Karena Meru sudah lama menghilang dan akhirnya kembali, maka part ini dibuat khusus untuknya 🥀
Happy Reading 💝
Di sebuah sore yang panjang, yang mana di hari itu pernah tercipta tangis syukur yang nyaris sempurna dengan rona bahagia, Meru tidak pernah menyangka bahwa semua hal-hal baik yang sudah dia susun begitu rapih akan hancur bersamaan dengan bergetarnya tanah yang dia pijak.
Segerombolan batu besar menerjang tiada henti, benda mati yang semula tenang di tempatnya kini menjelma bak monster yang dapat menghabisinya kapan saja. Tubuhnya sudah terlempar tak tahu arah, bahu kokoh itu berkali-kali terbentur pohon dan bebatuan hingga akhirnya tersungkur jatuh dengan dagu yang menghantam kerasnya tanah. Anak itu memejam bersamaan banjir darah di mulutnya. Entah ada gigi yang patah atau lidahnya yang tergigit tidak sengaja.
"GEMPA BUMI!!" Teriak seseorang, menambah kepanikan manusia-manusia itu.
"Astagfirullah!"
"Ya Allah..."
"Lindungi kepala!" Meru memekik kencang.
"Pegangan kuat-kuat!"
"Awas pohon tumbang!"
Brug!
"TAKSA!!"
"Aman-aman kena bahu doang!"
Meski sekujur tubuh dirundung ketakutan tak tertandingi, Meru masih dapat meyakini jika teman-temannya berada dalam kondisi baik sebab masih bisa bertukar teriak. Doa terus diikrarkan agar gempa ini cepat berhenti dan mereka bisa lebih berpikir jernih untuk melakukan pertolongan pertama. Sayang seribu sayang, bertepatan dengan itu, likuefaksi terjadi. Dimana tanah-tanah mulai meleleh saking ganasnya getaran tanah dan awan panas. Tanah gunung itu menelan serba serbi yang ada disana. Pohon, batu dan tanaman kecil lainnya seakan dilahap suka rela. Tubuh-tubuh yang gemetar serta yang ditempeli pikiran buruk itu sudah berpencar akibat tidak terkondisikan baik.
Meru segera menjauh, berjongkok di balik pohon yang sekiranya bisa menjadi tameng dari hujan batu. Dia memang selamat dari timbunan batu, tapi tidak dengan pohon-pohon yang mendadak saling roboh. Meru benar-benar tidak punya tempat berlindung selain keluar. Naasnya, akibat debu yang perih menusuk mata dan suasana yang gelap layaknya malam hari, Meru tidak menduga lebih matang lagi saat kakinya menginjak dahan yang langsung menyebabkan dia tergelincir dan terguling-terguling di lereng gunung hingga keningnya menabrak akar pohon besar. Asin. Darah yang merembes terjilat oleh lidahnya.
"JENDRAL!! ADIN!! TAKSA TESLA!!" Namun tidak peduli se-menderita apa seorang Mahameru, dia tetap berdiri lagi meski dengan punggung yang membungkuk menahan nyeri dan meneriaki nama teman-temannya.
Lelaki itu terbatuk-batuk kencang, entah sejauh apa dia terguling, sampai teriakan dzikir itu hanya terdengar sayup-sayup di sepasang telinganya. Meru menutupi area hidung dan mulutnya. Melindungi paru-paru dari debu yang kini semakin menebal. Gelap menghitam. Pandangan tidak bisa dijangkau oleh indera mata. Dengan kaki yang sudah pincang, anak itu merangkak naik lagi. Bahkan dia sampai melempar cariernya ke sembarang arah agar lebih mudah.
Bertepatan dengan dia yang berada di tengah jalan, ledakan pertama di puncak Arjuno terjadi begitu hebat. Menghentak tanah dan membuat tubuhnya terpental lagi ke dasar lereng. Meru terlentang merasakan sakit yang teramat sangat, rupanya punggung anak itu tertusuk oleh dahan pohon yang keras dan runcing. Tanpa sadar dia meneteskan sebening air di wajahnya yang kotor oleh debu.
"Ayah, Ibu, maaf. Meru gagal pulang. Jani, aku cinta kamu." Lirih Meru putus asa.
Namun dalam bayang-bayang yang seakan mustahil itu, semesta tiba-tiba memberi rekaan wajah kedua orang tuanya. Ayah dan Ibu yang tengah menunggunya di muka pintu dengan senyum lebar serta rentangan tangan yang siap menyambutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fanfiction"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)