04. Cinta dan Obsesi

18.4K 2.5K 683
                                        

WARNING : Mengandung adegan yang tidak sepantasnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kecuali kalau sudah halal.

Beberapa jam sebelumnya...

Selaku sweeper yang menyapu rombongan di barisan paling terakhir, langkah Bayu ikut memelan saat Tesla yang berjalan dihadapannya juga mengurangi kecepatan langkahnya. Selagi barisan memanjang itu masih menyatu, Bayu sama sekali tidak terdistraksi, masih menikmati pola langkahnya meski berat. Namun saat Tesla berhenti dan barisan terus berjalan, barulah ada tanda tanya di kepalanya.

"Kenapa?"

Tesla menoleh ke belakang. Masih dengan raut jutek. "Kita jaga jarak aja. Males bareng mereka."

"Lo lagi dapet ya?" Terka Bayu hati-hati. "Emosi mulu perasaan."

Pemudi itu tidak menjawab. Tesla juga bertanya pada diri sendiri, kenapa dia begitu berapi-api. Masalahnya bukan hal yang besar, tapi mengapa tidak ada kemauan untuknya melupakan. Malah semakin diingat, semakin kesal.

"Btw, lo kenal deket sama dia?" Tanya Tesla.

"Nggak. Dia sepupunya Raida dari Jakarta."

"Pantesan songong." Cecar Tesla, seolah baru mendapat kesempatan untuk menghujat lagi Kate.

"Sabar, orang sabar disayang Tuhan sama disayang gue." Goda Bayu tancap gas.

Bibir Tesla berkedut menahan tawa. "Lanjut yuk."

"Ceritanya ngalihin pembicaraan nih?" Sindir Bayu diakhiri kekehan. Meski demikian, dia tetap membuntuti Tesla yang sudah berjalan lebih dulu.

Di antara rintik hujan, mereka mendaki dalam keheningan. Menyusuri tanah yang kian curam menanjak. Dengan segenap hati, mereka berjalan diatas tanah licin dan melewati beberapa pohon yang tumbang. Tidak jarang mereka harus berjongkok dan merangkak untuk menaklukan tanjakan demi tanjakan. Beban carier yang berat seakan menjadi tantangan tersendiri untuk mereka.

Bruk!

Akibat tidak teliti memilih jalan, kaki Bayu tergelincir karena tanah yang begitu licin serta becek. Tesla yang kaget langsung berjongkok menghampiri Bayu. Nyeri seketika menyerang pergelangan kaki lelaki itu. Dia meringis, seratus persen yakin kalau sendinya terkilir.

"Coba sini kakinya!" Tesla memerintah.

"Jangan deh jangan. Lo emangnya bisa ngurut?" Bayu panik. Wajah Tesla terlihat tidak menyakinkan.

"Gue suka mijitin si Taksa kalau cedera pas main bola."

"Yakin?" Bayu meneguk ludahnya takut. Gimana kalau endingnya malah jadi salah urat? Kan gak lucu.

Tesla merotasikan bola matanya malas. "Percayain sama gue."

Karena Bayu tidak punya cara untuk menghindar, maka dia serahkan kakinya kepada paha Tesla dengan berat hati. Dilihatnya, Tesla membuka sepatu gunung dan kaos kaki yang dikenakan Bayu. Memijatnya dengan penuh kehati-hatian mengikuti aliran darah.

Bayu sepertinya sudah mulai percaya dengan kemampuan gadis itu. Sebab dari gerakannya, memang seperti terlatih. Rasanya pun tidak terlalu sakit.

"Keren gak?" Tukas Tesla berbangga diri.

"Keren, tapi lebih keren kalau jadi cewek gue."

Yang perempuan berdecak kesal. "Gue gak tertarik sama cinta-cintaan, Bay."

"Lo normal kan?"

"Ya normalah bego!" Spontan, Tesla menggeplak lengan Bayu. Lantas matanya menerawang ke depan. Udara yang dingin, tanah yang lembab seakan tidak mereka masalahkan.

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang