🥀06 [Bertengkar]

5.3K 158 3
                                        

“Pasang yang bener bloon!” sungut Naira kesal sambil menepuk lengan Adit dengan keras.

“Sabar tai.” Aditpun berusaha memasang foto-foto aib Rere di bingkai foto tersebut dengan rapi.

Saat ini mereka berdua sedang sibuk dirumah Naira membuat Surprise untuk ulang tahun Rere besok.

“Eh, nanti kita ngerjainnya gimana. Jangan kayak tahun lalu jadinya malah failed. Pokoknya besok harus bikin dia nangis!” tukas Naira semangat.

Adit terkekeh pelan, “Lo kalau urusan ngerjain orang emang nomor satu lo, Cil. Parah lo bego!”

Naira tertawa renyah sambil menyiapkan kertas kado. “Yaelah setahun sekali ini, Dit. Gue punya ide. Gimana besok kita kerjasama aja sama Dosen. Kita suruh Pak Mustofa bentak-bentak Rere. Nanti gue line Rere kalau jadwalnya Pak Mustofa diundur jam 2 siang. Biar dia datengnya telat.”

Adit tampak menimang-nimang ide yang dilontarkan sahabatnya itu. “Lah kan jadwal kelas Pak Mustofa jam setengah dua. Dia telat 30 menit dong, Cil.”

Nairapun kembali berfikir, “Ah! Urusan itu gampang deh, nggak usah dipikirin. Pokoknya gimana caranya biar dia tuh telat!”

Aditpun setuju. “Yaudah oke.”

Merekapun kembali sibuk dengan segala macam peralatan untuk membuat kado. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang memencet bel rumahnya.

Merekapun sama-sama menoleh sambil beradu pandang.

“Siapa tuh, Cil? Coba lo liat sono!” ujar Adit, Nairapun mengangguk dan langsung melangkah menuju ke pintu.

Dibukanya pintu rumahnya dan sedikit tertegun saat mendapati wajah Adnan yang datar dan dingin. Sambil membawa laptop ditangannya.

“Mas Adnan? Ada apa, Mas?” tanya Naira sambil mengerutkan keningnya.

“Ada siapa aja didalam?” tanya Adnan tanpa basa-basi. Naira menoleh ke dalam sekilas lalu kembali menatap Adnan.

“Adit doang, Mas. Kenapa emang?”

Pertanyaan Naira tidak digubris oleh Adnan, melainkan cowok itu langsung masuk ke dalam rumah Naira. Sedangkan Naira menutup pintunya dan mengikuti Adnan dengan alis berkerut.

“Saya tidak akan membiarkan kamu dirumah berduaan aja sama Adit. Takut-takut tetangga yang lain lihat. Nanti jadi fitnah.” ucap Adnan tiba-tiba.

Naira memberengut, “Kita kan nggak ngapa-ngapain, Mas. Kita cuma lagi bikin kado buat temen Naira besok.”

Adnan tidak menjawab, melainkan terduduk di sofa, disamping Adit.

“Eh, ada Bang Adnan.” sapa Adit kaget, sedangkan Adnan hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Naira duduk disebrang Adnan dengan pandangan kesal. “Emang harus ya, Mas. Perasaan kalau kita berdua dirumah Mas Adnan aja tetangga nggak ada yang ngomong macem-macem.”

Adnan menaruh laptopnya diatas meja dan menatap Naira dengan mengangkat alis kanannya. “Itukan karena mereka udah biasa lihat kamu yang sering main kerumah.”

“Ya tapikan kalau ada Mas disini Naira nggak bisa leluasa. Mas kan bisa ngerjain urusan kantor di kamar tamu, atau ruang depan. Jangan disini juga, Mas.” sungut Naira memprotes, sedangkan Adit hanya bisa diam sambil fokus pada kegiatannya.

“Kenapa memangnya? Biasanya juga kamu yang sering ganggu saya. Tapi saya nggak pernah protes, kan?”

Naira mencibir, “Nggak pernah protes gimana? Orang Naira sering kena semprot.”

ENGRAVEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang