Kilas balik, malam 16 Agustus 2020
Saat jam tangan berwarna hitam itu menunjukan pukul setengah sebelas, Adinata memutuskan untuk bangkit dari gulungan sleeping bag dan merangkak keluar tenda. Suasana unggun malam itu sudah sepi, ditinggal para pencari kehangatan untuk menidurkan tubuhnya yang lelah. Adinata hanya menemukan Meru yang menjadi obat nyamuk antara Jendral dan Kinar yang sedang asik bercengkrama. Mungkin pasangan itu sedang melakukan deep talk, Adinata pun tak ingin ikut campur.
"Bang, kresek yang isinya kopi dimana?" Tanyanya.
Meru diam terlebih dahulu sebelum menjawab. "Dibawa Kate ke dapur."
"Lo udah malem mau ngopi, awas gak bisa tidur." Tegur Kinar.
"Nggak ngaruh perasaan. Kopi jalan, tidur juga nyenyak."
Setelah itu, sambil menenteng cangkir aluminium, Adinata berlalu menuju tempat yang mereka namai sebagai dapur. Sebenarnya sangat tidak layak jika disebut dapur, karena ruangan ini hanya dinaungi oleh flysheet yang diikat pada pohon-pohon disana. Dan ternyata benar, di bawah flysheet itu matanya menatap seorang gadis yang berjongkok memunggunginya. Dari wanginya, pemudi itu tengah memasak mie instan.
"Kompor yang satu lagi mana?" Celetuk Adinata yang sepertinya menganggetkan Kate hingga bahunya terlonjak.
Pemudi berwajah jutek itu menoleh dengan malas. Mengikuti gerak Adinata yang langsung berjongkok di sampingnya. "Mau ngapain?"
"Bikin kopi." Kata Adinata sambil membuka kresek hitam yang dia cari-cari. "Kenapa? Mau lo bikinin?"
Lewat matanya yang berubah sinis, Kate hanya bisa menatapnya tajam lantas melengos tidak peduli akan keberadaan Adinata. Seolah tidak ada siapa-siapa disini. Hanya ada dirinya sendiri.
"Ambilin air." Adinata menunjuk botol mineral di sisi Kate.
Gadis itu langsung memperhatikan Adinata dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Masih punya tangan lengkap kan? Ambil sendiri."
"Megang satu botol nggak akan bikin tangan lo patah kan?" Sarkas yang lelaki. Seperti ada aliran listrik, kedua pasang mata itu saling melontarkan tatapan permusuhan.
Sebenarnya Kate amat sangat berani menghiraukan permintaan bocah lanang itu. Tapi dia sungguh enggan adu verbal lagi seperti kejadian demontrasi waktu lalu. Sungguh sangat menyebalkan! Apalagi indomie kari sotonya belum juga matang dan dia adalah tim indomie yang harus sampai lembek. Jadi mau tidak mau Kate terpaksa harus bersabar untuk terus ada disini. Setelah membuang nafas panjang, dia melempar botol mineral itu yang dengan sigap ditangkap oleh Adinata.
Yang laki-laki langsung fokus menunggu airnya bergejolak. Entah ini akan menjadi keputusan yang benar atau justru yang menjerumuskan. Sebab tertanam bersama Kate dalam situasi berduaan seperti ini sangatlah tidak menguntungkan.
Sementara Kate, gadis itu juga tampak memaksakan agar tetap tenang meski gondok setengah mati. Tangannya hanya sibuk mengaduk-aduk mie instan di dalam nesting.
Jengah dengan keningan seperti ini, Adinata pun menurunkan sedikit egonya untuk bertanya. "Lo anak Mapala?"
"Gak usah sok kenal bisa?!"
Menggeleng pelan sebab merasa aneh ada perempuan semacam Kate yang minim akhlak, Adinata menjawab dengan menirukan cara bicara perempuan itu. "Kalau gitu kita kenalan bisa?"
"Gue udah tau nama lo."
Gak salah juga sih, karena di beberapa kesempatan, nama keduanya sering disebut oleh teman-teman yang lain. Jadi secara tidak langsung mereka sudah saling tahu nama masing-masing. Dan Kate rasa, pertanyaan klasik Adinata itu hanya jebakan semata.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fanfiction"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)