“Naira!! Bangun! Udah jam berapa ini?!” pekik Niken sambil menepuk-nepukkan pipi Naira.
Perlahan mata terpejam Naira terbuka sedikit demi sedikit, Niken langsung membuka gorden kamar anak satu-satunya itu. Hingga akhirnya mata Naira terbuka dengan sempurna.
Erangan dari mulut Naira berbunyi dengan nyaring sambil merentangkan kedua tangannya keatas.
“Jam berapa ini, Ma?”
Niken berkacak pinggang melihati Naira dengan kesal. “Jam 11! Cuma kamu anak gadis yang bangun siang! Tuh lihat tetangga sebelah, anak gadisnya selalu bangun Subuh-Subuh. Sedangkan kamu? Bangun siang terus!”
Naira meringis mendengar omelan sang Ibunda di pagi hari. Iapun berdiri dan merapikan tempat tidurnya.
“Tadi shalat Shubuh nggak kamu?!” tanya Niken yang sedang memperhatikan Naira dengan intens.
“Shalat, Ma. Makanya aku ketiduran habis shalat. Jadi bangunnya kesiangan.” jujur Naira memberi penjelasan.
“Yaudah. Cepet kamu mandi, habis itu makan.” Naira hanya menggumam sebagai jawaban, dan Nikenpun melangkah keluar dari kamarnya. Kalau Niken sudah mengomel, Naira paling malas menanggapi karena tidak pernah ada habisnya.
🍃🍃🍃
“Rere, ada apaansih? Kampus kita rame banget?!” tanya Naira setelah ia baru saja sampai di kampus. Rere yang sedang berdiri di dekat kerumunan langsung menoleh kearah Naira dengan senyuman khasnya.
“Oh itu. Lah, masa lo nggak tahu? Tetangga lo, Adnan. Promosi film disini sama pemeran lainnya. Ada banyak tahu, ada Amanda Rawless, Maxime Bouttier, Joe--”
“Astaghfirallahal'adzim. Ohiya, gue lupa.” ucap Naira spontan dan langsung berlari menuju ke kerumunan. Naira berusaha agar bisa masuk ke dalam kerumunan tersebut, namun hasilnya nihil karena terlalu banyak orang.
“Yaudah sih, Ra. Ngapain lo susah-susah buat bisa ngelihat Adnan? Dirumah juga ketemu setiap hari, kan?” bisik Rere ditelinga Naira.
Naira menghembuskan nafasnya dengan berat. Lalu tidak lama kemudian Adit datang sambil berlari.
“Heh ngapain lo lari-lari?” tanya Rere bingung.
Adit mengatur nafasnya dengan susah payah, “Gila! Gue nyari kalian kemana-mana nggak ketemu-ketemu, nggak tahunya malah ngerem disini lo pada!”
“Ngerem, emang kita Ayam?!” sungut Naira.
Adit menyengir lebar, “Ayo bantuin gue. Gue butuh banget bantuan kalian nih. Gue disuruh sama Pak Renan bawain barang-barangnya dia di mobilnya. Gue nggak sanggup sendiri. Kalian kan tenaga kuli, jadi ayo bantuin gue.”
“Sialan lo! Kalau minta bantuan tuh yang lembut dan sopan, Cumi!” ketus Naira tak terima. Dibalas anggukan dengan Rere, sedangkan Adit tertawa dengan renyah.
“Oke-oke, Tuan Putri yang terhormat, maukah kalian membantu Sang Pangeran?” ucap Adit dengan memasang wajah jijiknya.
“Oke.” jawab mereka berbarengan lalu merekapun mengikuti Adit menuju parkiran. Biarin deh, bantuin Adit aja. Dari pada ngelihatin Adnan yang bermesraan sama fansnya nanti. Batin Naira berbunyi.
Sedangkan Adnan yang tak sengaja melihati Naira sedang berjalan keluar kampus dengan Rere dan Adit, langsung kembali mengalihkan pandangannya ke arah Mahasiswa yang mengerumuni dirinya dan rekan-rekannya yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
