Bukan pertama kalinya Naira melupakan sesuatu. Sudah terlalu sering ia lupa dengan suatu hal yang terkadang sangat penting baginya.
Seperti sekarang misalnya.
Cewek itu lupa menaruh ID Cardnya dimana. Seingatnya ia menaruhnya di atas nakas, tapi ternyata tidak ada. Padahal semalam setelah meletakan ID Card itu di kamarnya, ia langsung pergi kerumah Adnan, bukan bermaksud menginap, hanya saja ternyata ia ketiduran, dan akhirnya Adnanpun membawa Naira ke kamar tamunya.
Jika dia tidak memakai ID Card, bisa-bisa ia kena sanksi dari atasannya. Baru seminggu ia bekerja, sudah mendapat masalah baru saja.
“Nai, ini udah jam berapa. Takut macet, nanti Mas juga telat sampai kantor.” Adnan tiba-tiba sudah berada didepan pintu kamarnya. Sementara Naira masih sibuk mencari-cari keberadaan ID Card nya dengan keringat dingin akibat panik yang sudah memenuhi wajahnya.
“Sabar, Mas. Ini masih nyar--Ah, dapat!” setelah melihat ID Card nya yang ternyata terselip di rak-rak buku, ia langsung mengambilnya dan segera memakainya sembari menghembuskan nafasnya dengan berat.
“Kebiasaan kamu. Masih muda udah pikun.” ketus Adnan yang sudah berjalan mendahului Naira. Sedangkan cewek itu hanya bisa mendengus mendengar perkataan tajam Adnan.
🍃🍃🍃
“Adit! Tungguin!” pekik Naira ketika melihat Adit yang ingin masuk ke dalam kantor.
Adnan yang berada di dalam mobilpun melirik Adit sekilas, lalu kembali menatap Naira yang sudah berdiri disampingnya.
“Mas, Naira masuk ya. Mas Adnan hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut, nanti kenapa-napa lagi. Kalau Mas kenapa-napa, nanti yang nyakitin Naira siapa.” candanya yang dibalas tatapan tajam dari Adnan.
“Ngomong apa kamu?!”
Naira terkekeh pelan, “Bercanda elah. Udah jangan marah-marah. Dari tadi pagi muka ditekuk mulu udah kayak kertas nasi uduk. Naira pamit ya, Mas. Assalamualaikum.” ucapnya seraya bersaliman dengan Adnan.
“Wa'alaikumsalam. Ingat ya, jangan buat masalah di kantor.”
“Asiaaap bossque. Dadah.” lalu Nairapun melangkah menghampiri Adit yang sejak tadi sudah menunggu dengan kesal.
“Lama banget lu kambing! Pake acara saliman segala udah kayak pasutri.” sungutnya dengan alis dikerutkan. Merekapun mulai berjalan masuk beriringan.
Naira terkekeh, “Gapapa. Itung-itung latihan. Sebelum nanti jadi pasutri beneran.”
“Emang dia udah nembak lo, Cil?”
“Belum.”
Adit langsung tertawa keras, “Yah haha, belum di tembak aja laga lo udah selangit. Sebelum lo menghayal jadi pasutri, lo pastiin dulu hubungan lo sama Mas lo itu. Mau pacaran atau HTSan.”
Naira berdecak kesal, “Bodo amat ah. Yang penting gue udah yakin banget kalau perasaan gue, cinta gue, rasa suka gue, udah dibalas. Jadi, gue nggak bertepuk sebelah tangan lagi.”
Adit manggut-manggut, “Iya. Serah lo dah, Kuda! Susah ngomong sama bucin mah.”
Sebelum Adit terkena jitakan, dia sudah lebih dulu pergi meninggalkan Naira yang menahan kekesalannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
