"Acil, sini, Cil!" pekik Adit memanggil Naira dari ujung koridor. Hanya Adit yang memanggil Naira dengan sebutan 'Acil' atau 'Anak Kecil' karena memang tubuh Naira yang mungil dengan wajah yang imut seperti anak kecil.
Nairapun melangkah menuju kearah Adit dengan penasaran. "Ada apaan, cuy?" tanyanya setelah ia berdiri tepat didepan Adit.
Adit menunjuk kearah mading, "Tuh, Cil. Nama lo masuk didaftar Mahasiswa dengan Nilai Tertinggi. Lo ada diurutan nomor 2, Cil. Anjayyy. Traktir gue lah."
Naira tersenyum lebar, "Biasanya gue selalu diurutan ke 5, ya, Dit. Kayaknya ujian kemarin gue lagi banyak hokinya, deh. Eh ngomong-ngomong urutan pertamanya siapa, Dit? Coba liat, elo kan tinggi."
Adit menjitak kepala Naira dengan gemas, "Makanya tumbuh tuh keatas bukan kebawah. Lo mah lebar engga, tinggi juga engga. Badan lo kayak cuttonbud tahu nggak?"
"Yeuuu bawel lo ah. Udah cepetan liat."
Aditpun kembali membacanya, dan sedikit terkejut karena mengetahui nama tersebut. Yang sebenarnya adalah Mantan Terindahnya Adit waktu diawal semester.
"Rania Khalista." jawabnya pelan. Ia mendadak lesu saat menyebutkan namanya. Sedangkan Naira tertawa renyah melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Yaelah, Dit... Dit... Muka lo kenapa mendadak jadi kayak Putri Malu begitu? Yang kalau disentuh langsung layu." ledeknya sambil tertawa renyah.
Adit kembali menjitak kepala Naira dengan kesal. "Berisik lo sempak dajal. Diem dah, gue lagi galau."
Naira mencibir, "Yaelah, modelan kayak lo galau nggak pantes! Udah sih ah, ngapain lo galau-galau. Percuma lo mikirin dia, lagian dia juga nggak mikirin lo. Sekarang aja Rania udah dapet gandengan baru lagi."
"Ya lo tahu sendiri lah, Cil. Dari awal kita putus, gue masih cinta sama dia. Cuma dia mantan terindah gue."
"Heh cumi! Sadar dong, lo itu cuma jadi korbannya dia doang! Lo itu nggak berarti apa-apa buat dia. Maaf-maaf aja nih ya, Rania itu nyari cowok cuma karena ganteng, pinter sama tajirnya doang. Buat bisa dimanfaatin."
Senyum Adit mengembang begitu saja, "Berarti gue ganteng, ya, Cil?" tanyanya sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
Dengan geram Naira meraup wajah Adit dengan tangan kanannya. "Kalau lo mah, cuma karena tajirnya doang. Udah ah yuk ke Kantin. Laper nih gue."
🍃🍃🍃
"Kalian percaya nggak sih? Adnan Pradipta bakalan promosiin film barunya di kampus kita besok." ucap salah satu gadis dengan rambut diikat satu.
"Hah?! Beneran? Kok gue nggak tahu, ya?! Gila ya, baru kemarin syuting film di Inggris. Sekarang, promosiin film yang lainnya. Gue hitung-hitung dalam satu tahun terakhir ini, ada 5 film yang diperanin sama Adnan." jawab salah satu gadis dengan rambut keritingnya.
Samar-samar Naira mendengar percakapan beberapa Mahasiswi yang sedang membicarakan Adnan, teman kecilnya.
"Lah, gue aja yang rumahnya berhadapan sama dia, nggak tahu sama sekali kalau dia besok mau promo film disini." ujar Naira sambil memotong somaynya.
Adit tersenyum meremehkan, "Ya itu sih udah derita lo. Emangnya lo dianggap apa sama dia? Cuma angin lewat."
"Berisik lo kambing. Diem, gue mau makan dengan tenang."
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
