31. Calon Sad Boy (?)

14.8K 2.2K 561
                                        

"Itu barang-barang kita yang di pos nggak akan ada yang nyuri?"

"Siapa juga yang mau? Orang isinya gitu doang." Taksa yang tengah meremukan indomie lekas menjawab pertanyaan Lea.

"Sorry to say nih, tapi di carier gue banyak barang berharganya."

"Jangan bilang lo metik bunga edelwies."

"Enak aja!" Lea spontan melempar kerikil. Posisi mereka yang berhadapan membuat benda bulat itu tepat sasaran. "Kenapa sih lo selalu mandang gue buruk? Kayak gue tuh nggak ada bagus-bagusnya di mata lo."

"Baru sadar? Kemana aja lo?" Tanpa dosa lelaki itu menimpali. Mulutnya komat-kamit menguyah dengan nikmat indomie yang tanpa diseduh itu. Belum lagi kerlingan mata yang seperti meledek sukses membuat seorang gadis terbakar amarah. Maka dalam sekali loncat, Lea merampas bungkus indomie itu dari tangan Taksa. Mungkin kalau hanya direbut saja Taksa masih bisa mempertahankan amunisinya, tapi karena Lea menggunakan taringnya untuk  menggigit tangan Taksa, maka sekantung indomie itu berhasil jatuh ke tangan musuh. Taksa mengaduh kesakitan, kontras dengan senyum lebar nan mentereng milik Lea.

"Gila, ya. Cewek zaman sekarang liarnya ngalahin singa betina."

"Berisik! Orang gue laper!" Ucap si gadis berambut hitam lurus sambil terus menyantap hasil rampasannya.

"Lo pikir yang punya lambung cuman lo doang? Gue juga punya." Taksa menatap sengit Lea yang duduk rapat di sisi kirinya. Lengan mereka sampai saling bersentuhan. Seolah-olah mereka tengah berada di tempat yang sempit.

"Taksa Batara Putra, lo itu cowok kan? Apa susahnya berkorban buat gue yang seorang cewek."

"Gue udah berkorban banyak, elo-nya aja yang gak peka." Gumam Taksa begitu cepat seperti rapper. Di detik setelahnya, mata yang minimalis itu melebar dan merutuki mulutnya yang tidak difilter.

Dan meskipun Lea sering mendengarkan lagu Kpop dengan volume kencang, dia juga tidak tuli-tuli amat, dengan jarak yang tidak bersekat, dia bisa mendengar kalimat itu. Tapi Lea juga butuh memastikan lagi, sebab besarnya deru angin di puncak Arjuno membuat suara Taksa samar-samar di telinga. "Lo bilang apa barusan?"

"Gak bilang apa-apa! Salah denger kali! Abis balik dari sini jangan lupa ke THT!"  Wajah Taksa dibuat sedatar mungkin, padahal jiwanya tengah ketar-ketir. Mau kabur, tapi takut keliatan banget.

"Bohong! Telinga gue masih normal. Buruan ngomong!" Lea mengguncang lengan Taksa. Semakin dibiarkan semakin kencang dan memaksa. "Ayo ih ulangi ngomong apa!!"

"Apa?"

"Itu tadi lo ngomong apa?!"

"Iya apa?"

"Ck! Yang sebelum itu!"

"Apa?"

"Bukaaaaan!" Pekik Lea frustasi. "Lo ulangi kalimat yang panjang itu."

"Kalimat yang panjang itu?"

Kesal. Benar-benar kesal tiada dua. Baru saja otaknya memberi respon untuk memukul Taksa, suara berat milik Meru berhasil mencegah sisi anarkisnya.

"Dari tadi ribut mulu, awas jodoh."

"IDIHHHH AMIT-AMIT!!!" Lea repleks menjauhkan diri. Mengetuk kening untuk kemudian mengetuk pada tanah sebanyak tiga kali.

Taksa mencibir. "Dalam hati pasti amin-amin.""

"Ia jiji huek!" Perempuan itu pura-pura muntah. Sementara Meru yang niat awal ingin mengambil snack hanya tergelak melihat anjing dan kucing versi dua di Jayapala ini.

"Kita turun kapan Bang? Udah panas banget tau."

"Iya deh, si paling anti panas." Di seberang sana, meski tidak ada yang menyenggolnya, Taksa merecoki.

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang