Setelah makan malam, Soobin langsung membeberkan semua informasi yang didapatkannya hari ini. Termasuk cerita Hyunjin.
Dan bisa ditebak bagaimana ekspresi kedua temannya. Jihoon sampai kehabisan kata-kata sedangkan Jisoo meruntuk atas semua informasi yang didapatkannya dari buku.
"Isi disini terlalu menjabarkan banyak kebaikan." Jisoo hampir membanting buku yang dipegangnya jika tidak ingat buku itu adalah hasil pinjaman. "Penulisnya benar-benar mengangkat seluruh sisi positif kerajaan. Sialan, hampir saja tertipu."
Jihoon yang sedari tadi memegang buku catatan temannya langsung menghela nafas. "Semua deskripsi yang Lo ringkas terlalu sempurna buat suatu negara. Kayak mustahil banget kerajaan ini sesempurna ini gitu."
"Bahkan buku sejarah kita dijelasin berapa banyak korbannya." Soobin menambahkan.
"Lagian," lanjut Jihoon meletakkan catatan itu ke atas meja, "kerajaan pasti malu gara-gara percaya sama ramalan gitu. Apalagi kenyataannya gak ada kejadian apa-apa."
"Soalnya udah dibantai semua, gimana mau kejadian?!" sahut Jisoo yang menyingkirkan buku-buku yang sudah dibacanya. "Makin males gue bacain. Kerajaan sebagus ini nyimpen cerita kelam cuma gara-gara percaya sama ramalan."
"Ternyata di dunia mana pun sama aja. Selalu ada orang bego." Soobin langsung menghempaskan diri ke tempat tidur.
"Tapi," sela Jihoon yang sudah berpindah tempat ke ranjang Soobin, "Lo semua inget gak waktu pertama kali kita ketemu mereka berempat?"
"Ingetlah, anjir!" balas Soobin yang langsung meraba luka di lehernya yang sudah mengering. "Ditembak panah terus ditodong pedang."
"Ung, bukan itu poinnya." Jihoon berusaha untuk tidak menjitak pemuda tinggi itu. "Omongan mereka yang bilang kita dikirim kerajaan."
"Oh iya, inget!"
Jihoon menatap Jisoo yang tidak merespon apapun tapi dia tetap akan melanjutkan.
"Asumsi gue, mereka yang disini kayak kelompok pemberontak. Orang-orang yang gak suka sama sistem kerajaan. Ditambah lagi dari cerita Lo soal keluarga Hyunjin. Itu udah memperjelas dengan keberadaan mereka disini."
"Kayak bandit?"
"Bandit tuh pencuri, Bin!" sahut Jisoo dengan gemas.
"Kali aja ala-ala Robin hood. Nyuri dari orang kaya buat ngebantuin orang-orang desa."
"Kebanyakan baca dongeng sih!"
"Gue gak ngerasa mereka kayak bandit sih. Tahu sendiri gimana mereka bagi-bagi makanan ke desa-desa, terus ngajar anak-anak, bahkan jualan di pasar. Mereka disini kayak mulai kehidupan sewajarnya. Nyari biaya hidup terus dibagi buat mereka." Jihoon menjelaskan sambil menatap ke arah pintu kamar yang tertutup.
Tepatnya ke celah di bawah, dia dapat dengan jelas melihat ada orang diluar sana tapi Jihoon memutuskan untuk diam saja, seolah tidak tahu.
"Vibe positif yang mereka kasih ke anak-anak aja udah cukup buat buktiin mereka gak kayak bandit." Jisoo menambahkan sambil membaringkan tubuhnya. "Tapi kalo sekalipun mereka bentrok sama kerajaan berarti nasib kita makin gak jelas. Maksudnya kalo emang kita sengaja dikirim kesini buat bantuin mereka mungkin jelas tujuan asli kita. Tapi sekarang kita bahkan gak tahu kenapa ada disini. Kebetulan? Takdir? Atau cuma kecelakaan?"
"Kalo jahatnya nih ya, sebenernya kita ada di pibak kerajaan gimana?" tanya Soobin yang berusaha membayangkan keadaan mereka. "Kita pikirin aja semua kemungkinan yang bisa aja kejadian."
"Gue pribadi gak bakal mau sih di pihak kerajaan. Gila aja mutusin rantai keturunan orang cuma gara-gara ramalan." Jisoo menjawab yakin. "Maaf-maaf nih, kerajaan bukan fashion gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
BLUE MOON [COMPLETED]
FanfictionRencana kabur keluar negeri malah membuat mereka terdampar di sebuah negeri asing. Created : March 20th, 2022
![BLUE MOON [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306533985-64-k455187.jpg)