Mata Naira membulat sempurna saat dilihatnya Adnan mengirim pesan padanya di Line.
Buru-buru Naira menjawab pesan tersebut dengan sedikit gugup.
Naira Pandhita: Iya, ada apa Mas?
[19.22]
Lalu Adnan kembali menjawab, sepertinya memang cowok itu sedang menunggu jawaban Naira. Buktinya ia langsung menjawab.
Adnan Pradipta: Mas mau minta tolong.
[19.22]
Naira Pandhita: Minta tolong apa Mas?
[19.23]
Adnan Pradipta: Tlg periksa Tante Devi, Mas cmn khawatir. Soalnya dia ga jwb pesan Mas. Om Alfi msh ada urusan diluar kota soalnya.
[19.23]
Naira menghela nafasnya dengan berat, giliran ada perlu aja ngechat coba kalau nggak ada. Boro-boro ngechat, inget aja engga. Tapi gapapa, demi calon Mertua, apapun akan gue lakuin.
Naira Pandhita: Siap 86!
[19.24]
Read.
Naira langsung melangkah cepat dari kamarnya menuju ke rumah Adnan tanpa melihat lagi balasan cowok itu.
"Assalamualaikum, Tante Devi." ucap Naira sambil mengetuk-ketuk pintu rumah Adnan, setelah berhasil membuka pintu gerbang rumah Adnan.
Saat tangan Naira bergerak untuk membuka knop pintu tersebut, dengan sedikit terkejut pintu itu ternyata tidak terkunci. Nairapun jadi bisa masuk dengan mudah.
"Tante?" panggil Naira dengan sedikit keras. Karena rumah itu sangatlah sepi. Hingga akhirnya ia tidak sengaja mendengar ada benda jatuh dari dalam kamar Tante Devi.
Buru-buru Naira menghampiri kamarnya yang terletak di ruang tengah. Naira terpaksa lancang dengan membuka pintu kamarnya tanpa permisi. Dan untungnya saja pintu itu tidak terkunci.
"Ya Allah, Tante!" paniknya kaget saat dilihatnya Tante Devi terduduk lemas dipinggir kasur dengan gelas kaca yang sudah pecah diatas lantai berisi air putih.
"Tante kenapa nggak telfon Naira kalau lagi sakit? Kan Naira bisa jagain Tante." ucapnya sambil membaringkan Tante Devi diatas kasur, lalu ia baluti dengan selimut.
"Tante cuma demam sama pusing aja kok, Ra." ucapnya parau. Naira memegang dahinya dengan punggung tangannya, dan ternyata sangat panas.
"Udah, Tante tidur aja, ya. Naira mau beresin ini dulu. Tante udah makan sama minum obat belum?"
Tante Devi mengangguk lemah.
"Yaudah, Naira beresin ini dulu ya. Naira bakal nginep kok temenin, Tante." ucapnya sambil membersihkan pecahan kaca itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang ada di kamar.
"Beneran nggak ngerepotin kamu, Ra? Kamu kan mau lulus, pasti sibuk ngurusin Skripsi."
"Nggak sama sekali, Tante. Naira udah selesai kok buat Skripsinya."
"Syukur deh, jadinya Tante nggak kesepian. Kamu tidur sama Tante ya disini?"
Naira mendongak dan akhirnya mengangguk.
🍃🍃🍃
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
