18. Mereka Yang Beda Cerita

14.7K 2.3K 773
                                        

"Kapten! Di bawah ada korban!"

Tio segera berlari memangkas ilalang saat anak buahnya berteriak. Dia mencondongkan badannya ke bawah jurang yang menjulang tinggi hanya untuk mendapati seseorang yang tengah meringkuk dengan berbungkus dedaunan.

"Cepat lakukan evakuasi!" Perintah Tio mutlak.

Persiapan segera dipasang. Tali temali mulai diikat pada pohon sekuat mungkin untuk alat bantu menuruni jurang ini. Semua tidak ada yang diam. Bekerja cepat dan tepat sesuai jobdesknya masing-masing.

"Apa masih ada tanda-tanda kehidupan?" Tio bertanya pada tim yang memantau pergerakan korban lewat teropong.

"Ada pergerakan di perut korban, Kap. Kemungkinan masih hidup."

Tio mengangguk dengan rasa syukur. Perhatiannya kembali teralih pada yang lain. "Semuanya siap?"

"Siap Kap!" Jawab mereka kompak.

"Abdul, Doni, Reza turun ke bawah! Saya pantau disini! Kabarkan apapun keadaan korban!"

"Laksanakan!" Hormat Abdul.

Satu per satu personil Tim SAR itu melakukan rapeling secara bergantian. Karena sudah terlatih, semua dilakukan tanpa lama-lama. Jurang sekitar 65 M itu mampu mereka taklukan dengan penuh keselamatan sampai di dasarnya.

Ketiganya segera berlari, tentu dengan menerobos rumput-rumput liar. Tak peduli dengan goresan duri atau daun runcing yang melukai kulit dan muka, mereka seakan mencurahkan segala hal yang ada untuk membantu sesama manusia. Tapi semua mendadak berhenti saat menemukan korban itu justru tanpa busana. Dalam kedaaan tubuh yang tidak dilindungi kain apapun. Bahkan bagian vital seorang lelaki itu tampak terbuka kemana-mana.

Syok? Sudah pasti. Masalahnya, manusia waras mana yang bugil di tengah hutan seperti ini.

Korban itu dalam posisi meringkuk. Matanya terbuka dan dia tengah meracau seorang diri. Bahkan tidak mengindahkan ketiga Tim SAR itu yang berjalan mendekat.

"Ini gak salah?" Tanya lelaki berkumis baplang bernama Doni.

"Bukan bagian pendaki yang kita cari kali."

"Tes! Tes! Dicopy! Bagaimana keadaan korban? Bisa diangkat sekarang atau butuh personil lagi? Ganti!" Suara HT di pinggang Reza mengalihkan semua perhatian.

"Dicopy! Kapten kami butuh bantuan! Tolong kapten kesini! Ganti!"

"Dicopy! Meluncur!"

Sambil menunggu, Abdul mengeluarkan sleeping bag dan makanan dari dalam cariernya. Dia memanggil korban itu. "Mas, bisa mendengar saya?"

"Hahahahha.... Hihihi...." Lelaki itu justru tertawa sambil bertepuk tangan heboh.

"Ini buat kamu, ini buat kamu! Nanti kita main lagi ya. Hahahha." Racau lelaki itu dengan suara seperti anak kecil.

"Mas mau makan gak? Saya punya roti."

Lelaki itu menatap Abdul dengan tatapan teramat kosong, seolah memang tidak ada akal sehat yang dia punya. Dia beringsut duduk, hanya untuk memperjelas keadaannya yang kacau. Rambutnya sudah gimbal, sekujur kulitnya juga kotor-kotor oleh noda tanah yang manempel. Sedikit ada luka-luka yang dibiarkan begitu saja. Badannya sangat kurus kering tidak ada sari-sari manusia yang layak di tubuhnya. Nyaris menyerupai gembel yang seringkali ditemukan di jalanan kota-kota.

"Makan?" Tanyanya lalu tertawa lagi. Dia sudah berumur, tapi suaranya di mirip-miripkan seperti bocah TK.

"Tapi sebelum makan, Mas pakai selimbut dulu biar hangat."

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang