27. 13 September 2020

15.1K 2.5K 914
                                        

"Lo anak kedokteran kenapa milih jadi aktivis?"

Di bawah atap yang mereka sebut dapur, Adinata menoleh setelah dua kali meniup secangkir kopi yang secara tidak langsung dibuatkan oleh gadis di sampingnya. "Emang ada pasal yang ngelarang anak kedokteran gak boleh jadi aktivis?"

"Nggak ada juga," Kate menjawabnya setengah sangsi. "I mean, anak kedokteran kan super sibuk. Yang gue liat di kampus gue, hari libur selalu ada kelas tambahan. Kayak nggak ada waktu banyak buat kepentingan-kepentingan lain."

"Lo sendiri, anak teknik, cewek lagi, kenapa jadi aktivis?"

Menoleh dengan tatapan tidak percaya, kening Kate sedikit berkerut. "Lo tau darimana gue anak teknik?"

"Dari awal ketemu udah tau." Adinata menyesap kopinya penuh rasa. Melihat ekspresi Kate yang menduga-duga, akhirnya dia juga meluruskan. "Dari warna maraka di almet lo."

"Oh," mulut gadis itu membulat singkat, padat dan jelas. Baru ingat kalau warna setiap logo di dada kiri almamater kampusnya berbeda-beda. Jadi wajar kalau Adinata lebih mudah mengenal dan mengetahui asal muasal fakultasnya.

"Lo belum jawab pertanyaan gue." Kini giliran yang perempuan menoleh ke titik suara hanya untuk menaikan sebelah alisnya. "Perasaan gue yang nanya duluan."

"Nanti gue jawab, pertanyaan gak harus dibalas pernyataan kan?"

Dua bola mata itu berotasi jengkel. Pandai sekali lelaki itu menjebaknya! Namun meskipun begitu, Kate tetap memberikan jawaban yang jujur apa adanya. "Karena yang gue liat, menjadi aktivis adalah salah satu cara cepat mati di negeri ini."

"Munir, Salim Kancil, Marsinah, Widji Tukul adalah bukti dari kalimat gue sebelumnya."

Barulah Kate mengangkat wajahnya dan menoleh, hanya untuk mempertemukan pandangannya dengan pandangan Adinata secara tegak lurus. "Giliran lo yang jawab."

"Harus?"

"Gue gak terima pernyataan yang dijawab pertanyaan lagi."

Adinata mengangguk seolah akan menuruti. Tapi ternyata, dia tidak serta merta langsung menjawab. Sejenak, Adinata meletakan dulu cangkir kopinya yang sudah hangat tercampur udara dingin. Tatapannya berpindah lurus ke depan, menyorot pada kegelapan dengan penuh awang-awang. Lantas bibirnya yang tipis itu mulai melisankan rentetan kalimat dengan pasti.

"Gue mau mati dalam merdeka."

Otak Kate yang kapasitasnya tidak seluas milik Adinata, mendadak loading layaknya komputer yang sudah lama tidak dihidupkan. "Mati dalam merdeka?"

"Gue nggak setuju waktu lo bilang Bung Munir dan kawan-kawannya itu mati, mungkin raganya iya, tapi semangat dan perjuangannya akan hadir terus menerus dan berlipat ganda." Tutur Adinata, seolah tengah menjawab ketidakpahaman gadis yang melontarkan pandangan serius ke wajahnya.

"Bagi gue, mereka tidak hanya mati lalu dikuburkan, tapi mereka mati dalam merdeka. Namanya harum sepanjang peradaban. Bahkan ketika keadilan milik mereka belum bisa ditegakkan, mereka nggak perlu risau, karena masih banyak orang yang memperjuangkannya sampai detik ini. Atau kalaupun keadilan itu nggak berpihak sama mereka, mereka nggak perlu sedih, karena keadilan yang sesungguhnya akan diadili oleh hakim yang Maha Adil."

"Lo pengen kayak mereka?" Terka Kate yang merasa kalau tebakannya tidak melesat.

Namun fakta berbicara, Adinata justru menggeleng. "Mereka terlalu hebat untuk gue yang serba cukup. Gue hanya ingin menjadi bentuk dari semangat mereka."

"Dulu gue pernah mikir, kalau bermanfaat itu mudah. Tapi ternyata gak semudah yang gue bayangin." Sambung Adinata lagi.

"Bukannya itu cita-cita yang paling sederhana ya?" Asumai Kate.

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang