JC. 15

12.8K 842 38
                                        

Zio menatap gadis didepannya dengan penuh puja dan cinta. Lalu tangan pemuda itu bergerak menyingkirkan rambut Abel yang mengahalangi gadis itu menulis.

Abel mendongak menatap Zio lalu tersenyum. "Makasih."

"Kamu sangat cantik, sayang," bukannya membalas Zio malah melayangkan pujian pada kekasih hatinya.

Abel sudah terbiasa dengan pujian yang sering ia dengar dari mulut Zio. "Kamu juga tampan," Zio tersenyum lalu tangannya menarik pinggang Abel agar lebih dekat dengan tubuhnya. Kini mereka saling pandang.

"Your mine," Zio berucap dengan mengelus pipi gadisnya lembut. .

"Jangan tinggalin aku," Zio langsung memeluk Abel dengan erat seakan gadis itu akan meninggalkannya.

"Kamu yang jangan ninggalin aku, kamu liat banyak perempuan cantik diluaran sana yang ngejar-ngejar kamu, ak--" Ucapan Abel terpotong saat tiba-tiba Zio melepaskan pelukannya dan langsung membungkam bibir Abel dengan bibirnya.

Zio tak suka dengan ucapan gadisnya, karena sampai kapanpun dirinya hanya memilih gadis yang berada dihadapannya.

Zio melepaskan ciumannya lalu berujar. "What do you say, hm?"  Pemuda itu mengelus pipi gadisnya.

"Aku hanya mencintaimu, sayang."

-------

Zio terbangun dari tidurnya lalu memijat pelipisnya yang terasa sakit. "Jadi beneran Zio?" Gumam pemuda itu.

"Dimimpi sebelumya Abel hamil? Mati? Jadi yang hamilin tu cewek Zio? Maybe sih. Tapi apa penyebab Abel mati? Bunuh diri bisa jadi karena dimimpi sebelumnya tu cewek nangis-nangis kalau pun ada dalang dari kematiannya, siapa?" Zio menatap kearah depan dengan pandangan kosong.

"Brengsek banget lo Zi," dimimpi Zio ingat betul pemilik tubuh melalukan hal yang seharunya tidak di lakukan pada Abel akibat cemburu.

Zio mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh. Hatinya merasa sakit ia seakan merasakan apa yang di rasakan Abel. Dan entah kenapa dirinya merasa bersalah, apa mungkin ini perasaan asli pemilik tubuh. 

"Woy Zi, datang kek keu mimpi gue kasih gue petunjuk!"  Gerutu pemuda itu sebelum beranjak berdiri.

Zio memutuskan untuk kedapur karena tenggorokannya teras kering.

Sesampainya didapur pemuda tampan itu segera mengambil sebotol air didalam kulkas lalu meminumnya hingga habis. Ia benar-benar haus.

"Zi?" Zio menoleh ketika seseorang memanggilnya.

"Jack?"

"Lo kenapa belum tidur? Udah malam anjir," Jack berucap dengan membuka pintu kulkas untuk mengambil sebotol air dingin.

"Haus," singkat Zio lalu berjalan kearah kursi untuk ia duduki.

Jack mengikuti Zio lalu duduk disebelah pemuda itu.

"Zi," panggil Jack.

"Hm?"

Sebelum kembali berucap Jack menghela napasnya pelan. "Motif apa lo deketin Tasya?" Tanya nya to the point.

"Kenapa? Tasya sepupu gue," jawab Zio.

"Jangan ngasih dia harapan Zi, gue gak mau Tasya kesakitan untuk yang kesekian kalinya. Lo tau? Sikap lo sekarang seakan-akan ngasih Tasya harapan. Dan bagaimana pun Tasya, dia tetep sepupu kita Zi... Gue pribadi emang gak setuju lo sama Tasya. Selain Tasya kurang baik buat lo gue juga gak mau liat Tasya sakit hati jika terus-terusan sama lo," Jack berucap dengan menatap Zio serius.

Jack sudah menganggap Tasya adik kandungnya. Pemuda itu meski jengkel dan kesal dengan tingkah Tasya tak ayal Jack begitu menyayangi Tasya.

"Tapi... Semisalnya suatu saat lo benar-benar suka Tasya dan nerima dia gue gak akan ngelarang," Lanjut pemuda itu.

"Gue tau Tasya nyebelin Zi, tapi cinta dia sama lo tulus meski caranya salah. Gue gak tau sama diri sendiri  bisa-bisanya gue ngomong kayak gini ,"

Sedangkan Zio pemuda itu hanya diam. Tiba-tiba saja pemuda itu mengingat ciumannya dengan Tasya membuatnya kecanduan dan jantungnya ikut berdetak. Disisi lain dirinya sangat menyukai senyuman Manda membuat hatinya terasa nyaman. Tapi masalahnya, dia seorang perempuan.

'Gue benar-benar gilaa.'

'Gue gak normal,'

"Gue bingung," Ucap Zio dengan menatap Jack. Sedangkan pemuda itu terkekeh sinis.

"Bingung milih Tasya apa Manda ya Zi?" Sinis Jack dan  Zio hanya diam.

"Lo dari dulu emang brengsek!" Jack benar-benar emosi. Apalagi melihat keterdiaman Zio seakan mengiyakan ucapannya.
_______

Setelah kejadian pembicaraan Zio dan Jack mereka sedikit canggung sekarang. Apalagi melihat Jack yang masih terlihat kesal pada Zio.

"Ayang, buka mulutnya," Ucap Tasya dengan mengarahkan sesendok somay kearah Zio. Pemuda itu menatap Tasya lalu membuka mulutnya membuat gadis itu tersenyum.

"Sekali lagi ya,"

"Udah Sya, mending lo makan," Tolak Zio.

"Kalau gitu suapin sama Ayang," rengek Tasya entah kenapa membuat Zio terkekeh. 'Kayaknya gue emang gila! Inget Jin, tujuan lo dan inget juga lo itu cewek!'

"Jijik gila," celetuk Bisma melihat tingkah Tasya.

"Zi, jangan di layani nanti kegeeran terus malah makin nempel," Balas Akmal.

Leon dan Jack hanya diam tak ikut berkomentar. Jack masih enggan berbicara sedangkan Leon tak punya hak untuk melarang. Leon, pemuda itu memang tak setuju dengan Zio dan Tasya tapi jika Zio maunnya dengan gadis itu Leon tak bisa menghalangi meski Leon berkeinginan Zio mendapatkan gadis yang  baiknnya sama dengan Abel. Manda misalnya.

"Sirik aja lo-lo pada!" Kesal Tasya.

"Idih najisss."

"Udah! Sya makan sendiri," ucapan Zio membuat Tasya kesal lalu gadis itu kembali memakan somay didepannya dengan tak selera.

"Jangan ngambek," bisik Zio saat pemuda itu ingin mengambil tisu didekat Tasya.

"Zi," gumam Tasya lalu tangan gadis itu meraih tangan Zio yang berada dibawah meja dan menggenggamnya erat membuat Zio sedikit terkejut.

'Zio cuma milik gue!! Gue bisa aja nyingkirin peremuan lain termasuk si Manda sialan itu.'
______

Zio kayaknya udah gilaa ya? 😌

Zio kayaknya udah gilaa ya? 😌

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TASYA. Cocok gsih?

JADI COWOK? [SELESAI✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang