaruh dagu di bahunya. Kedua tangan orang itu melingkar di pinggangnya.

"Kakak?!"

Dan panggilan itu spontan keluar dari mulutnya. Perasaan tidak asing. Jisoo tiba-tiba merindukan saudaranya yang pernah tinggal di panti asuhan. Tiga orang yang selalu bersamanya bahkan setelah dia diadopsi.

Jisoo menyentuh dan mengusap pelan kedua tangan yang melingkar di pinggangnya. Kulit putih pucat yang hampir tertutup lengan baju hitam itu membuatnya teringat satu nama. Orang panti pernah bercerita jika dia dibawa oleh seorang anak laki-laki berumur dua tahun yang besar kemungkinan adalah kakak kandungnya. Ya, satu di antara tiga orang terdekatnya.

"Kak Min..."

Tubuhnya tiba-tiba tertarik ke belakang. Seperti kejadian pertama kali mereka tiba di tengah hutan. Sepasang tangan tadi masih melingkar di pinggangnya. Jisoo sendiri masih tidak yakin. Tubuhnya seperti berada di atas mobil balap yang sedang melaju kencang tapi dengan posisi mundur.

BLUE MOON [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang