🥀32 [Hang In There]

4.8K 76 4
                                        

Raniapun berjalan kesamping dan memperhatikan Zefanya dengan bersidekap dan senyuman sinisnya. Sementara Zefanya mulai mendekati Naira yang sudah penuh dengan keringat karena ketakutan.

"Kak, apa yang mau Kakak lakuin sama Naira? Apa salah Naira, Kak?!" teriak Naira sembari meneteskan air matanya. Sedangkan Zefanya masih berjalan mendekat sembari membawa pisau kecil.

Zefanya tersenyum sinis. "Chill baby. I swear, rasa sakitnya akan segera hilang kok."

Naira menggeleng-geleng sembari terisak. Adit yang berada tepat disampingnya hanya bisa memejamkan matanya—menahan air matanya agar tidak keluar. Namun percuma, mendengar isakan tangis Naira membuat Adit merasakan perih yang luar biasa.

Tanpa aba-aba, Kaki Adit yang tengah bebas dan tak terikat hanya tangan dan tubuhnya saja langsung menendang Zefanya dengan keras. Sampai terpental jauh dan kepalanya terbentur dinding. Gadis itu meringis kesakitan.

"ANJING! KALAU LO BERDUA BERANI NYAKITIN NAIRA, GUE BERSUMPAH AKAN BUNUH KALIAN! BITCH!"

Adit berteriak dengan sangat keras. Sementara Naira makin terisak dengan suara pelan.

Zefanya masih tersungkur dibawah, dan Raniapun mulai habis kesabaran. Namun saat Rania ingin berjalan cepat menuju kearah Adit dan Naira, tiba-tiba ponselnya berdering dengan keras. Buru-buru ia cek, dan tertera nama 'Mas Adnan' disana.

Dengan panik, Rania langsung berjalan cepat keluar untuk menjawab panggilan tersebut. Namun sebelum keluar, ia menatap tajam kearah Naira dan Adit.

"Urusan kita belum selesai! Inget itu!"

Lalu Raniapun berlari dan langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Mas."

"Assalamualaikum, Ran."

"Iya walaikumsalam. Ada apa ya, Mas? Tumben Mas Adnan telfon aku."

"Maaf kalau saya ganggu kamu ya, Ran. Tapi saya perlu bantuan kamu."

Rania menggigit kukunya dengan cemas.

"Bantuan apa, Mas?"

Adnan berdeham, "Naira sama temannya Adit diculik, Ran. Kirakira kamu bisa melacak keberadaan mereka nggak, Ran? Mungkin dengan orang-orang suruhan kamu. Agar saya bisa tahu siapa dalang dibalik penculikan mereka. Saya akan benar-benar menghabisi orang itu. Kabari saya jika kamu bisa bantu ya, Ran. Bantuanmu sangat-sangat berharga bagi saya, Ran."

Rania terlihat ketar-ketir, dan menjawab dengan tubuh dan bibir bergemetar hebat.

"Se-semoga sih aku bisa bantu ya, Mas. Tapi semisal nanti aku menemukan mereka, apakah aku boleh meminta imbalan, Mas? Maaf, bukan maksudku ingin pamrih. Tapi kamu tahu Mas sangat sulit sekali pastinya untuk mencari keberadaan mereka. Bahkan akupun tak tahu saat ini caranya bagaimana agar mereka ketemu."

Adnan terkekeh pelan, "Kamu tidak perlu khawatir soal itu, Ran. Saya pasti akan membalasnya. Saya tidak akan ingkar janji."

Rania tersenyum picik. "Ok, deal."


🍃🍃🍃

"Bagaimana, Nan?" tanya Papanya.

Adnan tersenyum tipis, "Adnan meminta tolong ke Rania, Pa."

"Adiknya temanmu itu? Alhamdulillah kalau gitu. Ide Papa kemarin juga tadinya ingin meminta bantuan ke rekan rekan bisnis, Papa. Tapi tidak jadi, karena saat ini siapa juga yang akan percaya sama Papa, disaat perususahaan sudah mau hancur? Namun Papa yakin sih Naira dan Adit akan segera ditemukan. "

Adnan mengangguk-angguk pelan dan menepuk bahu Papanya sekali. "Adnan tidur dulu ya, Pa." dan dijawab deheman oleh Papanya.


🍃🍃🍃

"Adnan hubungi kamu?" tanya Zafran kepada adiknya, Rania.

Gadis itu menggangguk dengan wajah cemas.

"Gimana ya, Mas? Aku harus apa ini? Kalau ketahuan aku yang culik mereka, tamat riwayatku, Mas!" panik Rania mengadu kepada Kakak satu-satunya itu.

Zafran yang begitu menyayangi adik semata wayangnya itu, tidak ingin Rania merasakan kesedihan atau bahkan terluka sedikitpun. Ia akan berusaha berbagai cara untuk membahagiakan Rania.

"Tenang, kamu tenang aja. Adnan nggak akan tahu kalau kamu dalangnya. Percaya sama, Mas. Sekarang gini aja, kamu buat skenario seolah-olah kamu udah berhasil temuin mereka, tapi kamu harus ancam Naira dan Adit agar mereka tidak akan berkata jujur kepada Adnan. Buatlah mereka sangat ketakutan supaya mereka nggak berani untuk buka mulut."

Rania mengernyit dahinya, menatap Zafran dengan bingung. "Caranya?"

Zafran mulai memberikan strategi kepada Rania sampai membuat Rania tersenyum sumringah.



🍃🍃🍃


"Pah, Adnan pamit. Mau ke Jogja. Alhamdulillah Naira sudah ketemu disana." ucap Adnan sembari berpamitan kepada Ayahnya.

"Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya ketemu juga. Papa seneng dengernya. Iyaudah, kamu hati-hati ya Adnan. Jangan sampai para penculik itu justru malah mencelakai kamu." jawab Alfi sambil memegang bahu Adnan dengan penuh kekhawatiran.

Adnan membalas dengan menyentuh tangan Ayahnya dipundaknya. "InsyaAllah engga, Pah. Adnan juga bawa orang suruhan. Jaga-jaga kalau ternyata para penculiknya menggunakan senjata tajam. Adnan sudah merencanakan ini dengan matang-matang."

Alfi menggangguk-anggukan kepalanya. "Papa percaya sama kamu, Adnan."

"Adnan pamit ya, Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Adnanpun melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang akan membawanya pergi ke Bandara Soetta untuk menjemput Naira.

"Hang in there, Naira." ucap Adnan pelan dengan air mata menetes sembari mengepalkan tangan kanannya, menahan emosinya yang sudah bergejolak.

[To Be Continue]

🍂🍂🍂


Hai.. apa kabarnya semua?

Maaf ya... udah dua tahun lebih ternyata aku gak upload cerita Engraved. Maaf banget aku kena writer block gitu.. bener bener stuck gatau harus dikemanain ini ceritanya. Bingung parah euy..

Masih pada setia gak ya sama ENGRAVED?

Kalau engga, aku rencananya mau di privatein aja cerita ini.. aku ada cerita baru tapi tunggu respon kalian dulu.. kalau kalian mau ENGRAVED cepet-cepet end, vote yang banyak dan komen yang banyak ya. Tapi kalau engga, aku bakalan privetin cerita ini dan gak akan aku lanjutin🙏🏻

Terimakasih sekali ya untuk kalian yang udah mau setia nunggu cerita ini Ya Allah terharu deh aku😭

Semoga gak emosi ya nunggu aku sampai bertahun-tahun hehehe....

ENGRAVEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang