Jihoon berhenti sejenak saat merasa bagiannya sudah berhasil ditangani. Kaos putihnya sudah penuh noda merah yang jelas bukan miliknya. Pedangnya juga sudah kotor dan tanpa ragu dia mengelapkan benda tajam itu ke tubuh lawannya yang sudah tergeletak.
"Ji..."
Panggilannya terhenti saat Minho sudah berada di belakangnya dengan penampilan yang sama kacaunya. Tapi beda dengan dirinya yang terlihat kelelahan, Minho terlihat biasa saja dan sibuk merapikan pakaiannya.
"Jisoo disana!" tunjuk Minho ke depan mereka dimana gadis itu baru saja terkapar.
Tahu temannya hanya kelelahan, akhirnya Jihoon memutuskan untuk duduk di tempatnya. Bagian mereka sudah habis jadi mungkin sedikit istirahat tidak ada salahnya. Selagi beristirahat, tangan kirinya merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Ada pesan dari perangkat Soobin.
Temannya itu mengirim sebuah foto dengan tulisan jika dia dan Hyunsuk akan pergi ke pintu selatan.
Ngomong-ngomong, ketiganya menggunakan sebuah fitur seperti pengirim perangkat offline yang masih bisa mereka pakai. Paling hanya bisa mengirim foto, video dan suara dengan radius satu kilometer tanpa memerlukan koneksi internet. Kurang lebih mirip dengan penggunaan bluetooth. Cukup efisien selama jarak mereka terpisah seperti sekarang.
"Hoon! Udah baca pesannya Soobin, kan?" teriak Jisoo dari tempatnya.
"Udah!"
Minho hanya memperhatikan dua orang itu secara bergantian sebelum suara Yeosang menginterupsi pendengarannya.
Kelompok dari utara berhasil masuk tapi bukan pertanda bagus. Tentara kerajaan siap mengepung kalian di dalam kerajaan lagi.
Minho mendengus pelan sebelum akhirnya tertawa. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan seenaknya. Resiko membelokkan takdir sudah cukup berefek pada dirinya selama beberapa tahun. Selama 'aturan' miliknya tidak berubah, Minho hanya akan melakukan seperlunya saja.
"Kelompok utara sudah masuk!" ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Jihoon. "Kita juga harus membantu kelompok lain."
Jihoon menerima uluran tangan itu lalu kembali berdiri. Sekali lagi pandangannya mengamati halaman kerajaan yang sudah dipenuhi tubuh manusia pada titik tertentu. Sebagian besar sepertinya karena mereka bertiga.
"Bantuan gue belum datang, ya?"
Minho melirik pemuda yang sudah berjalan menghampiri Jisoo. Mata hijau pemuda itu tampak berkilat tanda jika ada sesuatu pada hutan, entah buruk atau bukan, Minho tidak bisa memastikannya sekalipun dia penyihir tua.
"Jihoon!" panggil Jisoo yang sudah beranjak dari tempatnya. Gadis itu sedikit mengangkat kaosnya yang sudah kotor. "Gue luka nih!"
Daripada khawatir, Jihoon hanya berdeham. Entah kenapa temannya yang satu ini semakin aneh. Jisoo terlalu clingy. Tidak seperti biasa. Ya, harusnya dia tidak perlu khawatir apalagi saat gadis itu berhasil membuat puluhan tubuh terkapar di tanah sambil menyanyikan beberapa lagu grup idol yang Jihoon tidak terlalu tahu.
"Buruan! Kita mesti bantuin yang lain!"
Minho ikut mengulurkan tangannya ke Jisoo dan membuat gadis itu segera beranjak. Dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Jihoon sebelum akhirnya berbisik pada pemuda itu.
"Temen Lo tadi sempet minum alkohol atau gimana sih?"
Jihoon tidak tahu tapi gejalanya mirip. Dia baru terpikirkan jika temannya itu mirip orang yang sedang mabuk. Terlalu fokus memikirkan Jisoo sampai dirinya tidak sadar jika cara bicara Minho bukan seperti biasanya.
"Ayo, Ji! Lo harus sadar!"
Jisoo tertawa nyaring. "Gue sadar kok."
"Iya-iya." Minho sampai harus membopongnya saat merasa tubuh gadis akan oleng beberapa kali. "Lo nemu alkohol dimana sih?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BLUE MOON [COMPLETED]
FanfictionRencana kabur keluar negeri malah membuat mereka terdampar di sebuah negeri asing. Created : March 20th, 2022
![BLUE MOON [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306533985-64-k455187.jpg)