And they know

0 1 0
                                        

"Bulan biru?" ulang Soobin.

Jisoo yang menyuap makan malamnya hanya mengangguk.

Lagi-lagi mereka memilih mengasingkan diri di kamar. Makan malam bertiga sambil kembali berdiskusi. Berhubung Hyunsuk dan yang lain sedang membicarakan sesuatu. Sebenarnya mereka diajak tapi Jihoon dan Soobin beralasan tidak terlalu sehat jadi Jisoo mengajukan diri untuk menjaga kedua temannya.

Jangan tanya bagaimana respon Hyunsuk dan Yeonjun. Bahkan mereka sempat ingin ikut menjaga keduanya. Ya, dengan bantuan Yeosang jadilah hanya ketiganya yang berada di rumah.

Kembali ke topik pembicaraan mereka. Ketiganya sudah bertukar informasi seperti biasa.

"Ayo, eksak! Keluarkan pengetahuanmu!" suruh Jisoo pada Jihoon setelah menelan makanannya.

"Gue gak tahu nih fenomenanya dengan tempat kita sama atau gak. Tapi bulan biru di tempat kita cuma bulan purnama yang kejadiannya bisa dua atau tiga tahun sekali. Ini setahu gue ya." Jihoon menjeda penjelasannya untuk minum. "Warnanya juga bukan biru. Selebihnya gue gak tahu. Itu juga dari artikel-artikel yang pernah gue baca sekilas."

"Tapi..." ucap Jisoo lalu mengeluarkan buku yang sebelumnya mereka baca bersama. "Disini ada dibahas soal bulan biru. Ya, sama. Bulan purnama yang terjadi tiap seribu tahun sekali. Bulannya bakal beneran warna biru. Seluruh langit juga bakal berubah biru."

"Seribu tahun tuh gue bisa reinkarnasi sepuluh kali kayaknya." Soobin terdengar sedikit tidak peduli. "Jadi maksudnya tahun ini bakal jadi salah satu kesempatan buat si bulan biru muncul?"

"Yeps. Harusnya seminggu lagi." Jihoon menjawab.

"Dan abis itu mereka bakal nyerang kerajaan." Jisoo menambahkan.

"Wow, kita bakal perang." Soobin masih terlihat tidak bernafsu. "Gue gak biasa megang senjata walaupun udah latihan beberapa kali. Jadi Yeonjun nyuruh stand by di barisan belakang."

"Tengah gak sih?" koreksi Jihoon dengan ragu. "Kalo belakang, artinya sama aja Lo ikut berantem."

"Nah, gitu deh pokoknya." Soobin menatap kedua temannya secara bergantian sebelum mengajukan satu pertanyaan yang sedari tadi dia pikirkan. "Tapi hubungannya sama bulan biru apa sih? Kan fenomenanya juga cuma tiap seribu tahun sekali. Kenapa mesti repot-repot nungguin bulan biru?"

Jihoon membolak-balik buku yang ada di atas meja, mencari informasi lain. Tidak terlalu banyak yang bisa dia temukan.

"Gak ada penjelasan detail sih. Disini cuma dikasih tahu kalo dalam rentang satu minggu dalam bulan biru dianggap sebagai hari kebangkitan. Misalnya bulan birunya hari Kamis, jadi Senin sampe Minggu gitu. Sepanjang hari itu dianggap sebagai periode kebangkitan. Kurang lebih gitu sih kayaknya."

"Kebangkitan apa nih?" tanya Soobin dengan waspada.

"Kebangkitan sang bulan. Cuma gitu doang." Jihoon kembali mencari informasi yang berkaitan pada halaman lainnya. "Oh, ada nih info dikit. Katanya sang bulan disini itu orang yang terpilih dan bisa jadi penentu kemenangan dari...peperangan?"

"Jadi secara gak langsung tiap seribu tahun sekali ada perang gitu?"

Jihoon menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia sudah menyerah. Informasi di buku tersebut sangat acak. Sepintar-pintarnya mereka tetap saja tidak mengerti teka-teki seperti ini.

"Mau coba nanya Yeonjun atau yang lain?" tawar Soobin yang mengerti akan menyerah temannya.

"Udahlah. Sekarang kita fokus aja bantuin mereka buat nyerang kerajaan." Jihoon menutup buku lalu menghela nafas. "Intinya besok udah bakal masuk periode kebangkitan. Soalnya Hyunjin bilang bulan biru bakal kejadian hari Rabu. Jadi kemungkinan kita mulai nyerang itu Kamis atau Jumat."

BLUE MOON [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang