Beberapa orang sudah tumbang lebih dulu di dalam tenda. Menyisakan segerintil lainnya yang sibuk terjaga sambil memperhatikan Adinata dan Rafa yang tengah membuat jerat.
Tesla menggosok telapak tangannya guna menghalau dingin yang tidak ada habisnya, padahal dia sudah mengenakan kemeja flanel dan jaket secara bersamaan. Taksa yang menyadari itu, segera melepas sarung tangan dan memakaikannya tanpa banyak kata.
"Tidur gih, udah malem." Lelaki itu bersuara rendah. Hanya bisa didengar oleh Tesla.
"Belum ngantuk."
"Sini palanya," Taksa menepuk-nepuk pahanya sendiri. Gadis itu mulai merebahkan tubuhnya di pangkuan sang kakak.
"Lo berdua gak incest kan?" Celetuk Hema sembarangan. Mungkin kalau Adinata dan Rafa tidak berdiri, sudah tercipta debat kusir sesi kesekian kalinya. Terlihat dari mata Taksa yang sudah meruncing tajam dan Hema yang malah cengengesan.
Sambil menepuki pantat, Rafa berujar. "Kita pamit dulu. Mau pasang jerat."
"Jangan jauh-jauh," cegah Hema dramatis. "Nanti Akang rindu."
"Najis!" Sarkas Adinata mengundang gelak dari yang lainnya.
Kedua lelaki yang membawa perlengkapan itu segera menjauh dari titik pusat kumpul. Masuk sedikit ke hutan yang lebih gelap. Bermodalkan headlamp, keduanya mencoba mencari tempat yang dinilai cocok untuk disimpan jerat atau jebakan hewan yang bisa mereka makan. Cara ini memang tidak menjanjikan, tapi wajib untuk dicoba. Sebab keberentungan bisa datang kapan saja.
"Gue pasang disini." Ucap Rafa yang sudah merasa klop dengan struktur tanahnya. Anak itu berjongkok, segera memasangkan jerat hasil cipta tangannya. "Bismillah ayam hutan. Fiuhhhh," Rafa meniup jerat itu. Sebagai ala-ala ritualnya.
Disisi lain, Adinata melakukan hal yang sama. Tapi karena ada beberapa ikatan yang longgar, membuat prosesnya sedikit lama.
"Udah belum?" Rafa sedikit berteriak sambil menepuki wajahnya yang diserang oleh nyamuk.
"Bentar."
Rafa yang memiliki kesabaran setipis kertas memutuskan untuk menghampiri Adinata. Anak itu berjalan sambil melontarkan sumpah serapah kepada nyamuk tak berakhlak mulia itu. Sampai di tengah jalan, saat senternya tertuju ke rumput ilalang yang tinggi, sekelibatan dia melihat sepasang kaki. Langkah lelaki itu berhenti mendadak. Mencoba menajamkan penglihatan dengan menggosok dan menyipitkan mata.
"Din?" Panggilnya kaku. Tapi yang sedang sibuk sama sekali tidak menyahut.
"Adin?"
"Hmm?"
"Adin?!"
"Apa?!" Adinata sensi. Kefokusannya jadi terbelah karena Rafa yang memanggilnya setengah-setengah.
Rafa menoleh. "Sini buruan anjir! Ada kaki!"
Sukses dibuat penasaran, Adinata meninggalkan pekerjaannya terlebih dahulu. Bergerak menuju samping Rafa hanya untuk mengarahkan senternya kearah yang sama. Dan betul adanya, organ yang berbentuk kaki manusia dengan balutan sepatu gunung terlihat jelas disana.
Melihat gerak-gerik Adinata yang maju, Rafa langsung mencekalalnya dan bertanya. "Mau kemana?"
Adinata menunjuknya dengan dagu.
"Yakin?" Rafa tak percaya diri.
"Lo takut?"
"Siapa bilang?!" Sewot mahasiswa DKV itu penuh gengsi. Adinata hanya tertawa.
Meski dengan langkah kecil, kedua pemuda itu berjalan beriringan. Pelan namun pasti, sampai akhirnya mereka tiba di depan semak-semak itu. Sebelum bertindak lebih jauh, mereka saling tatap terlebih dahulu untuk menuntaskan tekad dan keingintahuan. Rafa mengangguk sekali, sebagai ancang-ancang untuk Adinata menyibak ilalang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fanfiction"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)