JC. 02

33.1K 2K 90
                                        

Seminggu kemudian...

Zio sudah keluar dari rumah sakit tempat dirinya di rawat, dan kini pemuda berwajah tampan itu tengah diruangan Papi-nya.

"Jadi benar kamu ingin pulang ke Indonesia?" Tanya Zaky dengan menatap sang anak yang entah kenapa semakin tampan.

"Iya Pih. Aku juga ingin melanjutkan sekolahku disana. Tapi umurku berapa tahun sekarang?"

Zaky menyesap rokok yang berada ditangan-nya. "Umurmu sudah 19 tahun. Tapi jika kau sekolah kau kembali kekelas duabelas."

Zio mengangguk. "Jadi seharusnya aku sudah lulus?" Tanya Zio yang dapat anggukan dari Zaky.

"Tidak masalah yang penting aku kembali ke Indonesia." Ujar Zio.

"Baiklah papih mengijinkanmu pergi ke Indonesia. Kamu disana akan tinggal dirumah Oma, papih dan mamih tidak akan ikut, kami akan menetap disini." Ucap Zaky.

Zio mengangguk saja.

"Tapi kami akan sesekali mengunjungimu." Lanjut Zaky.

"Pesan papih, jaga pergaulanmu disana, pokus dengan pendidikanmu jangan memikirkan tentang cinta! Kamu disana akan ditemani sepupumu, Jack." Zaky kembali berucap.

"Ck iya. Lagian aku juga tidak tertarik dengan cinta." Decak Zio.

'Orang gue bingung. Kalau gue pacaran sama cewek gue gak normal tapi kalau sama cowok gue lebih gak normal.'

"Ohya? Kau benar-benar lupa ingatan, papih harap ingatanmu tidak kembali." Zaky berucap dengan menampilkan senyum smirk-nya.

Zio menyerit. "Maksud papih apa?"

"Sudahla lupakan."

'Aneh banget anjirr, biasanya yang masuk novel bakal dapet ingatan atau apalah, lah ini gue kagak.'
____

Zio menghela napasnya kasar. "Iya mamih,"

"Jangan iya- iya mulu! Harus dilakuin," Ucap Lidia.

"Iya Zio paham mamihhhh, Zio akan pokus belajar gak akan cinta- cintaan yang mamih dan papih iginkan. Zio juga akan jaga pergaulan Zio." Ucap Zio dengan menatap wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik.

"Maaf mamih cerewet, karena ini demi kebaikan kamu." Ucap Lidia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Bahkan wanita itu masih berharap jika Zio berubah pikiran untuk tak kembali ke Indonesia.

"Pesan mamih satu lagi. Jangan jadi cowok brengsek, hargai perempuan siapapun dia. Jangan buat anak gadis nangis Zi, kamu harus ingat mamih." Zio mengangguk mendengar pesan dari sang mamih-nya.

"Mamih tenang aja ya? Zio gak akan gitu," Zio mengusap air mata Lidia dengan lembut. Entah kenapa ia merasa sakit ketika melihat wanita yang berada di depan-nya menangis.

'Jangan buat semua orang kecewa untuk yang kedua kalinya, Zi.'

"Udah mih. Disana ada Jack yang akan mengawasi Zio. Sekarang Zio harus segera berangkat," Ujar Zaky setelah sekian lama berdiam diri memperhatikan anak serta istrinya.

"Zi, hikss.." Lidia memeluk putra satu satunya dengan sangat erat.

"Mamih, sayang kamu. Jaga diri baik-baik sayang. Mamih akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi kamu." Lidia berucap dengan melepaskan pelukannya.

"Iya mamih sayang, mamih juga harus jaga kesehatan ya kalau papih buat mamih nangis bilang ke Zio." Balas Zio.

"Heh!" Kesal Zaky saat namanya disebut-sebut.

Lidia terkekeh. "Papih kamu baik sayang,"

"Jangan terlalu memuji papih, mih. Lihatlah sekarang hidung-nya terbang," Lidia tertawa mendengar ucapan Zio sedangkan Zaky mendengus kesal.
____

Tepatnya jam sepuluh pagi, Zio sudah sampai di bandara Indonesia. Kini pemuda itu sedang mencari sepupu yang bernama Jack. Jack bilang ia tidak sendiri karena salah satu sepupu-nya juga ikut dan Zio jelas tidak tau.

"Ck mana sih?" Kesal Zio saat Jack tak kunjung datang.

"Sorry telat," Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Zio langsung mengalihkan pandangannya kearah orang tersebut.

"Z-zio?"

Dahi Zio menyerit, dirinya tau lelaki yang berada didepan-nya Jack karena Lidia pernah menunjukkan potonya sedangkan perempuan yang memanggilnya tadi ia tidak tau.

"Siapa?" Tanya Zio.

"Zi, ka--"

"Udah Sya! Lo lupa? Zio lupa ingatan." Potong Jack.

Sedangkan gadis yang dipanggil Sya itu menundukkan kepalanya menahan tangis.

"Siapa?" Tanya Zio.

"Tasya, sepupu lo juga." Balas Jack yang mendekat kearah Zio lalu memeluk tubuh tegap lelaki tampan itu.

"Gue seneng lo kembali Zi," Ucap Jack lalu melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Zio dua kali.

Zio tak mengenal Jack karena didalam novel tidak ada nama Jack. Mungkin Jack juga salah satu Figuran seperti dirinya, tapi Zio juga terkejut ternyata gadis didepannya yang tengah menunduk itu Atasya Putri, antagonis didalam novel ini.

"Z-zio," Gadis yang bernama Tasya langsung memeluk Zio erat dan menangis tersedu sedu.

Zio menatap Jack yang mengangguk. Lalu ia mulai membalas pelukan Tasya.

Sebenarnya dirinya sudah tau jika Tasya itu sepupunya tapi ia tidak menyangka jika akan secepat ini bertemu dengan Tasya, sang antagonis yang akan berakhir mati karena dibunuh protagonis pria.

Dan setau Zio Tasya itu cuek, gadis itu akan terlihat hangat pada Leon, protagonis pria yang digilai Tasya.

'Gue bingung anjirr, ini gimana sih? Kok jadi gini?!! Bukannya Tasya gak deket sama Zio?' batin Zio prustasi.

"Udah Sya malu diliatin orang," Ujar Jack.

Tasya pun melepaskan pelukan Zio dengan mengusap air matanya kasar.

"Sekarang kita langsung kerumah Oma," Ajak Jack.

Bersambung...

JADI COWOK? [SELESAI✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang