🥀33 [No Pain No Gain] THE END

14K 173 6
                                        

Sesampainya Adnan di Jogja, ia segera menghubungi seseorang melalu handphonenya.

"Bagaimana? Sudah dilokasi?" tanya Adnan dengan tatapan tajam kearah depan. Dan, seseorang itu menjawab di handphonenya.

"Sudah."

"Bagus. Saya segera kesana." Lalu Adnan segera menutup sambungan telfonnya dan segera menaiki taxi yang sudah ia pesan sendiri melalui aplikasi taxi online.

"Let start the games."

🍂🍂🍂


"Aaaaaakkk! Sakitttt..." teriak Naira kencang sembari menangis keras.. saat ini ia dan Adit sedang ditaruh di tengah hutan sembari diikat di sebuah batang pohon jati.

Baru saja, Rania menarik rambut Naira dengan keras membuat Naira merintih kesakitan. Sementara Adit, hanya menangis melihat sahabatnya di siksa.

Zefanya yang sejak tadi hanya diam saja, langsung segera menghampiri Rania. "Ran, urusan Naira biar sama gue. Lo urus Adit." ucapnya setelah sudah berada tepat dihadapan Naira.

Rania tak banyak membantah, ia menggangguk dan segera melipir kesamping dimana Adit berada. Naira dan Adit yang sama sama diikat di Pohon Jati yang sama hanya bisa saling bersentuhan tangan untuk saling menguatkan satu sama lain.

Fikir mereka, mungkin hari ini adalah hari terakhirnya. Meraka pasrah.

Zefanya mendekat kearah Naira sembari berbisik, sedangkan Naira ketakutan hebat saat cewek itu mendekat kearahnya.

"Maafin Kakak ya, Ra." Zefanya berkata lirih dan segera menjauhi wajahnya dari wajah Naira, dan ia mulai menarik rambut Naira dengan pelan.

Naira menatap tajam kearah Zefanya, namun Zefanya menatapnya dengan tatapan lirih. "Tolong kamu acting pura-pura kesakitan, Ra. Kakak mohon. Kakak nggak mau nyakitin kamu." katanya dengan tanpa suara.

Untung saja Naira tahu apa yang cewek itu katakan. Ia menatap Zefanya dengan penuh keraguan.

"Ayo, Ra." jawab Zefanya dengan meyakinkan. Mencoba agar Naira mau mengikuti perintahnya.

Lalu tidak lama kemudian, Niara berpura-pura merintih kesakitan. Membuat Rania menoleh dan tertawa dengan renyah.

"Lanjutkan ya, Sist. Gue mau sarapan dulu. Adit sama Naira lo urus deh dua sejoli ini."

Zefanya menggangguk cepat. "Ok. Lo serahin aja ke gue."

Setelah Rania pergi melangkah dengan pelan, Naira masih saja teriak berpura-pura kesakitan.

Zefanya kembali menatap Naira dan Adit secara bergantian. "Tolong kerjasamanya, ya. Maafin Kakak. Kakak terpaksa, Ra. Saat ini yang terpenting adalah kita harus beracting. Jangan sampai ketahuan. Rania dan Zafran benar-benar manusia biadab, Ra."

Adit dan Naira menggangguk cepat.

"Setelah ini, kita harus ngapain, Kak? Mereka sangat kuat. Orang bayaran mereka juga banyak." tanya Naira dengan penuh ketakutan dan rasa cemas yang begitu hebat.

Zefanya menggangguk. "Yang terpenting jangan sampai ketahuan, Ra. Aku pura-pura siksa kamu dan Adit. Kalian berpura-pura kesakitan. Dan aku juga mau minta tolong kalau Rania atau Zafran menyuruh kalian sesuatu, kalian lakuin aja. Jangan banyak membantah. Intinya, kalian pasrah dan manut."

Mereka berdua mengangguk paham.

"Ayo, acting lagi."

"Aaaaakkk!! Sakitttt Kak Tolong.....hiks..hiks... sakit Kakkkk...." rintih Naira dengan suara isakan tangis yang kencang.

ENGRAVEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang