“Mas Adnan?!” ucap Naira kaget. Karena ternyata yang menolongnya saat ini adalah Adnan. Cowok itu memakai topi berwarna hitam. Mungkin agar tidak dikenal orang-orang bahwa dia adalah Adnan, sang Aktor Terkenal.
Adnan tidak menanggapi Naira. Adnan justru malah melintir tangan cowok itu sampai kebelakang tubuhnya.
“Minta maaf!” titah Adnan tegas. Cowok itu meringis kesakitan.
“Argh! Sakit anj*ng!” maki cowok itu emosi. Adnan semakin melintirkan tangan cowok itu sampai tulangnya berbunyi.
“Minta maaf, atau lo nggak akan gue lepasin.” Adnan berkata dengan sorot mata tajam dan menusuk.
“Iya-iya! Gue minta maaf. Gue nggak maksud lecehin lo! Sekarang lepasin gue!” lalu Adnanpun melepaskan tangannya dan mendorong bahu cowok itu dengan keras dan kasar. Setelah itu cowok itu berlari keluar dari gedung acara Ultahnya Rere.
Rere datang dengan raut wajah panik. “Ya Tuhan, Naira. Lo nggak apa-apa?” tanyanya sambil menangkup wajah Naira.
Naira menggeleng sambil membersihkan air matanya. “Nggak apa-apa kok, Re.” lalu tiba-tiba tangan Naira ditarik begitu saja oleh Adnan. Rere dan Naira sama-sama terkejut. Namun karena Rere sudah tahu bahwa itu adalah Adnan hanya bisa diam membiarkan cowok itu membawa sahabatnya.
Rere hanya memberi kode kepada Naira untuk menelfonnya nanti. Naira hanya mengangguk sekilas, kemudian mereka keluar dari gedung.
Ternyata Adnan membawa Naira ke parkiran. Mereka berhenti didepan mobil Adnan yang terparkir disana.
Adnan berkacak pinggang sambil membuang nafasnya dengan berat. Kemudian matanya beralih pada Naira yang menunduk ketakutan.
“Mau sampai kapan kamu kayak gini, Naira? Kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri. Saya kan udah pernah bilang sama kamu. Saya nggak bisa terus-terusan jagain kamu.” ucap Adnan mencoba menahan emosinya, karena bisa terdengar dari helaan nafasnya diakhir kalimat.
“Coba lihat pakaian kamu. Dengan kamu pakai dress ini, laki-laki diluaran sana pasti akan tergoda! Kamu mau diapa-apain sama mereka?” kali ini nada suaranya meninggi. Membuat Naira berjengit kaget.
Untung saja parkiran saat ini sepi, tidak ada orang sama sekali. Kalau ada, bisa-bisa malu Naira dimarahi dan dibentak-bentak oleh cowok.
Adnan melepaskan topinya dan melemparkannya ke dalam mobilnya. Lalu matanya kembali menatap Naira yang masih tertunduk takut.
“Jawab! Kamu nggak bisa ngomong?” entah kenapa Naira merasa ketakutan sekarang. Adnan benar-benar marah besar dengannya.
“Selama orangtua kamu nggak ada. Kamu itu tanggung jawab saya, Naira. Kalau kamu kenapa-kenapa, saya yang akan bertanggung jawab. Tolong jangan buat beban saya semakin berat karena kelakuan kamu yang semakin hari semakin menjadi.”
Bagai disambar petir, kata-kata Adnan barusan sungguh menyakitkannya. Dadanya sesak, seperti ada batu besar yang menghantam dadanya.
Naira mendongak, dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Mendengar kata-kata Adnan barusan, membuatnya naik pitam.
“Kalau Mas Adnan nggak mau merasa terbebani, yaudah, Mas jalani aja kehidupan Mas dengan semestinya. Nggak perlu fikirin Naira. Lagipula, aku juga udah bilang sama Mama, nggak usah titip-titipin Naira lagi sama Mas Adnan. Aku juga udah besar, kan. Nggak perlu dijagain.
Aku juga udah pernah bilang sama Mas, kalau Mas peduli sama Naira karena terpaksa, nggak usah dilakuin. Jalani aja hidup Mas sendiri. Nggak perlu repot-repot jagain aku. Apalagi karena terpaksa! Aku juga nggak mau membebani siapapun! Permisi!” setelah mengatakan itu Naira pergi meninggalkan Adnan dengan cepat. Sedangkan cowok itu tak tinggal diam. Dia melangkah menyusul Naira.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENGRAVED
RomanceNaira Pandhita, yang sudah menaruh rasa sampai sedalam-dalamnya kepada Adnan Pradipta sejak kecil. Sosoknya yang ceplas-ceplos tanpa tahu malu, sampai membuat Adnan geleng-geleng kepala dibuatnya. Sulit bagi Naira untuk mendapatkan cinta Adnan. Seba...
