03. Malam Kehilangan

19.7K 2.6K 267
                                        

"Di depan ada pos dua, malem ini kita nge-camp disana dulu. Gimana?" Meru yang bertindak sebagai navigator atau pemandu arah memberi pilihan pada sang leader yang berjalan di belakangnya.

Sebelum menjawab, Jendral menghadap dulu ke barikade di belakang. Di bawah sinar rembulan yang dipadukan dengan sinar headlamp yang terpasang di setiap kepala anggotanya, Jendral bisa menangkap raut lelah mereka setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam lamanya.

"Bentar lagi kita nyampe." Ucap Jendral. Berusaha memberi sedikit pencerahan.

Kepala Raida terangkat. "Puncak?"

"Pos dua." Koreksi Jendral. "Ke puncak kita lanjut besok. Perjalanan malam terlalu beresiko."

Ayunan 13 pasang kaki itu terus berlanjut. Selangkah demi selangkah menghapus jarak diatas tanah yang diwarnai dengan tonjolan bebatuan. Suasana malam membuat perjalanan senyap. Padahal waktu tidak terlalu larut, sekitar pukul setengah delapan. Tapi energi untuk menciptakan kebisingan seolah berada di tahap terakhir. Hema dan Taksa yang awalnya selalu bernyanyi riang gembira, sekarang tampak fokus memperhatikan langkah adik masing-masing yang berkali-kali oleng karena pijakan yang kurang pas.

Renjani menjadi orang kesekian yang menggosokan telapak tangannya guna memberi sensasi hangat. Sambil memperhatikan langkah, sesekali dia melempar pandangan ke sekitar. Hanya ada hiruk pikuk tumbuhan yang dia lihat, tapi lain daripada perasaannya, Renjani seakan tidak nyaman. Sejak dari pos satu, langkahnya seperti diikuti oleh CCTV yang mengintainya.

Lahir dari keluarga yang mempunyai kemampuan turun temurun membuatnya kecipratan sedikit perbedaan yang tidak dimiliki oleh sebagian besar manusia lainnya. Gadis yang mengenakan bucket hat itu memperhatikan ke depan, batinnya bergumam untuk menghitung jumlah kepala.

Enam.

Lantas dia menghadap ke arah berlawanan, menghitungnya dengan dimulai dari angka satu lagi.

Tujuh.

Tambah satu dengannya, berarti delapan.

"Enam tambah delapan? Empat belas. Lebih satu." Batin Renjani.

'Kemunculannya', memang tidak menjadi hal yang gadis itu takutkan. Renjani sudah terbiasa bahkan sejak kecil dia sempat dianggap menderita gangguan mental oleh orang tuanya karena sering kedapatan berbicara seorang diri. Padahal yang Renjani lihat, dia sedang mengobrol dengan sosok anak kecil yang sampai sekarang selalu mengikutinya kemana-mana.

Apalagi di alam bebas seperti ini, bahkan sepanjang jalan Renjani dibuat senam jantung saat tiba-tiba 'mereka' menampakan diri tanpa aba-aba. Sampai-sampai sudah ada di sisinya atau diatasnya.

Tapi semoga saja, 'dia' yang kini berada di barisan paling belakang, tidak ada niatan untuk mengganggu perjalanan ini. Atau sekedar usil dengan teman-temannya. Karena Renjani juga tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa 'melihat' dan 'berkomunikasi' tanpa ada kemampuan lainnya.

"Ini pos dua guys!" Sampai instruksi Meru di depan sana berhasil menghentikan semua langkah.

Helaan nafas panjang yang melepas semua penat terdengar saling bersahutan, para kaula muda itu duduk di dekat papan yang bertuliskan angka dua, menjulurkan kaki yang pegal di lahan persegi yang cukup luas untuk menampung belasan tenda. Mereka menyandarkan punggungnya di carier masing-masing. Menegak air minum sebelum melakukan aktivitas selanjutnya.

"Jangan ngelamun, udah malem." Adinata menoel lengan Widya yang senantiasa menatap ke depan dengan kosong. "Minum dulu nih."

"Gue juga ada kok Kak." Tolak gadis yang wajahnya tampak pucat tak bergairah itu. Mati-matian mengulas senyum demi menutupi rasa sakit di perutnya yang diperas seperti cucian basah.

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang