Naira membawa kopi expresso dikedua tangannya sambil berjalan menuju ke tempat duduknya. Cafe Onion terlihat ramai pengunjung karena bertepatan dengan waktu istirahat.
Sambil menyeruput kopinya, mata Naira menatap ke sekelilingnya, dengan dahi mengerut ia menepuk-nepuk pelan tangan Adit yang saat ini tengah terduduk didepannya sembari menyeruput kopinya.
“Lo tahu Bagas, kan?” Adit mengernyit menatap Naira bingung.
”Tahu, kenapa emang?”
“Dia sama Bu Dewi ngapain ya makan berduaan?” tanya Naira lagi.
Adit mengangkat bahunya, enggan menjawab.
“Coba deh lo lihat, kearah jam satu.” Aditpun mengikuti instruksi Naira. Matanya menyipit menyaksikan dua sejoli yang sedang makan bersama sambil sesekali tertawa.
Adit kembali menoleh pada Naira, “Biarin sih. Mereka mau ngapain kek atau apa, bukan urusan kita. Fokus aja tuh sama deadline lo. Bulan depan harus udah buat program baru biar bisa disetujui sama Board of Director.”
Naira mendengus keras, matanya mendelik tajam. “Jangan bahas pemrograman dulu deh. Kepala gue mumet mikirin itu. Gue cuman penasaran aja sama Bu Dewi. Bukannya dia tunangannya Kakaknya si Rania? Katanya mau nikah? Kok ya bisa sedekat itu sama Bagas yang notabenenya bawahannya dia?”
Adit lagi-lagi hanya mengangkat bahunya acuh. Mungkin dia masih galau karena programnya ditolak mentah-mentah sama Pak Wijaya. Dia harus bisa cari ide lagi supaya bisa disetujui. Maklum, keuntungan yang ditawarkan perusahaan terlalu berharga jika ditolak.
“Kenapa sih emang? Biarin aja, Cil. Dia ini yang jalanin.”
Naira kembali mendengus mendengar jawaban Adit yang sekenanya. “Gue cuman ngerasa ada yang aneh aja, dan sekaligus penasaran. Karena pas dia bilang udah tunangan sama si Zafran itu, mukanya kayak nggak bahagia gitu. Harusnya kan seneng. Tapi ini engga.”
“Ya mungkin dia pusing aja kali mikirin acara pernikahannya nanti. Kan ribet tuh ngurusin ini itu segala macam.”
Naira manggut-manggut, “Mungkin kali ya.”
Adit mengibaskan tangan kanannya. “Udah, ayo balik ke kantor. Lo udah selesai kan?”
“Sebentar. Dikit lagi.”
🍃🍃🍃
“Sudah sejauh apa perkembangannya?” Adnan berusaha tenang bertanya pada Sekretarisnya yang bernama Ghea.
Ghea adalah sekretaris kesayangan Neneknya Adnan. Ghea sendiri sudah bekerja hampir delapan tahun di MXM Group. Dia yang jujur, disiplin, pekerja keras, cekatan, dan juga cerdas, membuat Kakek dan Neneknya Adnan merasa kagum dan bangga memiliki Sekretaris yang handal sepertinya. Bahkan, saat ia meminta resign karena ingin menikah saja, tidak diperbolehkan, dan memberikannya ijin cuti selama hampir sebulan. Kini gadis itu sudah menikah dan memiliki dua anak.
Naira juga kenal Ghea karena ketika SMA sering sekali diajak ke kantor oleh Neneknya Adnan. Alhasil, mereka menjadi dekat walau sekarang sudah tidak seintens dulu.
“Sejauh ini sudah ada pihak terduga sekitar sepuluh orang yang terlibat dalam kasus ini, Pak. Kemungkinan besar ada diantara mereka pelaku yang melakukan kecurangan dalam pembangunan Cabang baru yang ada di Jogja, Pak.” tukas Ghea cepat, menatap Adnan dengan sedikit ketakutan.
Biar bagaimanapun, Adnan masih atasan baru yang belum sepenuhnya ia tahu. Terkadang, Adnan sangat dingin dan tegas. Tak tanggung-tanggung, saat ada pegawai yang melakukan kesalahan sedikitpun, Adnan segera memberikan sebuah peringatan, baik dengan cara keras ataupun baik-baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
