"Lo emang suka bawa full sheet gini ya?
Shena yang tengah mengeluarkan satu set tenda pun langsung menolehkan kepala ke tempat dimana Kate duduk. "Apa?"
"Ini alat bidai."
"Itu karena aku solo hiking, jadi harus prepare dari diri sendiri. Gak ada temen yang bisa diandelin kalau sampai terjadi apa-apa."
Kate ber-oh ria sambil mengangguk setuju. Angin berhembus diantara keterdiaman itu. Shena sibuk mengeluarkan printilan-printilan tenda. Tiba akhirnya Kate tertegun satu detik setelah telinganya sayup-sayup mendengar teriakan yang saling bersahutan.
"Lo denger suara gak?"
Gadis yang ditanya itu langsung menajamkan pendengarannya. "Dari arah sana."
Buru-buru Shena memasukan ulang tendanya ke dalam carier. Dia membantu Kate berdiri dan segera membopongnya. "Kita liat. Takutnya ada yang butuh pertolongan."
Mau tak mau, meski kakinya sudah tidak bisa diajak kerja sama, Kate turut berjalan lagi. Menahan rasa sakit yang sudah bersahabat akhir-akhir ini. Mitela dan papan yang membungkus memang membuat kakinya terlindung dari kotoran luar, tapi tidak dari nyeri di bagian dalamnya. Patah tulang dan luka pendarahan bukanlah hal yang bisa disepelekan dan sembuh dengan sendirinya.
Kedua pemudi itu terus menyusuri jalan dengan senter milik Shena yang sudah meredup. Tapi satu pun tidak ada yang meminta untuk berhenti. Mereka semakin dekat dengan sumber suara, sampai mata Kate terpaku pada wajah-wajah yang juga tengah menatapnya. Cahaya salah satu senter yang menyorot wajahnya membuat dia menyerngitkan mata karena silau.
"KATE?!"
"KAK KINAR!!"
Gadis pincang itu melepas rangkulan tangan Shena dan langsung berjalan terseok-seok menuju Kinar yang juga berlari menghampirinya. Dan di titik tengah, kedua gadis yang sudah dipisahkan selama berhari-hari itu bertemu dalam satu dekapan hangat.
Kate menangis haru. Pun dengan Kinar. Meletakan wajah di ceruk leher satu sama lain dan terisak penuh kesyukuran disana.
Shena yang melihat itu juga ikut menitikan air mata. Tidak ada yang lebih indah dari sebuah harapan yang dikabulkan dengan begitu manis.
"Lo kemana aja? Kita semua khawatir sama lo." Kinar sesenggukan.
"Lo juga kenapa belum pulang?"
Kinar tidak bisa menjawab. Akan panjang jika diceritakan. Bersamaan dengan itu, teman-teman di belakang yang baru berhasil naik, perlahan menghampiri keduanya.
Renjani, Tesla dan Widya turut memeluk Kate seperti gula yang dikerubungi semut. Segala kelelahan dan puncak emosi jatuh dalam bentuk air mata bahagia. Malam ini, satu puzle berhasil melengkapi kekosongan. Setelah mereka harus mengikhlaskan satu puzle untuk berjuang sendirian.
Untuk sesaat, mereka benar-benar serasa diterbangkan ke awan. Rasa lelahnya seakan terbayarkan dengan impas. Namun rupanya, semesta mudah sekali membalikan keadaan. Kate dengan jeli melihat seseorang yang berada di gendongan Meru. Dari pakaiannya, Kate sangat mengenal dia siapa meski wajahnya tertutup sempurna dengan kain. Perasaan membuncah langsung pecah saat itu juga.
Kate berbinar bahagia. "Kalian ketemu Raida?"
Tidak ada yang menjawab. Tidak ada juga prasangka buruk di hatinya, gadis itu mendekat kearah Meru.
"Mentang-mentang kita kepisah baru semalem, lo gak kangen sama gue?"
"Heh bangun!"
Disuguhi kebisuan membuat Kate bertanya pada Meru. "Raida sakit?"
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fiksi Penggemar"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)