"Udah semua Bang?" Pagi-pagi buta, Jendral bertanya pada Meru yang sedang menghitung jumlah rekannya yang sudah siap.
"10 disini. Tiga lagi nanti kita ketemu di jalan." Doa lelaki itu secara tidak langsung.
Seperti biasa, doa bersama selalu diutamakan. Kepala itu tertunduk serentak, merendahkan diri kepada pengatur segala. Mengharapkan keselamatan dan kelancaran untuk perjalanan ini. Tak lupa turut mengirimkan doa untuk rekan seperjuangan dimana pun mereka tersebar.
Berdoa selesai. Meru tetap memimpin perjalanan sebagai navigator atau penentu arah. Di belakangnya ada Jendral yang masih dipercaya sebagai leader. Sementara di paling ujung, sebagai antrian penutup, Taksa sebagai penyapu. Menggantikan Rafa sekaligus memastikan semua temannya berada dalam barisan yang searah dan tidak tertinggal lagi.
Berbeda dari kemarin, hari ini kaki mereka melangkah lebih awal. Bahkan matahari pun tampak masih malu-malu untuk menampilkan sinarnya. Sisa-sisa embun masih meninggalkan bercak di dedaunan yang mereka lewati. Tapi segelas wedang hangat dan rasa rindu rumah berhasil menopang tubuh mereka untuk membangun semangat ditengah dingin yang membuat malas bergerak.
"Kak, kita kan udah ketinggalan pesawat. Terus gimana?" Tanya Widya dalam keheningan.
"Kalau bisa, kita beli tiket dadakan. Tapi kalau enggak, kita pake kereta aja. Setau gue, tiket kereta bisa dibeli tiga jam sebelum berangkat." Papar Kinar.
"Mendingan pake kereta sih daripada kapal. Mabok laut aku, pusing."
"Makanya lo itu nurut sama gue! Disuruh minum antimo malah jajan cilok!" Sembur Hema menyalip dialog Kinar.
"Orang lo beli antimo anak! Mana mempan!"
Untuk sesaat Kinar terkikik geli menyaksikan debat kusir adik kakak itu. Sampai langkahnya berhenti sebentar saat suara Meru menguar di depan sana.
"Bentar lagi kita masuk ke lali jiwo! Tetep jaga jarak, ya. Jangan terlalu jauh, kalau mau berhenti tepuk pundak di depannya. Biar saling tunggu, biar barisan ini gak putus! Kedengeran gak sampe belakang?"
"Aman Bang!" Taksa cepat merespon sambil mengangkat jempol.
Perjalanan dilanjutkan. Memasuki jalan setapak yang kanan kirinya dipenuhi pohon karet yang tinggi. Di sepanjang jalan ditemukan pohon-pohon yang tergeletak mati dengan akar yang masih beriapan. Suasana berubah sepi, hanya terdengar suara gantungan lonceng yang menggantung di carier Adinata.
Tak lama, secara tiba-tiba kening Renjani menabrak carier Jendral yang mengerem dadakan di depannya.
"Kenapa?" Tanyanya, tapi Jendral memilih untuk mengacuhkan sebab dia juga sedang meminta penjelasan dari sang Navigator yang tampak kebingungan.
Meru berbalik badan. "Kayaknya kita salah jalan."
"Hah?" Jendral ternganga. Sungguh tidak terbayangkan bagaimana nasib kakinya jika harus putar balik lagi.
Jendral mengedarkan pandangan, saat kepalanya tertoleh ke jalur kiri, dia menemukan bambu yang menyilang, menutup akses jalan tersebut. Sementara di jalur kanan itu jalan buntu. Hanya ada jurang yang menjorok ke bawah begitu curam. Nyaris tidak mungkin bisa dilalui manusia.
"Ambil kiri," ucap Jendral meski sedikit tak yakin. Tapi bagaimana pun hanya jalur itu yang kemungkinan masih bisa mereka lalui.
"Ditutup Jen." Ungkap Meru sembari melumat bibirnya yang kering.
Jendral juga tidak buta. Jalur itu memang ditutup, tapi Jendral yakin jika potongan bambu itu tidak permanent. Sekali tendang saja sudah pasti koyak dan terlepas. Jadi mereka masih bisa menggunakan jalan itu untuk turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fanfiction"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)