"Cari tahu semua informasi tentang dia, jika sudah dapat langsung telfon saya."
"Siap, Pak." Adnan langsung memutuskan sambungan telfonnya dengan seseorang yang sudah ia bayar untuk menjadi mata-matanya.
Kali ini, rencananya harus tepat sasaran! Tidak boleh meleset lagi. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menyelesaikan semua masalah ini, dan harus bisa menangkap oknum yang sudah melakukan kekacauan besar ini.
Kepalan tangan kanan Adnan yang meremas ponsel miliknya sampai memerah menandakan bahwa kondisi emosinya saat ini benar-benar sedang naik pitam.
Sekali saja ia mendapatkan informasi tentang siapa oknum tersebut, ia benar-benar tidak akan melepaskannya.
Adnan benar-benar tengah menahan emosinya saat ini, hingga akhirnya ia kembali menerima panggilan telfon dari orang suruhannya tersebut.
"Bagaimana? Sudah dapatkan informasinya?" tanyanya to the point, setelah ia mengangkat panggilan tersebut.
Setelah orang suruhannya selesai bicara, Adnan langsung mematikan sambungan telfonnya dan membanting ponselnya diatas sofa dihadapannya.
"Brengsek!"
🍃🍃🍃
"Sial! Mimpi gue kenapa buruk banget sih?!" sungut Naira kesal saat terbangun dari tidur siangnya. Ia lalu melirik jam waker disampingnya, dan jam tersebut menunjukkan pukul 11.00 AM
Ini sudah hampir satu bulan Naira berdiam diri di Apartemen baru miliknya yang ia sewa selama enam bulan kedepan. Dan, sudah hampir satu bulan juga Adnan tidak membalas pesan-pesannya. Sampai Naira dibuat kalang kabut karena dirinya. Kemana Adnan sebenarnya?
Kenapa semua pesan dan panggilannya tidak ada yang dijawab? Bahkan ponselnya masih aktif saat ia terus-terusan menelfon?
Lalu kemana dirinya? Apakah ia sengaja mengacuhkan Naira? Padahal Naira hanya ingin memastikan bahwa kondisi Adnan baik-baik saja.
Saat dirinya tengah melamun karena memikirkan cara apalagi yang akan ia lakukan untuk bisa bertemu dengan Adnan, tiba-tiba saja ponselnya bergetar.
Nama 'Adit' tertera di layar ponselnya, dan langsung saja ia mengangkatnya.
"Halo, Dit. Kenapa?"
"Lo dimana?"
"Di Mekah gue. Ya udah tau di Apart, pake nanya. Mau kemana lagi gue emangnya?"
"Oh iya ya. Sini aja Ra kerumah gue. Nyokap gue abis masak banyak nih, dia nyuruh gue buat ngajak lo kesini."
"Masak apa nyokap lo? Kebetulan gue lagi laper."
"Sop ayam pake bakso, ikan teri kacang, tahu tempe goreng, sambel terasi, ah banyak lah pokoknya."
"Astaghfirullah, gue jadi ngiler. Gue siap-siap deh sekarang."
"Okedeh, gue tunggu lo."
"Yoo." Naira buru-buru mematikan sambungan telfonnya, dan langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.
🍃🍃🍃
Untung saja hari ini hari libur, jadi di pagi hari seperti ini jalanan tidak terlalu ramai.
Naira yang sudah berpakaian rapi langsung melajukan mobilnya menuju kerumah Adit. Untuk saat ini, penghematan uang adalah yang utama. Makan gratis adalah sebuah berlian yang berharga jika untuk dilewati, jadi ia tak ingin melewatkannya begitu saja. Tunggu sampai ia bisa menemukan keberadaan Pangerannya lagi, baru nanti ia akan kembali makmur seperti dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomantikNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
