Prang!
Gelas yang sedang dicuci itu tiba-tiba terjun bebas dari genggaman Wanda. Tangannya seperti sangat licin hingga gelas itu jatuh menghantam wastafel dan pecah berserakan.
Perempuan paruh baya itu memegangi dadanya yang terasa sesak. Mendadak ada perasaan lain yang bersemayam di hatinya. Dia seperti ingin menangis, tapi tidak tahu penyebabnya apa. Dadanya sakit, seperti diremat hingga dia sedikit berat untuk bernafas.
"Ibu?"
Satu detik setelah panggilan itu terdengar, Wanda menoleh dan menemukan putri keduanya berjalan mendekat.
"Ibu ngapain disini? Biar aku aja yang beresin. Ibu lagi hamil, jangan kecapean."
Wanda hanya bisa mundur. Sama sekali tidak menyanggah sebab pikirannya sedang tidak fokus.
"Perasaan Ibu gak enak," kata Wanda memberanikan diri untuk bercerita. Menatap Nadine dengan tatapan penuh keresahan. "Kakak kamu pasti baik-baik aja kan?"
"Pasti Bu." Nadine tersenyum tulus, menutupi perasaan gundah yang sama adanya. Setelah membasuh tangan, dia mengusap punggung sang Ibu, berusaha menyakinkan. "Kak Rafa pasti cepet ditemuin dan kita bisa kumpul sama-sama lagi."
"Barusan gelasnya pecah. Ibu takut kalau itu firasat buruk."
Gadis yang usianya dua tahun lebih muda dari sang kakak itu hanya menatap pecahan gelas yang berserakan. Bentuknya benar-benar hancur seperti jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Padahal interval jarak dari genggaman tangan ke wastafel sekitar 20 centi meter saja. Satu hal yang aneh bukan?
"Ibu jangan banyak pikiran, kasian nanti baby juniornya jadi ikutan stress." Kata Nadine. Mencium perut sang ibu yang sudah beranjak delapan bulan. Mengerahkan segala cara untuk menghibur.
Berhasil. Wanda tertawa kecil, meski tidak berlangsung lama sebab setelahnya dia langsung bertanya. "Ayah ada ngabarin kamu gak? Dia jadi ke Malang hari ini kan?"
Tangan yang tengah meremat spon itu perlahan terhenti. Nadine meneguk ludahnya kasar. Bahkan lehernya berubah tertunduk lesu serta melumat bibirnya penuh gelisah. Sang Ibu tentu tahu pasti ada sesuatu yang anak gadisnya sembunyikan.
Sungguh, Nadine tidak percaya diri jika harus memberitahu yang sebenarnya. Tapi dia juga bukan tipekal anak yang bisa main kucing-kucingan, Nadine tidak pandai berkelit.
"Ibu nanya sama kamu, kenapa gak dijawab?" Suara Ibu Persit itu terdengar halus tapi tajam.
Nadine menatapnya setengah takut. Tak ada lagi pilihan, dia memang harus jujur.
"Barusan aku liat berita, di Papua terjadi pemberontakan lagi. Kemungkinan Ayah gak bisa pulang cepet, Bu."
Bagaikan sudah jatuh, kini ditimpa tangga pula. Wanda repleks memegangi keningnya. Menyandarkan pinggang rampingnya di meja dapur. Sungguh dia berada di puncak kegelisahan. Ingin marah, tapi kepada siapa? Gemuruh dada kian bergejolak tak karuan.
Bayangkan saja, Wanda seorang Ibu dan Istri yang anak dan suaminya sedang melewati masa-masa sulit disana. Berjuang untuk tetap hidup atau menyerah untuk mati. Lantas apakah pikirannya akan tetap baik-baik saja? Tentu jawabannya tidak.
"Allah mau ngasih kejutan apa sih sama keluarga kita? Kenapa harus bersamaan kayak gini kejadiannya?" Ibu hamil itu mulai meracau hilang kontrol. Suaranya berat, seperti menahan tangis.
"Istigfar bu... Yang tenang." Nadine memegangi bahunya yang gemetar.
"Tenang apanya Nadine?! Gimana Ibu bisa tenang kalau separuh nyawa Ibu sedang dipertaruhkan?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fiksi Penggemar"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)