🥀20 [Jadian?]

5.4K 142 7
                                        

“Adit! Gue diterima di perusahaan itu! Ya ampun, nggak nyangka gue!” pekik Naira yang saat ini sedang duduk-duduk santai diruang tengah sembari menonton drama korea.

“Gue baru mau nelfon lo. Mau ngabarin kalau gue juga diterima disana.” ucapnya di sebrang sana.

Naira memekik girang ditempatnya. “Seriusan lo?! Aaaa gila seneng banget gue. Akhirnya kita bisa satu kantor, cuy!”

“Iya. Gue juga nggak nyangka. Tapi yang jadi masalah si Tita nih. Dia nggak rela kalau gue harus ke Bandung.”

“Yaelah, nggak usah Bucin ya, Dit. Cuma gara-gara cewek lo tolak lagi tawaran kerja disana.”

“Pala lo pitak! Siapa yang mau nolak?! Gue aja lagi berusaha jelasin ke dia. Kalau dia nggak mau ngerti, yah terpaksa harus kandas.”

“Yee, sok puitis lo pake Kandas segala.”

“Bawel lo popok Fir'aun. Udah ya, keburu si Tita balik dari Toilet.”

“Ya.” lalu telfonpun terputus dan ia menaruh ponselnya diatas meja lalu kembali menonton drama korea dengan fokus.

Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, dan sesosok Adnan sudah berada di hadapannya sekarang. Dilihat-lihat cowok itu sepertinya sedang menahan marah, terbukti dari kepalan tangan cowok itu.

Naira yang cukup kaget melihat Adnan yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya langsung berdiri menghampiri cowok itu.

“Loh, Mas Adnan ngapain kesini?”

“Udah nggak waras kamu, Naira!” bentak cowok itu yang akhirnya meluapkan emosinya juga.

Naira mengernyit, “Maksud Mas apa?”

“Kamu makin hari bukannya lebih baik, tapi malah makin menjadi-jadi. Mas kira setelah Mas pergi ke Korea selama satu tahun lamanya, kamu udah bisa berfikir dengan benar! Nyatanya, kosong! Justru malah makin parah!”

“Maksud kamu apa, Mas?!” nada suara Naira ikut meninggi.

Adnan mendengus keras, “Setelah menginap berdua di Hotel dengan Adit di Bandung, lalu sekarang kamu mau mengumumkan ke semua orang kalau kalian berdua pacaran! Iya?!

Sekarang Mas tanya, apa saja yang kalian lakukan di Bandung kemarin?! Hah?! Jawab!” sepertinya emosi Adnan semakin menjadi-jadi, jika dibiarkan seperti ini bisa-bisa ia menyakiti Naira.

Dengan hembusan nafas berat, Naira mengatur emosinya. “Mas, kamu itu salah paham. Mendingan kamu pulang aja, Mas.” ucapnya sambil menyentuh lengan Adnan, bermaksud untuk menyuruhnya pergi dari rumahnya.

Namun Adnan justru menepis tangan Naira kasar, dan mencengkram erat bahu Naira. Membuat cewek itu sedikit ketakutan.

“Apa yang kalian berdua lakukan disana? Hah?! Atau jangan-jangan, kalian sudah melakukan hal yang tidak-tidak disana?!”

Naira melepaskan cengkraman Adnan dengan kasar. Emosinya kembali naik saat cowok itu menuduhnya macam-macam.

“Kamu udah keterlaluan, Mas!”

Adnan tersenyum miring, “Jadi benar? Kalian udah berbuat macam-macam selama disana? Coba jelaskan, sudah berapa kali kalian melakukan itu?!

Naira mengerti maksud perkataan Adnan. Ia hanya tidak mengerti kenapa cowok itu bisa-bisanya menuduhnya yang tidak-tidak. Memangnya ia wanita murahan?! Ataukah memang selama ini Adnan menganggapnya begitu?

“CUKUP MAS! Maksud kamu apa nuduh aku kayak gitu?! Kamu fikir aku ini wanita murahan, iya?! Jadi selama ini, Mas menilai aku seperti itu?!” Naira mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengeluarkan air matanya dengan deras. Ia tidak menyangka Adnan kembali menyakiti perasaannya. Bahkan lebih parah dari sebelum-sebelumnya.

ENGRAVEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang