"Selamat siang, Tuan. Saya Kim Seokjin. Wali dari Kim Jungkook" jawab Seokjin sambil mengulurkan jabatan tangan.
Tuan Cha menyambut sembari tersenyum sekilas.
"Tuan Cha Junsu ini termasuk dalam kelompok pemegang saham yayasan golongan 1, Pak Seokjin" ujar Bu Ara.
'Tuh kan...
Emang kamu ya, dek!
Siap-siap aja angkat koper ini..' batin Seokjin.
"Kamu walinya?" tanya Tuan Cha kepada Seokjin.
"Iya benar, Tuan" jawab Seokjin.
"Dia Kakak Kim Jungkook. Pak Seokjin yang bertanggung jawab mengenai masalah pendidikan Jungkook" jawab Bu Ara.
Tuan Cha tampak mengerutkan alisnya sembari memperhatikan dengan seksama Seokjin dan Jungkook untuk beberapa saat.
"Saya kira tadi kamu Papanya. Dia nempel banget kayak anak saya kalo lagi sakit dan kambuh manjanya"
Sejenak Seokjin dan Bu Ara bertukar pandang sebelum akhirnya wanita itu tersenyum lebar lalu memberikan penjelasan pada Tuan Cha.
"Mungkin karena usia yang terpaut jauh jadi Jungkook kelihatan seperti anaknya. Pak Seokjin ini anak sulung di keluarga mereka" jawab Bu Ara.
"Terpaut berapa tahun?" tanya Tuan Cha.
"17 tahun, Tuan. Jungkook lahir waktu saya di tahun akhir kelas 11" jawab Seokjin.
"Oh jauh juga ya. Kalau gitu orangtua kamu umur berapa sekarang?"
'Ini kenapa jadi kayak interview pekerjaan sih?' Batin Seokjin lagi.
"Kalau Ayah tahun ini usianya 57 tahun, kalau Bunda 55 tahun"
Sekali lagi Tuan Cha mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ayah kamu aja udah mau 60. Berarti anak ini memang lebih pantes jadi cucunya" ujarnya.
Seokjin hanya bisa tersenyum canggung sementara Jungkook tiba-tiba menarik kepalanya yang tadinya bersandar di dada Seokjin, kini menengadah menatapnya.
"Ka-kakak..." panggil Jungkook pelan
"Ya?" Seokjin menunduk menatap Jungkook sambil menghapus sisa airmata di pelupuk bulat Jungkook.
Jungkook terdiam sejenak sembari kedua tangannya yang mulai tampak padat berisi itu meremat kedua sisi jas yang dikenakan Seokjin.
"Kenapa, dek?" tanya Seokjin.
"A-adek ga mau..." ucap Jungkook dengan bibir yang mulai manyun.
"Lho, ga mau apa?" Tanya Seokjin.
"Adek...G-ga mau jadi cucunya Ayah sama Bundaa....Uwaaaa!!!"
Pecahlah tangis Jungkook yang membuat tiga orang dewasa disana tercengang.
"Eh adek, astaga. cup, cup. Ngga, Ngga. Adek anaknya Ayah sama Bunda kok. cup, cup"
Sementara Seokjin panik menenangkan Jungkook, Bu Ara justru malah tampak menunduk menyembunyikan senyum lebarnya.
"Waduh, S-saya salah ngomong ya?" Tanya Tuan Cha yang juga tampak bingung melihat Jungkook menangis sejadi-jadinya.
"Ngga apa-apa, Tuan. Jungkook memang masih kekanakan banget. Maaf" ucap Seokjin sambil menenggelamkan kepala Jungkook di dadanya untuk meredam suara tangis Jungkook.
Bu Ara akhirnya ikut turun tangan membantu. Dia beranjak dari kursinya dengan membawa beberapa lembar tissue.
"Sudah cukup nangisnya, Jungkook. Sudah kelas 7 lho ya" ucap Bu Ara tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAYON ( Revisi )
FanfictionDia dipanggil adik karena dia yang termuda dirumah. Kakak keduanya adalah teman yang siap untuk mengajaknya sedikit 'nakal' sementara Kakak sulungnya bagaikan sosok Ayah kedua baginya. Dia sederhana namun membawa banyak kisah bagaikan pensil krayon...
