Di suatu malam di bulan kemerdekaan tahun lalu, pernah tercipta tangis histeris yang menampar hati. Sakit ketika didengar, terlalu mustahil untuk dipaksa berhenti. Dimana kala itu, seseorang pergi selama-lamanya karena sebuah kecelakaan tunggal. Meninggalkan seorang Istri dan sepasang anak kembar yang masih buta akan sebuah masa depan, yang masih belum selesai dengan dirinya sendiri, yang masih membutuhkan sosok Ayah di fase kehidupan pendewasaannya.
Shagita pikir, hujan air mata di masa itu, adalah hujan paling parah yang pernah ada. Namun dugaannya melesat kencang, seperti anak panah yang hilang kontrol. Nyatanya, di akhir Agustus, tepat setahun sesudahnya, ada hujan air mata yang jauh lebih deras dari yang sebelumnya pernah terjadi. Pun dengan rasa sakitnya, berjuta-juta kali lebih hebat dari kesakitan yang pernah dia terima seumur hidup. Perempuan itu berani bersumpah, perihnya luka yang membusuk lalu dicabik-cabik oleh ujung pisau dan berakhir diguyur air panas, tidak ada seujung kuku pun dari luka yang kini menjalar di hatinya.
Sungguh, tidak ada bentuk rasa sakit yang sebanding untuk dua kali kehilangan secara tragis.
Jeritan mencuat pada malam yang kelabu itu. Tubuh ringkihnya terpatah-patah sampai akhirnya tersungkur di depan jasad kedua anaknya. Shagita terasa mati ditempat bersimpuh. Ditikam oleh pedang tajam sampai dadanya terbelek tak habis-habis. Semesta Shagita sudah direbut. Sudah diambil kembali dengan cara yang terlampau menyakiti. Dia seperti terombang-ambing, dihabisi, dikuliti lalu dinistakan oleh kejamnya suratan takdir.
"YA ALLAH!!!" Perempuan itu berteriak pada langit yang menjadi saksi penderitaan. Nestapa kali ini, benar-benar menguji kewarasannya.
"KENAPA ENGKAU AMBIL ANAK-ANAKKU?! SALAHKU APA YA ALLAH?!! SALAHKU APA?! KENAPA ENGKAU MENGUJIKU DENGAN CARA SEPERTI INI?!"
Dia memukuli dadanya, berharap sesak itu bisa berkurang. "AKU RELA JIKA ENGKAU MENGAMBIL SELURUH HARTAKU, AKU RELA ENGKAU HANCURKAN KARIERKU, TAPI TIDAK DENGAN ANAK-ANAKKU YANG KAU AMBIL!!"
"AKU TIDAK PUNYA SIAPA-SIAPA LAGI YA ALLAH!! TOLONG KEMBALIKAN ANAKKU!! JANGAN ENGKAU AMBIL SEMUA YANG AKU PUNYA!!"
Shagita tidak berbohong saat dia berteriak seperti itu. Dia benar-benar sebatang kara. Dia adalah anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya, dia adalah Istri yang ditinggalkan suaminya dan sekarang, dia adalah Ibu yang ditinggalkan dua anaknya. Dalam waktu yang sama, seperti mereka datang ke dalam hidupnya. Lantas, bagian hati mana lagi yang belum remuk? Bagian hati mana lagi yang belum bernanah? Pahitnya semua kehilangan sudah dia rasakan sampai rasanya ingin ditelan oleh bumi.
Rumah masa kecilnya sudah pupus dan rumah masa depannya juga sudah menghilang. Meninggalkan dia seorang diri yang terlampau membenci kehidupan.
"Aku juga mau mati Ya Allah." Rintih Shagita putus asa, suaranya sarat akan kesakitan. "Untuk apa lagi aku hidup? Aku mohon Ya Allah, ambil nyawaku sekarang."
"Gigi... Nak. Istigfar." Sambil beruaraian air mata, sang Ibu mertua membelai punggung perempuan itu.
"Anakku meninggal, Bu. Kalau nggak ada mereka, aku bisa apa?" Tanyanya sembari menangis keras. Menebar luka pada orang-orang yang menyaksikan. Ditinggalkan dua anak sekaligus adalah sakit yang tidak bisa terdefinisikan oleh hitungan angka manusia.
Sayangnya, Ibu juga tidak tahu. Bagaimana esok hari akan berlalu tanpa kehadiran dua cucunya. Apakah akan lebih baik karena tidak ada lagi genderang perang di setiap pagi hanya karena rebutan kamar mandi, atau justru lebih buruk, karena ramainya rumah akan mati secara perlahan. Jika Ibu boleh meminta, tak masalah jika setiap hari tekanan darahnya tinggi karena mendengar suara ribut Taksa dan Tesla, asal mereka masih ada di sampingnya.
Namun, sebuah harap tak selalu berakhir dikabulkan. Harapan untuk panjang umur yang kerap kali disampaikan saat pertambahan usia, ternyata tidak berlaku untuk Taksa dan Tesla. Harap itu tumbang, yang meski dimohonkan sampai bersujud pun tidak akan terjadi. Sebab kematian, sudah ditentukan jauh sebelum mereka lahir. Sebab Taksa dan Tesla memang ditakdirkan untuk selalu bersama, termasuk meninggalkan dunia dan segudang cinta di dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fanfic"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)