🥀18 [Kerja Sama]

4.9K 119 5
                                        

Dua minggu berlalu.

Kini Naira harus pulang ke Jakarta sendirian. Karena Niken dan Rangga ada urusan bisnis di Jogjakarta, sementara mereka tidak bisa pulang ke Jakarta untuk minggu-minggu ini. Kemungkinan besar orangtuanya akan menetap di Jogja selama satu bulan lamanya, karena ada kendala perusahaan disana.

Mau tidak mau Naira harus pulang sendirian. Saat Niken menyuruh Adnan untuk menjaga Naira, buru-buru cewek itu membatalkannya dan menyuruh Niken untuk tidak menghubungi Adnan ataupun keluarganya. Ia bilang jika dia sudah besar dan tak perlu pengawasan.

Baru saja sampai rumah, dan menaruh koper-kopernya di dalam kamar. Tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan helaan nafas berat karena masih kelelahan, ia langsung turun dari kamarnya dan membuka pintunya dengan malas.

"Hai, Acil." Adit memamerkan giginya dengan lebar. Sedangkan Naira memutar bola matanya dengan malas.

"Kalau urusan oleh-oleh mah lo paling gercep ya."

"Yoman." jawab Adit yang menyengir tanpa dosa. Lalu iapun masuk ke dalam rumah Naira, sedangkan cewek itu tengah menutup pintunya lagi.

"Duduk aja di ruang tengah. Gue ambilin dulu oleh-olehnya. Kalau lo haus, ambil sendiri. Gue capek."

"Asiaaap." Aditpun langsung duduk di ruang tengah dan mulai menyalakan tv. Rumah Naira memang sudah ia anggap seperti rumah keduanya. Bahkan orangtua Naira juga sudah sangat akrab dengan Adit.

"Nih oleh-oleh buat lo." Naira langsung melemparkan paperbag berukuran besar kearah Adit. Ia lalu duduk disamping cowok itu sambil rebahan.

"Wih makasih, Acil."

"Ya. Eh, Dit. Ngomong-ngomong Rere gimana kabarnya? Gue udah lama nggak ngontak dia semenjak nikah sama cowoknya di Korea."

"Rere kan udah sibuk jadi Istri. Dia mah hidupnya udah enak kali. Suaminya CEO perusahaan games disana. Dia mah udah nggak mikirin kerjaan kayak kita."

Naira manggut-manggut. "Enak banget tuh anak ya nasibnya."

"Iyalah. Dia mah pinter soal cowok. Emangnya elo bego. Udah disuruh move on, masih aja mikirin dia. Cari cowok yang cinta sama lo juga, yang mau terima lo apa adanya."

Naira mendengus keras, "Susah. Gue udah coba berkali-kali buat move on. Tapi tetep aja. Kayak lo udah move on aja dari Rania anjir."

"Weh, sorry boss. Gue udah move on. Gue baru banget jadian kemarin sama Tita."

Naira terbelalak kaget dan langsung terduduk tegap menatap Adit tak percaya.

"Heh, seriusan lo?! Tita yang anak broadcasting itu bukan?"

Adit manggut-manggut.

"Ah seriusan lo?! Cewek secantik Tita masa sih mau sama lo?"

Adit langsung menjitak kepala Naira dengan kesal. "Setan! Lo fikir gue jelek banget apa?! Gini-gini gue ganteng maksimal kali. Banyak yang suka sama gue, tapi gue tolak-tolakkin. Eh, pada akhirnya gue kepincut sama Tita."

Naira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak nyangka gue, temen gue bisa punya pacar juga."

"Iyalah gue. Makanya lo juga harus bisa move on kayak gue. Nanti gue kenalin cowok deh yang mantul buat lo. Biar lo nggak kelamaan jomblo nya."

Naira langsung melemparkan bantal sofa kearah wajah Adit dan beranjak pergi menuju ke dapur.

"Bawel lo!"

🍃🍃🍃

"Mas, kemarin malam aku ketemu sama Mas Adnan. Dia titip salam tuh katanya buat Mas."

ENGRAVEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang