How to explain

6 2 0
                                        

Jihoon tidak tahu hal apalagi yang paling memalukan selain kenyataannya jika dia tidak sadarkan diri kemarin.

Kemarin?

Entahlah, dia malah merasa ragu pada ingatannya sendiri. Rasanya sudah lama sekali dia tidak membuka mata. Seolah dia sudah menutup mata selama beberapa hari terakhir.

Apa ya ingatan terakhirnya?

Rencana kabur ke Maldives?

Mereka dikejar kelompok kakak kelasnya?

Terpojok di gang buntu tapi tidak terlihat?

Tersadar di hutan?

Ditembaki panah?

Oh, tambah luka di perutnya.

Permasalahan yang menciptakan rasa malu karena jatuh tidak sadarkan diri.

Sekarang dia dimana? Kali ini pemandangannya bukan rimbunnya pohon, melainkan plafon kayu cokelat mengkilap. Alasnya berbaring juga bukan tanah lembab dan rumput. Tapi sesuatu yang agak empuk dan hangat. Bonus sebuah selimut lembut.

Tapi sepertinya dia sedangkan melupakan sesuatu yang penting. Fakta jika dirinya tidak sendiri di seluruh kejadian kemarin. Harusnya ada Soobin dan Jisoo tapi dimana kedua temannya? Mereka tidak mati, kan?

"Bagaimana keadaanmu?"

Suara asing itu langsung menyapa pendengaran Jihoon dan membuatnya terpaku untuk beberapa detik.

"Apa masih ada yang sakit?"

Setelah pertanyaan kedua barulah dia mengalihkan pandangannya. Ada seorang pemuda yang berdiri tepat di sebelah kirinya dan sedang tersenyum manis. Manis sampai Jihoon tenggelam untuk beberapa detik.

"Kamu masih belum diperbolehkan untuk banyak bergerak. Khawatirnya lukamu akan berdarah lagi."

Kenyataan memukul telak. Jihoon langsung teringat kedua temannya.

"Jisoo dan Soobin. Mereka ada dimana?"

"Mereka sedang diluar."

Tapi bukan berarti dirinya lega. Jihoon justru merasa belum tenang sebelum melihat dua temannya.

Pemuda yang diyakini lebih pendek darinya itu mengulurkan segelas air putih. "Minum dulu! Kamu pasti haus."

Jihoon mengangguk pelan lalu sedikit bangun dengan bertumpu pada pinggiran ranjang dan menerima gelas tersebut.

Aneh.

Terlalu sering memegang gelas kaca, tekstur gelas kayu tersebut membuatnya berpikir untuk beberapa waktu. Walaupun begitu dia tetap meneguk sedikit air, mengembalikan gelas lalu berbaring lagi.

"Kalian siapa?"

Pemuda asing itu hanya tersenyum tipis. "Aku belum bisa memberitahumu. Eh, tapi bukan karena tidak ingin. Temanmu yang perempuan membuat kesepakatan akan menceritakan semuanya setelah kamu bangun. Jadi kami juga akan menjawab semua pertanyaan kalian."

Jisoo, tentu saja. Gadis itu jago membuat kesepakatan dengan orang lain. Sekalipun akhirnya hanya berupa omong kosong karena mereka cukup cerdik untuk mengelabuhi musuh.

Tiba-tiba saja Jihoon teringat panah dan pedang yang sempat menjadi ancaman mereka. Jisoo tidak mungkin membohongi orang-orang ini, kan? Mereka bisa mati jika gadis itu benar-benar melakukannya.

"Kamu mau makan sesuatu atau..."

Jihoon keburu menggeleng. Perutnya sedang tidak kelaparan. Belum lagi situasi yang belum jelas ini membuatnya tidak bernafsu. Tentang keberadaan mereka, siapa orang-orang itu dan nasib mereka selanjutnya.

BLUE MOON [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang