🥀11 [Keputusan Besar]

5K 127 0
                                        

Adnan baru saja sampai dirumahnya. Ia baru pulang dari meeting tentang project film barunya kemarin waktu dia syuting di London.

Ia lalu masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan salam. Karena ia tahu Orangtuanya sudah tertidur, mengingat mereka dan Aiden baru sampai rumah tadi sore. Dan sekarang sudah tengah malam.

“Adnan.” panggil Alfi, Papanya tiba-tiba yang baru saja turun dari lantai dua.

Adnan mendongak menatap Papanya dengan datar. “Kenapa, Pa?”

Alfi menyuruhnya duduk di sofa ruang tengah. Adnanpun menurut. Ia menatap Alfi lekat-lekat.

“Papa mau bicara sama kamu. Dan, semoga kamu mau mengerti.” ucap Alfi serius. Adnan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kondisi Nenek kamu sekarang sudah tidak memungkinkan untuk mengurus MXM Group. Kamu sebagai ahli waris satu-satunya, mau tidak mau harus memegang perusahaan besar itu. Karena seperti yang kamu tahu, perusahaan itu kini hampir diujung tombak. Karena tidak ada yang mengurusnya. Sedangkan disana ada beribu-ribu karyawan yang menaruhkan nasibnya disana.

Maka dari itu, Nenekmu mengadakan acara ulang tahun MXM Group, sekaligus untuk menobatkan kamu dan memperkenalkan kamu sebagai CEO baru disana.”

Adnan terkejut mendengar ucapan Papanya itu. Jujur saja, ia masih tidak ada niatan untuk menjadi CEO disana. Karena ia masih nyaman di dunia acting nya. Namun jika dia menolak, maka MXM Group bisa saja jatuh. Ia harus bagaimana sekarang? Haruskah ia turunkan egonya saat ini?

“Fikirkan baik-baik, nak. Karena ini adalah keputusan besar. Jika kamu menolak, maka bisa saja MXM Group akan jatuh dan kita akan mengalami kerugian yang fantastis. Karyawan, Saham, Investor, dan lain-lain.”

Adnan menatap Alfi dengan bingung. Ia bingung harus bagaimana.

“Papa percaya sama kamu, kalau kamu bisa menjalani tugasmu, dan mengurus MXM Group. Kalau kamu setuju, besok Papa akan ajari kamu tentang semuanya disana.”

Adnan mengelus-elus dagunya, typical orang yang berfikir dengan matang.

“Tapi gimana sama karir Adnan sebagai Aktor, Pa?” tanyanya bingung sambil menarik-narik rambutnya dengan kedua tangannya.

Alfi menghela nafasnya panjang, “Mau tidak mau kamu harus mengundurkan diri dari dunia entertainment, nak.”

Adnan berdecak. “Kenapa harus Adnan, Pa? Bukannya kita punya orang kepercayaan untuk mengurus MXM Group? Kita kan masih punya Pak Bayu, sebagai Direksi disana?”

Alfi menghela nafasnya berat, “Dia hanya bertugas untuk mengurusi saham. Dia nggak bisa mengelola MXM Group. Karena hanya CEO lah yang mempunyai tanggung jawab tersebut.”

Adnan diam tak bergeming. Fikirannya masih berkelana, mencari jawaban apa untuk masalahnya kali ini.

“Biarkan Adnan berfikir dulu, Pa.” ucapnya sambil bangkit berdiri.

Alfi manggut-manggut, “Oke, Papa harap kamu mau terima tawaran Nenek kamu dengan ikhlas. Demi para Karyawan disana.” Adnan hanya mengangguk dan langsung melangkah menuju ke kamarnya. Meninggalkan Papanya yang saat ini masih terduduk menerka-nerka jawaban apa yang akan diberikan oleh Putra Sulungnya itu.

Adnan menutup pintu kamarnya dan menjatuhkan dirinya diatas kasur nyamannya. Berkali-kali Adnan membuang nafasnya dengan berat.

Ia harus bagaimana sekarang. Karir didunia entertainment yang ia bangun susah payah, hancur begitu saja demi mengurus perusahaan Neneknya itu.

Lebih baik ia memejamkan matanya sekarang, untuk menenangkan fikirannya sejenak.

Tapi bukannya menenangkan fikirannya sejenak, dirinya malah tertidur pulas.

ENGRAVEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang