Kesal, kecewa, marah, senang.
Dicampur jadi satu, hingga membuat Naira pusing sendiri memikirkannya. Rasanya sungguh aneh, ia fikir hanya dirinya yang mengalami percintaan yang tidak ada bentuknya sama sekali.
Status saja ia masih diawang-awang, belum dipastikan keberadaannya. Entah sampai kapan Adnan akan mendeklarasikan tentang hubungan mereka.
Belum lagi muncul sosok perempuan yang selama ini Naira kenal sebagai mantan kekasih sahabatnya, Adit. Yang tiba-tiba datang ke kehidupannya dengan Adnan.
Pusing sudah Naira dibuatnya. Ingin marahpun rasanya tidak berhak. Sebab, Adnan masih belum memantapkan perihal hubungan mereka. Pacaran? Atau masih sebatas teman kecil dan atau tetangganya. Fiuh! Bingung sampai ke ubun-ubun!
"Makan! Diliatin doang mah nggak sampe kenyang perut lo!" ucapan Adit sukses membangunkan Naira dari fikiran suntuknya.
Cewek itu mendongak, menatap lawan bicaranya dengan wajah nelangsa. "Gue boleh mati aja nggak sih?" tanyanya datar.
Adit tersedak salivanya sendiri. Menatap cewek itu dengan mengerut. "Kenapa lagi lo? Galau gara-gara si Adnan deket sama si cabe itu?"
Naira menghela nafasnya berat. Mengaduk-aduk Cappuccinonya dengan tatapan kosong. "Rasanya capek, perasaan gue dimainin terus kayak yoyo. Entar diangkat, entar dijatuhin. Udah gitu status kita juga belum dipertegas sama dia. Eh sekarang udah muncul orang ketiga aja. Gini amat ya hidup gue, Dit."
Bukannya simpatik, cowok itu justru tertawa mengejek. "Udah gue bilang berapa kali ke elo, lo pertegas lagi sama dia lah, status kalian itu sebenarnya apa? Jangan sampai si cabe itu yang ngerebut posisi lo. Ya nggak bisa dipungkiri juga kalau misalkan tiba-tiba Adnan jatuh cinta sama si cewek toxic itu. Kalau beneran terjadi, mau gak mau lo harus rela lepasin.
Nih, gue bilangin aja ya, Cil. Mencintai itu boleh, sah-sah aja. Tapi jangan terlalu berlebihan. Jatuhnya jadi obsesi, dan itu nggak baik. Cukup sekadarnya aja. Karena kita nggak pernah tahu sampai kapan kita terus bersama. Sebab, perpisahan itu pasti adanya."
Naira mendongak, menatap Adit dengan intens. "Kok omongan lo bener, tapi nyeremin sih?"
"Lebih baik lo jangan terlalu mikirin Adnan. Fikirin aja hal-hal yang buat lo senang. Adnan aja nggak pernah mikirin lo, kan? Jadi, buat apa lo mikirin dia? Yang ada hati lo makin sakit, otak lo nggak bekerja dengan baik, dan ujung-ujungnya di kerjaan lo nggak maksimal." sambungnya lagi.
Naira menghela nafas panjang.
"Mungkin lo harus coba bersikap biasa aja sama perasaan lo sendiri. Dan jangan terlalu peduli sama Adnan. Kalau dia emang benar-benar cinta sama lo, pasti dia bakalan nyadar atas perubahan sikap lo, dan akhirnya jadiin elo prioritas utama, karena nggak mau kehilangan lo."
🍃🍃🍃
"Nai?"
Hari ini Adnan lembur sampai jam 11 malam. Karena mengurusi masalah yang terjadi di dalam proyek pembangunan cabang baru. Ia bahkan lupa menghubungi Naira bahwa ia pulang telat.
Dan sesampainya dia dirumah. Ia melihat Naira yang tertidur di sofa ruang tengah, dengan tv yang masih menyala.
"Nai..." panggil Adnan sambil menepuk-nepuk pelan pipinya. Namun cewek itu tidak kunjung menunjukkan respon.
Helaan nafas berat terdengar, rasa lelah yang teramat hebat menguar begitu saja saat melihat wajah teduh Naira yang tengah tertidur. Adnanpun menaruh tas kerjanya di atas meja, mematikan tvnya, dan mulai membopong Naira menuju kamar tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
