32. Aku, Kamu dan Dia

14.1K 2.2K 859
                                        

Di ketinggian 2400 mdpl, di dalam salah satu tenda remang-remang yang terhampar di padang rumput bernama Lembah Kidang, Tesla tidak nyenyak dalam tidurnya. Hanya dalam kurun waktu sepuluh detik, gadis itu berbalik badan untuk menghadap kanan, kiri lalu berujung terlentang lagi. Dia sudah menaikan sleeping bag sampai menutupi setengah wajah, mencoba untuk terus menghangatkan tubuh agar bisa menahan sesuatu yang ingin keluar dibawah sana. Tidak dapat dipungkiri, tubuh yang grasak-grusuk itu berkali-kali menyenggol orang disampingnya hingga merasa terusik.

Menyipitkan nertanya yang terasa sepet, Renjani bertanya dengan suara parau khas bangun tidur. "Kenapa sih, La? Ada yang sakit?"

"Mau pipis." Gumam Tesla dengan kaki yang meringkuk dan wajah memelas. "Temenin yuk."

"Bukannya tadi udah?"

"Itu kan tadi. Sekarang beda sesi."

"Udah gak bisa ditahan emang?" Renjani menyisingkan lengan jaketnya untuk melihat penunjuk waktu. "Jam tiga, bentar lagi pagi."

"Aduh, Jan. Itu masih lama. Lo mau gue ngompol disini terus pagi-pagi kita berempat bau pesing?"

Mau tak mau atau sebut saja terpaksa, setelah menekan rasa malas, Renjani akhirnya duduk sambil berkata. "Yowes, ayo aku temani."

Layaknya diberi durian runtuh, senyum Tesla mengembang meski setengah sangsi karena sudah merepotkan orang lain. Tapi mau bagaimana lagi? Akan semakin repot kalau dia menahannya lagi. Setelah membuka sleeping bag dan membawa senter yang tersimpan di saku tenda, Tesla merangkak keluar. Menyusul Renjani yang sudah lebih dulu memakai sendal. Suasana gelap, sunyi dan hening menyambut keduanya. Saat mereka menengadah,  bulan sangat setengah hati untuk bersinar. Terutup kabut yang memang tidak kunjung hilang sejak sore. Meski banyak tenda dari rombongan pendaki lain, tetap saja, akibat getir hawa yang dingin tidak ada yang begadang.

"Jangan lupa permisi dulu." Pesan Renjani. Di balik semak belukar, mereka memutuskan untuk berhenti. Tidak terlalu jauh, tapi sepertinya cukup aman dan tertutup.

"Oke." Gadis bermata kucing itu mengacungkan jempolnya. "Jangan kemana-mana."

Renjani memutar badan. Waktu dimana bola matanya tidak sengaja bergulir ke arah kiri, gadis itu disuguhkan dengan sosok bermuka rata yang bersanding di samping pepohonan.

"Innalilahi." Seketika dia memejam dan menundukan kepala. Jantungnya bermain riuh. Jumpscare yang sangat tidak terduga.

"Jan, apaan?"

"Biasa."

"Nggak usah nakutin deh!" Tesla langsung panik.

"Udah nggak ada kok." Jelas pemudi itu menengok ke belakang. "Ayo buruan. Nanti---"

"Iya-iya! Ini udah!" Tesla buru-buru memotongnya. Setelah melakukan pembersihan dengan air botol yang dia bawa, Tesla segera menarik Renjani untuk angkat kaki. Pemudi yang mengekori tampak terkikik geli sambil melangkah. Yang lihat penampakan siapa, yang takutnya siapa.

Dua meter sebelum area tenda, langkah Tesla mengerem mendadak. Untung yang di belakang sigap hingga tabrakan pun terhindar. Sekonyong-komyongnya, Tesla langsung mendorong Renjani agar menjadi di posisi depan. Sementara dia bersembunyi di balik punggung dengan tangan yang berpegangan pada kedua bahunya.

"I-itu apa?" Cicit Tesla. Ibu jarinya menunjuk pada sosok jangkung yang membelakangi mereka.

Gadis yang dianugerahi keistimewaan itu menajamkan penglihatan. "Itu manusia."

"Beneran?" Tesla setengah tidak percaya. Dia menyembulkan kepalanya sedikit. Seperti ingin melihat, tapi juga takut.

"Coba kamu liat kakinya, masih napak tanah kan?"

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang