Si bungsu kembali berulah pagi ini. Bunda dibuat pusing saat Jungkook hanya memakan sedikit sarapannya.
"Itu gimana ceritanya makan cuma 2 sendok?" tanya Bunda sambil berkacak pinggang.
Ayah yang duduk disebelah Jungkook akhirnya menarik Jungkook ke pangkuannya lalu menyodorkan sendok berisi nasi.
"Ayo Aaa.." kata Ayah.
"Mmm..." Jungkook menggelengkan kepala tanpa membuka mulutnya.
"Dek, kalo ga makan gimana bisa konsentrasi belajar di kelas?" tanya Ayah.
"Kan tadi udah.." jawab Jungkook.
"Tapi cuma 2 sendok. Kenapa? Biasanya kan habis makannya?" pancing Ayah.
"Takut gendut kayak yang Seokjin bilang tuh, Yah" potong Bunda.
Ayah pun menaruh kembali sendok berisi nasi itu.
"Ayah ga suka ya kalo adek mulai aneh-aneh kayak gini. Kalo makannya dikit lama-lama bisa sakit. Mau masuk rumah sakit trus diinfus kayak kelas 5 dulu?" ujar Ayah.
Mata Jungkook terbelalak saat Ayah mengingatkannya pada pengalaman pahit itu.
"Iih Ayah. Waktu itu kan adek ga sakit tapi mobil Kak Seokjin yang kecelakaan. Jangan cerita itu lagi iih.." jawab Jungkook sambil merengut.
Sedikit protes karena saat itu ia dirawat memang bukan karena sakit melainkan karena kecelakaan mobil bersama Kakaknya.
Jungkook jadi kesal karena tiba-tiba merasakan lagi suasana menyeramkan itu meski ia hanya ingat sebagian.
"Sama aja. Kalo sakit juga bisa diinfus lagi kayak waktu itu. Mau?" potong Bunda lagi.
"Ayo aa..." kembali Ayah menyodorkan sendok berisi nasi.
Tanpa menunggu lama Jungkook menerima suapan Ayah. Ia paling tidak suka berurusan dengan dokter, infusan, dan teman-temannya.
Bunda pun bernapas lega melihat si bungsu melanjutkan makannya. Ia lalu beranjak membereskan peralatan masaknya.
"Biarin aja Yah, kalo ga mau makan, nanti ga aku anterin ke sekolah biar besok dapat panggilan" ujar Seokjin yang tiba-tiba muncul.
Rupanya pria yang sudah berpenampilan rapi siap ke kantor itu mendengar keributan kecil yang terjadi.
Ia lalu duduk meminum kopinya dan memakan roti panggangnya.
"Kak, adek tuh ga mau gendut soalnya nanti badannya jadi kaku!" jawab Jungkook.
"Kenapa kaku?" tanya Seokjin.
"Gimana kalo mau kayang atau body roll? Gimana kalo nanti aku ga bisa nari lagi?" ujar Jungkook.
(Body roll : gerakan meliukkan tubuh membentuk seperti lingkaran dengan berporos pada pinggul)
"Lho Justru malah lebih bertenaga kalo nari tapi badannya padet. Di foto juga lebih gemesin kalo pipinya chubby. Coba tanya Bunda, Ya kan Bun?" jawab Seokjin.
Mata Jungkook berpindah menatap Bunda yang sedang mencuci peralatan masak namun tersenyum lebar setelah mendengar perkataan Seokjin.
"Seokjin, gangguin bayinya terus dari semalem??" ujar Bunda menegur Seokjin.
Jungkook tahu itu hanya pura-pura karena Bunda masih tersenyum.
Jungkook pun memeluk sang Ayah dan mulai merajuk.
"Ayah, aku dianter Ayah aja ke sekolah. Jemputnya juga ya? Aku ga mau sama Kakak atau Bunda. Kakak sama Bunda jahat"
.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAYON ( Revisi )
FanfictionDia dipanggil adik karena dia yang termuda dirumah. Kakak keduanya adalah teman yang siap untuk mengajaknya sedikit 'nakal' sementara Kakak sulungnya bagaikan sosok Ayah kedua baginya. Dia sederhana namun membawa banyak kisah bagaikan pensil krayon...
