11. Indonesia, Keluarga dan Pertanda

14.6K 2.3K 287
                                        

"Nggak! Lo gak boleh tinggalin gue!"

"Heh Raida! Banguuuuuun."

"Gue nggak mau sendirin." Lirihnya masih terisak sambil memejamkan mata dengan rapat.

"Matanya buka dulu ajig! Liat dulu ini siapa?!" Omel Kate yang terbangun dari tidur nyenyaknya karena teriakan Raida. "Gini nih kalau tidur gak baca doa dulu, mimpi buruk kan lo?!"

Spontan mata gadis itu terbuka lebar. Nafasnya terengah kelelahan padahal dia tidak habis lomba marathon. Bulir keringat membanjiri kening sampai ke lehernya. Raida menoleh ke samping hanya untuk mendapati wajah Kate yang berkerut bingung.

Baru saja mulut Kate terbuka untuk berbicara, tiba-tiba Raida menyerangnya dengan pelukan erat sampai membuatnya susah bergerak. Kate sudah ancang-ancang untuk mengamuk tapi tertahan karena telinganya mendengar isakan yang ternyata keluar dari mulut Raida. Pemudi itu tidak tahu seburuk apa mimp Raida hingga menyebabkannya menangis, tapi dia tidak akan bertanya sekarang, karena sepertinya yang Raida butuhkan adalah ketenangan.

"Gue disini. Semua akan baik-baik aja." Kate turut membalas pelukan hangat itu.

Setelah dirasa tenang, Raida menjauhkan tubuh. Dia menggosok hidungnya yang ileran dan memerah bekas menangis. "Gue mimpi lo ninggalin gue selamanya."

"Cuma mimpi, gak usah terlalu dipikirin." Kate mengangkat bahunya sedetik. "Buktinya sekarang, im totally fine."

"Tapi mimpinya kayak nyata banget, Ket. Lokasinya juga sama kayak yang lagi kita tempati sekarang." Raida masih terbayang-bayang.

"Itu cuman bunga tidur." Kate mencoba menenangkan. Memegangi pundak Raida yang tampak lemas tak bertenaga. "Lagian mimpi buruk itu gak selamanya berarti buruk. Kata orang, kalau mimpiin orang meninggal itu artinya dia bakal berumur panjang."

Kate memutar posisi Raida agar saling berhadapan. "Sekarang, tenangin diri lo. Tarik nafas, tahan sebentar lalu keluarin pelan-pelan."

Mahasiswi Ilmu Komunikasi itu menuruti perintah saudaranya. Sambil memejam, dia mencoba merileksasikan pikirannya yang sudah penuh oleh bayangan yang tidak-tidak. Dia juga berharap, semoga mimpi itu tetap menjadi mimpi. Tidak akan tergariskan untuk terjadi dalam hidupnya. Meski dia tahu, jika semua manusia sudah memiliki kalendernya untuk pergi dan kehilangan. Namun jika boleh dia meminta, tolong jangan secepat itu.

Sekali lagi, Raida menghela nafas sampai dadanya terasa kosong dari sesak. Saat mata itu terbuka, dia langsung meringis karena melihat Kate tengah membenarkan balutan slayer orange di lukanya. Bahkan untuk sekedar warna slayer saja sama persis seperti di mimpi.

"Kaki lo kayaknya harus di amputasi."

"Gak papa asal kita cepet pulang." Kate tidak berbohong saat mengatakan itu. Dalam benaknya, akan jauh lebih menyeramkan jika mereka terjebak lebih lama lagi disini dibandingkan dengan dia yang harus kehilangan separuh kakinya.

Sebab Kate tidak tahu sampai kapan mereka akan terus bertahan di tengah keadaan yang tidak menjanjikan ini. Cuaca yang sulit ditebak, ketahanan tubuh yang semakin hari semakin menurun juga menjadi ancaman yang bisa merenggutnya kapan saja. Asupan makanan dan minuman yang semakin sulit didapat sungguh menyiksanya secara perlahan.

"Nanti lo gak bisa turun ke jalan lagi. Lo gak bisa menyampaikan aspirasi lagi ke pemerintah. Itu gimana?"

"Untuk menyampaikan aspirasi gak harus basah keringat, gak harus juga panas-panasan di jalan. Masih banyak jalan lain. Lewat sosial media masih bisa."

Seketika Raida tertawa seperti meledek. "Lo pernah nyesel gak sih  jadi anak Indonesia?" Sebab di pukul tiga dini hari, rata-rata obrolan memang suka semakin mendalam.

JENGGALA [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang