Semilir angin dipagi hari menyentuh permukaan kulit Naira yang saat ini sedang merentangkan otot-ototnya di Balkon kamarnya sendiri.
Sudah satu minggu lebih Naira memilih untuk tidur dirumahnya seorang diri. Dengan menahan rasa ketakutannya yang teramat mengusiknya karena acap kali ditakut-takuti oleh Adit.
Ia berusaha menahan rasa ketakutannya demi mempertahankan egonya.
Karena cewek itu sedang melakukan mogok bicara pada Adnan. Bukan kekanak-kanakan, atau cemburu, atau sebagainya. Ia hanya kecewa dengan Adnan karena minggu lalu, saat Naira mengajaknya untuk makan malam di sebuah Restoran—bermaksud untuk mentraktirnya dengan alasan ia sudah bekerja di Perkantoran—Cowok itu bilang tidak bisa datang pada hari Hnya karena sedang menemani Rania dirumah cewek itu, dengan alasan bahwa Rania sedang sakit dan tidak ada siapapun yang merawatnya.
Naira benar-benar kecewa dan kesal. Ia tahu, Adnan memang tipe orang yang tidak tegaan pada siapapun. Namun kalau soal Rania, bagi Naira harusnya menjadi pengecualian. Karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya cewek itu rencanakan. Dan, Naira sangat percaya sekali jika sakitnya Rania adalah fiktif belaka.
Dan soal bagaimana Naira bisa tahu Rania sedang sakit, itu karena Adnan yang menceritakannya pada saat mereka pergi ke Kantor bersama.
“Masih marah sama Mas?” Adnan tiba-tiba muncul didepan rumahnya saat Naira ingin menyalakan mesin motornya.
Hari ini ia libur kerja. Jadi, Naira ingin menghabiskan liburnya untuk bermain ke rumah Adit. Lagipula, dia sudah lama tidak bersilaturahmi dengan keluarganya Adit. Selama ini, selalu Adit yang sering berkunjung kerumahnya.
“Mas fikir aja sendiri ya, Mas. Naira udah pesen banyak menu, tapi tiba-tiba bilang nggak bisa dateng. Untung ada Adit yang kebetulan masih diluar, jadi dia yang bantu habisin.” sungut Naira yang mulai menyalakan mesin motornya.
Adnan memperhatikan Naira yang tengah sibuk dengan motornya. Rasa bersalahnya kembali bertambah saat mendengar rentetan kata-kata yang cewek itu lontarkan.
“Mas kan udah bilang maaf, Nai. Waktu itu, Rania tiba-tiba sakitnya kambuh lagi, dan Mas nggak bisa pergi gitu aja. Karena dirumahnya nggak ada siapa-siapa.”
Moodnya yang awalnya buruk jadi bertambah buruk karena mendengar alasan Adnan. Jadi, Rania lebih penting baginya?
“Kalau emang Mas lebih mentingin dia. Kenapa nggak dari awal aja Mas bilang nggak bisanya. Bukan dihari Hnya. Jadi, uang Naira nggak terbuang percuma.”
Masih kesal, masih dongkol, dan masih kecewa. Tapi bisa-bisanya Adnan berkata tanpa dosa. Bukannya membujuknya agar tidak marah lagi. Cowok itu malah semakin membuat moodnya bertambah buruk.
“Nai..” helaan nafas panjang terdengar dirungunya. Adnan mulai kelelahan karena bingung harus melakukan cara apalagi agar Naira tidak marah lagi padanya.
“Mas benar-benar nggak tahu kalau Rania bakalan kambuh. Awalnya Mas kerumahnya hanya untuk urusan bisnis. Tapi tiba-tiba dia kambuh, dan disana hanya ada Mas.” tuturnya mencoba memberi penjelasan pelan-pelan.
“Terus?” alis Naira naik satu, tanpa sedikitpun menoleh.
“Menurutmu, jika hanya ada Mas disana. Lalu dia kambuh, terus Mas pergi begitu aja?” Naira menoleh, menatap Adnan dengan wajah datarnya.
“Terserah! Intinya, Naira masih kecewa sama Mas Adnan! Udah ah, Naira mau pergi dulu.”
Saat Naira mengunci pintu gerbangnya, Adnan menghampirinya dan menarik lengan cewek itu.
“Nai... Mas harus gimana lagi sama kamu?” tanyanya frustasi.
Naira mengangkat bahunya acuh, “Urusi Rania aja, Mas. Dia kan lebih butuh Mas ketimbang Naira. Kalau aku kan masih ada Adit yang setia kapanpun aku butuhin.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomansaNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
