Soobin tidak tahu kesepakatan seperti apa yang dibuat Jihoon sampai serigala-serigala tadi meninggalkan mereka. Intinya temannya itu meninggalkan mereka selama sepuluh menit untuk memasuki bagian dalam hutan dan kembali lagi dengan ekspresi yang sama terbebaninya.
Baik dia ataupun Jisoo, mereka tidak ada yang berniat mengajukan pertanyaan. Walaupun masih sulit dipercaya, keduanya berusaha mengerti pada keadaan Jihoon yang masih terguncang.
Siapa yang tidak akan terkejut jika dalam satu waktu keadaan seseorang berubah drastis? Jihoon yang terkenal sebagai berandalan di dunia mereka tiba-tiba berubah menjadi elf di dunia ini. Tidak logis. Tapi apa yang lebih logis dari orang yang bangkit dari kematian sebelum dimakamkan?
Soobin saja masih kepikiran tentang dirinya yang mirip dengan salah satu putra kerajaan yang dibunuh. Belum cukup, kenyataan kedua orang tuanya mengambil peran di kerajaan juga sangat mengejutkan. Kemudian fakta jika pendengarannya sedikit berbeda sekarang.
Ngomong-ngomong dia sudah memaksimalkan pendengarannya dengan baik berkat omelan Jisoo. Dalam waktu kurang dari setengah jam, dia mempelajari bagaimana mendengarkan suara tanpa harus turun dari kuda seperti tadi.
Coba pura-pura tidur. Biasanya orang lebih sensitif sih. Lo kan jago molor jadi gak bakal susah buat tidur-bangun dalam waktu singkat.
Tapi Soobin tidak benar-benar tidur. Dia hanya memejamkan waktunya dan berusaha fokus pada suara yang ada di sekitarnya. Sulit memang karena terlalu banyak suara dalam satu waktu.
"Oh, kelompok pertama sudah menunggu di depan!" ucapnya tepat di telinga Yeonjun.
Pemuda yang tengah menjalankan kudanya langsung mengangguk dan beralih pada Bangchan. "Mereka sudah menunggu."
"Bagus. Ayo percepat!"
Seketika mereka semua memacu kuda masing-masing, mempercepat langkah untuk sampai ke tujuan mereka. Cepat sampai artinya mereka bisa segera membahas strategi sebelum melakukan penyerangan pada kerajaan.
Ini kali pertamanya Jihoon dan Soobin melihat Distrik Tengah atau disebut Distrik Bescheiden. Memang perjalanan yang dilalui untuk tiba di tempat ini berbeda dengan Jisoo tapi mereka benar-benar sudah tiba disana.
Aktivitas yang padat sama seperti perkotaan pada umumnya. Banyak orang-orang yang berlalu lalang, baik mengendarai kuda ataupun berjalan kaki. Awalnya mereka berpikir jika penampilan mereka akan mencolok karena membawa banyak barang tapi ternyata sama saja, penampilan orang-orang disini juga sangan mencolok.
Bukan dari segi pakaiannya, melainkan barang-barang yang dibawa.
"Orang-orang disini beranggapan jika kita adalah pedagang seperti mereka." Hyunsuk berucap dari kuda sebelah Jihoon.
"Oh." Jihoon membalas sedikit kesulitan karena harus menahan agar penutup kepalanya tidak terbuka. "Ini masih jauh?"
"Sebentar lagi." Hyunsuk menjawab dengan senyumnya yang khas. "Tidak apa-apa, kamu bisa istirahat setelah ini."
"Oke." Jihoon sebenarnya tidak terlalu berharap karena bukan istirahat yang dibutuhkannya, melainkan waktu dan informasi tentang dirinya dan elf.
Mereka masuk ke sebuah jalan kecil yang entah sudah ke berapa kalinya tapi Jisoo kenal jalan tersebut. Tempat bawah tanah milik Yeosang yang dikunjunginya terakhir kali.
Benar saja, tidak kala pemilik nama sudah berdiri di atas pintunya sambil melambaikan tangan. Penutup wajahnya masih setia terpasang tapi tidak menutup kemungkinan jika pemuda itu sedang tersenyum.
Namun daripada membalas, Jisoo justru menghentikan kudanya. Dia menunggu kuda putih Minho yang ada di barisan belakang. Sekarang ada banyak pertanyaan besar di kepalanya tentang situasi saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLUE MOON [COMPLETED]
FanfictionRencana kabur keluar negeri malah membuat mereka terdampar di sebuah negeri asing. Created : March 20th, 2022
![BLUE MOON [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306533985-64-k455187.jpg)