Advanced thoughts

1 1 0
                                        

Kemenangan kemarin malam benar-benar sebanding dengan kelelahan yang mereka alami. Bahkan sudah tidak peduli lagi pada tempat dimana mereka terbaring saat ini.

Halaman kerajaan yang ditutup dari aktivitas luar sudah dipenuhi dengan banyak dari mereka yang terbaring. Tidak peduli bersebelahan dengan sisa-sisa mayat musuh. Setengah dari mayat musuh juga sudah mereka bakar, hitung-hitung sebagai penghangat kemarin malam.

Musuh-musuh yang masih hidup sudah dikumpulkan dalam keadaan terikat dan dijaga. Sebagiannya terlihat masih ingin memberontak, sebagiannya lagi hanya pasrah saja.

Setidaknya butuh waktu dua minggu, kerajaan ditutup dari dalam untuk membersihkan semuanya. Tidak ada yang keluar-masuk. Mereka juga membuat kerajaan seperti rumah sendiri, dimana mereka istirahat, makan atau bersantai. Intinya mereka memanfaatkan waktu-waktu yang ada.

Tiga orang yang terdampar? Tidak terlalu beda jauh. Selagi Soobin membantu yang lain untuk menyiapkan makanan, Jihoon dan Jisoo ikut yang lain untuk berdiskusi tentang kelanjutan Brighttown. Mereka harus mengatur bagaimana menjelaskan semuanya kepada rakyat, memulai sistem kerajaan yang baru dan masalah-masalah lainnya yang akan muncul.

"Jadi," ucap Yeonjun dengan hati-hati seraya melirik Jisoo yang sedang membuat pesawat dari kertas, "kepemimpinan, bagaimana?"

Hampir seisi ruangan mengalihkan pandangan ke arah Jisoo. Mereka sudah tahu jika gadis itu adalah keturunan sah yang dikirim raja pertama. Jadi bisa dibilang, Jisoo adalah pemilik seluruh negeri Brighttown.

Oh, kecuali Jihoon yang sedang menatap satu orang di seberangnya.

"Ada apa?" tanya Jongho yang menyadari tatapan Jihoon.

"Dia siapa?" balas Jihoon seraya menunjuk orang yang sedari tadi diamatinya.

"Putra raja dan ratu yang ditahan di penjara. Sederhananya, kakak kandung Hyunsuk dan Chanhee."

Jihoon mengangguk pelan sebelum memukul kepala Jisoo, sukses membuat seisi ruangan terkejut. "Lo mau mimpin kerajaan gak?"

"Gue bahkan males jadi ketua kelas." Jisoo menjawab seraya menyusun pesawat yang dibuatnya lalu menatap yang lain. "Jujur nih, gue gak minat buat mimpin tahta dan kerajaan ini sekalipun emang gue asal sini. Jadi gue bakal tetap mundur dan balik ke dunia gue."

"Apa tidak bisa kamu pertimbangkan?" tanya Younghoon.

Jisoo menggelengkan kepalanya. "Ya, kalo Lo semua mau Brighttown lenyap dalam setahun."

Mereka tidak paham jika yang dimaksud adalah kekacauan dalam menjalankan sistem kerajaan, bukan hal mengerikan seperti menghancurkan negeri ini.

"Gak, gak ngancurin juga. Cuma gue bukan orang yang suka mimpin. Apalagi kerajaan." Jisoo langsung memperjelas. "Kita semua harus cari kandidat yang pas. Cocok buat jadi pemimpin."

"Dia!" tunjuk Jihoon pada orang di seberangnya. "Vibesnya cocok buat jadi raja."

"Choi Seungcheol?" ulang Jisoo begitu melihat orang yang dimaksud. "Alasannya?"

Jihoon menjabarkan semuanya. Mulai dari bagaimana Seungcheol membagi kelompok setelah peperangan, memimpin beberapa kelompok untuk melakukan hal-hal pasca peperangan dan hal yang selayaknya pemimpin. Seungcheol juga cukup ketat dan tidak segan untuk menegur mereka yang melakukan kesalahan.

"Tapi dia..."

"Keturunan raja sebelumnya?" potong Jihoon seraya melipat kedua tangannya. "Salahnya? Kalo emang dia mau berkhianat lagi, tinggal bunuh on the spot aja."

Gantian Jisoo yang memukul kepala temannya sampai menimbulkan bunyi yang tidak wajar. "Otak Lo cuma bunuh-bunuhan, ya? Buat sekarang kosongin dulu aja tahtanya. Kita mesti jelasin semuanya ke seluruh penjuru Brighttown buat ngeklaim kalo sekarang raja sama ratu gak mimpin kerajaan. Lo semua juga mesti stand by sama penolakan pendukung mereka."

BLUE MOON [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang