Semarang, 18 Agustus 2020
Selepas solat duhur, anak gadis itu baru menampakan wujudnya dari balik pintu kamar. Lea menuruni undakan tangga dengan sepasang kaki yang tidak mengenakan sendal. Satu persatu hingga telapaknya menyentuh lantai dasar.
Di kursi ruang tengah, pemudi berkuncir kuda itu mendapati Zidane--sang kakak--yang tengah terbaring tak berdaya. Ada salonpas yang menempel di kedua pelipis serta vicks inhaler yang dicolakan ke lubang hidung dan mulut yang menganga lebar. Sungguh malang nasibnya. Separah itukah damfak revisian skripsi?
"Dasar jorok!" Hardiknya pelan, lantas melanjutkan langkah untuk menuju dapur. Sebab mendekam di kamar juga butuh asupan makan, meskipun kerjaannya hanya menamatkan serial drama korea.
Ting nong!
Baru saja tangannya hendak membuka tutup saji untuk mengambil lauk pauk, suara bel pintu di depan rumah berbunyi. Tanda jika ada tamu yang berkunjung.
Ingat jika sang ibu sedang pergi pengajian dan Zidane tidak bisa diandalkan, maka dia memutuskan untuk tidak keluar membukanya. Rasanya terlalu malas berhadapan dengan tamu disaat orang tua sedang tidak ada. Jadi lebih baik dia mendekam saja seolah tidak ada siapa-siapa di rumah ini.
Ting nong!
Ting nong!
"LEAAAAA!!!"
Bocah itu praktis mendengus. Padahal tinggal sedikit lagi, Lea bisa menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Tapi suara Zidane menggelengar memanggil namanya.
"LEAAAAA!!" Sekali lagi, kali ini lebih ngegas dari sebelumnya.
"APA?????!!!!" Jelas Lea tidak mau kalah. Energi ke-ngegas-sannya jauh setingkat dari punya Zidane. Bahkan saat dia sudah ada di samping kakaknya, Lea masih bersungut-sungut kesal. "Apa sih Mas?!"
"Kamu gak denger diluar ada tamu?!" Misuh Zidane yang kusut. "Temuin gih!"
"Mas aja sana! Aku mau makan."
Meski dalam keadaan pening dan kepala berat sebelah, Zidane duduk dengan nelangsa. "Kamu gak liat Mas lagi sakit gini? Tolonglah kerjasamanya."
"Ih drama!" Lea memutar bola mata malas. Meski diliputi iri dan dengki, dia pergi dengan menghentakan kakinya kesal. Menghampiri tamu yang tidak diharapkan kedatangannya.
Klek!
Pintu berwarna coklat itu terbuka. Seorang perempuan berpostur tiang langsung sedikit membungkukan badannya seperti gestur penghormatan. Berungtung Lea yang anak teater dengan mudah mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih ramah dengan senyuman manis.
"Assalamualaikum, Mbak."
"Waalikumsalam, loh Fin? Ada apa? Tumben kesini gak bilang-bilang?"
Elfina Latifha--adik tingkat di organisasi MAPALAnya--itu langsung menjelaskan. "Iya ni Mbak, maaf sebelumnya, aku mau minjem kunci sekre. Ada di Mbak kan?"
"Bukannya Elkan juga megang? Perasaan ada duplikatnya."
"Kemarin Elkan berangkat mudik. Tadinya mau dikasih ke aku, tapi kelupaan." Terang Fina. "Sebentar kok Mbak, aku mau ngambil jaket yang ketinggalan."
"Oalah," Lea mengangguk paham dengan senyum simpul. "Aku ambil dulu, tunggu sebentar yo."
"Monggo Mbak."
Tak butuh waktu lama untuk Lea kembali. Dia segera menyerahkan kunci yang diberi gantungan buah cherry itu kepada tangan Fina yang lembut.
"Matur suwun, Mbak. Nanti dikembaliin lagi," ucap Fina sopan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENGGALA [Sudah Terbit]
Fanfiction"Ketidaktahuan lebih mematikan daripada kematian itu sendiri." ****** Di tanah sakral Jawa, Satu puncak, Tiga cinta, Empat kesalahan. Alam, manusia dan malapetaka. Yang hilang lekas bergabung, yang pulang lekas tenang.
![JENGGALA [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/310091740-64-k797087.jpg)