Sejak kejadian seminggu yang lalu, dimana Adnan akhirnya mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya pada Naira. Membuat cewek itu sepenuhnya percaya dan tidak lagi menuntut perihal status atau semacamnya.
Ia betul-betul percaya jika Adnan memang hanya mencintai dirinya. Bahkan, ia melupakan begitu saja kejadian Adnan yang ternyata tengah asyik makan berduaan dengan Rania di kantornya.
Namun bukan berarti ia tidak lagi mengawasi soal Rania. Justru, ia semakin gentar mencari tahu dengan apa yang sebenarnya cewek ular itu rencanakan. Sekaligus jaga-jaga saja, takut-takut cewek itu berbuat hal yang tidak diduga-duga, dan hal yang tidak diinginkanpun terjadi.
Sebenarnya sudah berapa kali Rania datang ke kantor Adnan? Naira saja sangat jarang pergi kesana, toh di rumah pun dia sudah bertemu Adnan setiap hari dan setiap waktu. Kalau ia sering datang ke kantor, malah hanya membuang-buang waktunya saja. Buat apa pergi kesana kalau dirumahpun akan bertemu?
Namun beda cerita kalau soal Rania. Dia siapa? Jika urusan bisnis menjadi tamengnya, bukankah itu tidak masuk akal? Lalu apa fungsi Zafran sebenarnya? Bukankah Kakaknya yang memiliki kendali penuh soal urusan bisnisnya dengan Adnan? Lalu kenapa yang sering datang itu Rania?
Naira berdecak kesal. Sambil mengetuk-ketukkan penanya diatas meja, ia mulai memikirkan strategi apa untuk bisa menjauhkan Rania dari Adnan. Namun sebuah pukulan yang sedikit cepat dan keras itu berhasil membuatnya loncat karena terkejut.
"Woy! Mikirin apa lo pagi-pagi?!" Adit bertanya seakan tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Sorotan matanya yang polos rasanya ingin sekali Naira pukul dengan palunya Thor.
Naira mendengus keras, "Ngagetin aja lo, Setan! Gue lagi mikirin sebuah strategi nih. Jangan ganggu gue dulu. Gue butuh pencerahan yang tenang, damai, dan yang bisa buat gue rileks."
Kerutan dalam di dahi Adit menjelaskan bahwa ia amat sangat penasaran dengan strategi yang diucapkan oleh cewek itu.
"Ngomong opo koe?! Masih pagi, Cil. Jangan bikin gue pusing soal kerjaan. Strategi kemarin aja gagal di setujui. Otomatis liburanpun tertunda."
Mengambil ancang-ancang untuk memukul, ia mulai mengepalkan tangan kanannya, dan langsung mendaratkannya ke lengan cowok itu dengan kencang. Sampai teriakan kesakitan terdengar dirungunya.
"Gila lo ya?! Kenapa gue ditonjok, bego?!" matanya melotot tak terima. Sementara Naira merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gue bilang jangan ganggu gue. Itulah akibatnya. Lagian elo juga sih bikin gue kesel mulu bawaannya. Kayaknya tingkat sok-tahu lo itu semakin meningkat grafiknya ya, Dit?!"
"Lo makanya ngomong tuh yang jelas. Jangan bikin gue penasaran. Kalau bukan strategi pemasaran, terus strategi apa?" Adit kembali serius. Posisi duduknya yang semula santai, berubah menjadi lebih tegak dan bersidekap dada, menatap lawan bicaranya dengan serius.
Naira mendesah panjang, "Ini soal Rania. Gue lagi mikirin gimana caranya supaya cewek ular itu pergi jauh dari Adnan. Tapi sebelum itu, gue harus cari tahu dulu perihal penyakitnya. Apa iya dia beneran sakit, atau cuma akal-akalan aja?" Naira menatap sekelilingnya, takut-takut ada yang mendengar percakapannya. "Jadi, gue minta bantuan sama lo juga, cari tahu soal penyakitnya dia. Feeling gue sih mengatakan kalau penyakitnya cuma tipuan. Tapi gue juga nggak mau asal nuduh aja tanpa bukti. Nanti disangka Mas Adnan gue bohong. Dan niatnya buat jatuhin Rania malah nanti jadinya kebalik, gue yang jatuh." ucapnya lagi dengan suara yang pelan.
Adit manggut-manggut masih dengan posisi yang sama. Lalu ia menatap Naira dengan tajam. "Adit yang tampan dan berkharisma ini akan membantumu, sahabatku." detik selanjutnya suara pukulan yang keras terasa dibagian belakang kepalanya berbunyi nyaring. Membuatnya meringis dan melotot tak suka kearah Naira.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomantikNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
